Jumat, 25 September 2020

Tidak sadar Bila Kamu Orang Yang Kritis ? Cek Tandanya Yuk



Dulu saya pikir saya bukan orang yang kritis. Dalam pemikiran saya orang kritis itu selalu vokal untuk menanggapi informasi yang aktual sementara saya seperti membatasi diri sendiri cukup hanya dengan tahu saja informasi terupdate itu, tapi jarang atau bahkan hampir tidak pernah walaupun sesekali memberikan tanggapan dengan informasi yang tengah ramai di perbincangkan oleh semua orang.

Namun setelah mengoogling untuk mencari tahu sebenarnya orang kritis itu seperti apa sih ?, saya justru mendapati informasi yang mengejutkan dan  saya baru tahu bila saya termasuk orang yang kritis juga loh sebenarnya.

Nah tulisan berikut sedikit saya sadur ulang dari website idn times tentang 5 tanda orang yang berfikir kritis, yang menurut saya dapat dijadikan sebagai indikator untuk menilai diri kita termasuk orang yang kritis atau tidak, yaitu :

1. Kamu senang mempertanyakan berbagai hal yang belum jelas kebenarannya

Hal ini terjadi bila ada sebuah berita, tayangan atau postingan di social media yang kemudian menjadi viral dan kita termasuk orang yang kepo dengan kejadian sebenarnya, punya banyak sekali pertanyaan dan sibuk mencari tahu keberbagai media serta senang juga mendiskusikan dengan banyak orang yang tertarik dengan hal yang sama.

Untuk pernyataan pertama ini bukan saya sekali, saya sering kali justru yang tahu berita viral tapi kalau tidak menarik perhatian saya atau menurut pemikiran saya nggak penting saya nggak akan kepo sama sekali karena menurut saya berita viral sering kali menghabiskan energi dan waktu kita untuk di cari tahu ataupun dibahas.

Jadi yah saya senang mempertanyakan hal-hal hanya yang menarik dalam pandangan saya saja, yang tidak menarik saya justru bodo amat, sampai suatu ketika saya rasa saya harus tahu barulah memperjelas kebenarannya.

2. Kamu terbuka terhadap hal-hal baru tanpa menghakimi sesuatu yang belum kamu teliti sendiri

Menjadi orang kritis berarti mempunyai pemikiran yang luas yang terbuka beranggapan tidak ada hal yang tak mungkin di dunia ini sehingga bila ada sesuatu yang baru justru penasaran mencari tahu bukan segera melakukan penghakiman tapi lebih senang mengumpulkan informasi untuk di saring terlebih dahulu sebelum dicerna untuk bisa diterima oleh pemikirannya.

Nah pernyataan kedua bisa saya katakan ini saya banget, entah mengapa saya paling tidak suka memberikan label kepada orang lain apalagi kepada orag yang baru saya kenal, buat saya semua orang punya dua sisi kepribadian dan kemungkinan kita mendapati orang dengan kepribadian yang tidak baik saat kita temui itu suatu hal yang mungkin saja.

Sebelum kita memberi penghakiman kepada orang lain atau kepada sesuatu hal lebih baik kita kenali lebih jauh terlebih dahulu seperti kita hendak membeli barang teliti dulu. 

3. Kamu tidak mudah termakan isu-isu disekitarmu tanpa melihat langsung atau bertanya pada yang bersangkutan

Tidak mudah percaya dengan berita di media apalagi isu-isu yang beredar dari mulut-mulut sebagai gosip atau kabar burung, senangnya bila kenal dengan yang bersangkutan langsung menanyakan tapiii sangat berempati dan tidak ingin memaksa tahu bila itu berhubungan dengan privasi.

Dipoint ini juga saya merasa iya banget deh, paling tidak suka dengan orang atau sesuatu hal yang baru menjadi isu-isu apalagi jadi penyebar isu yang belum pasti kebenarannya karena zaman sekarang banyak sekali orang yang terlalu ingin tahu sampai sok tahu seperti berharap bisa menjadi orang yang tidak ketinggalan berita.

Padahal kalau menurut saya orang yang mudah termakan isu-isu itu justru orang yang punya ketakutan sekali bila ternyata isu-isu yang beredar itu adalah tentang dirinya. Iya nggak sih ?

4. Kamu bukan penikmat akun gosip dan lebih menyukai hal-hal berbau fakta aktual

Sangat menyadari bila gosip yang ada di akun gosip itu di gosok akan makin sip, jadi bila mengetahui sesuatu dari akun gosip itu hanya sebagai hiburan semata saja tak dianggap sama sekali sebagai informasi yang valid tidak seperti akun berita yang lebih mempunyai nilai dan seringnya malah ketinggalan gosip yang sedang ramai.

Dipernyataan ini agak saya sih tapi tidak sepenuhnya juga, disatu sisi saya seneng buka-buka akun gosip tapi nggak ada satupun saya follow akun gosip jadi nggak terpaku harus tahu sekali dengan gosip terbaru.

Untuk tahu kalau sempat saja saya mampir ke akun gosip tersebut, jadi yah saya nggak harus sekali menikmati akun gosip setiap hari, tapi saya nggak pernah ketinggalan gosip yang tengah ramai di bahas oleh orang-orang.

5. Kamu selalu memikirkan akibat dari tindakanmu, sebelum melakukannya

Tidak dengan mudah membagikan informasi, kerap kali banyak berfikir sebelum menyebarkan sebuah postingan di sosial media karena ingin lebih memberikan dampak positif atau adanya manfaat bagi yang menerima.

Pernyataan terakhir ini saya sekali, tidak mau sekali melakukan sesuatu untuk kesia-sia-an kalau bisa memberikan manfaat untuk orang lain dan tidak ingin sekali karena sebuah tindakan saya justru jadi merugikan atau menyakiti orang lain.

Dengan pemikiran kita mungkin bisa dengan mudah meminta maaf kepada orang lain karena kesalahan kita tapi seumur hidup kita akan ingat kita pernah menyakiti orang tersebut. Makanya penting banget untuk mikir 1000 kali sebelum bertindak.


Dari kelima tanda tersebut, tidak semuanya memang ada dalam diri saya ada pernyataan yang memang saya rasakan itu saya sekali jadi menurut saya yah bisalah saya dikatakan orang yang kritis tapi tingkatannya tidak sampai yang benar-benar kritis sekali.

Seharusnya orang kritis tidak memilih pada perihal tertentu saja tapi yah semua hal di kritisi olehnya dan harapan saya sih saya terus mengasah cara pikir kritis saya ini karena semakin lama semakin banyak berita-berita hoax jadi penting sekali untuk kita bisa berpikir kritis agar tidak mudah menjadi korban hoax tersebut.

Namun jangan lupa juga yah menjadi orang kritis itu juga harus bermanfaat bukan yang kritis tapi jadi blunder sama pemikiran sendiri. Kalau dari kelima tanda orang kritis tersebut kamu gimana ? ada tanda-tanda juga kamu sebagai orang yang kritis kah ?












Senin, 21 September 2020

Bila Tidak Ada Toleransi Di Masa Pandemik



Secara pribadi bulan september ini terasa berat untuk saya lalui, terlebih dengan angka korban baru yang terjangkit covid-19 yang masih terus naik, kekhawatiran saya pun bertambah karena sekarang korban-korban baru tersebut dekat sekali dengan saya.

Salah satunya adalah keluarga dari teman saya dikantor. Sekitar 2 minggu lalu saya dikabari olehnya bila kedua orang tuanya dan seorang adiknya yang tinggal di luar kota Jakarta dinyatakan positive covid-19 setelah menjalani pemeriksaan test swab.

Walaupun saya tidak mengenal keluarganya secara personal namun kedekatan hubungan kami dikantor selama ini membuat saya merasakan kesedihan yang mendalam juga untuknya, jadi seperti saya juga merasakan ketakutan kehilangan keluarga sendiri karena covid-19 ini.

Diceritakan oleh teman saya bilamana awal mulanya kedua orang tuanya sakit itu di diagnosis dengan sakit DBD, saya pun waktu itu tidak terlalu khawatir karena yakin kedua orang tuanya akan segera sembuh dengan penanganan yang baik karena mereka pun sudah dirawat di rumah sakit.

Namun karena masa pandemik ini semua orang sakit, apapun jenis sakitnya diharuskan melakukan swab test barulah diketahui kemudian bila hasilnya positive covid-19 dan karena adiknya teman saya juga tinggal serumah dengan kedua orang tuanya itu, maka ia pun kemudian di swab test juga walaupun tidak sakit dan tidak ada gejala.

Minggu kemarin tepat dua minggu lalu pertama kali teman saya memberi kabar bila kedua orang tuanya positive covid-19 dan ia pun memberikan kabar yang lagi-lagi bikin dada saya nyesek karena ternyata papanya telah tiada, walaupun untungnya bukan karena covid-19 tapi karena pneumonia yang sudah tak tertolong lagi.

Ia bilang bersyukur walaupun akhirnya papa harus cepat sekali kembali kepada sang khalik namun ia bisa memandikan dan bisa menguburkannya, melakukan bakti terakhirnya sebagai seorang anak kepada orang tua dan bersyukur sekali bila kemudian masih bisa melakukan jiarah sesering ia mampu.

Namun tetap saja kehilangan seorang yang kita cintai disaat kondisi dunia sedang tidak sehat ini, rasanya teramat berat dan pikiran pun selalu berandai-andai...

Di Jakarta pada bulan September ini muncul cluster baru untuk penularan covid-19 ini yaitu cluster keluarga dan cluster kantor, sehingga pak Anies Baswedan selaku Gubernur memberlakukan kembali psbb yang telah dimulai dari tanggal 14-25 September 2020 untuk mengurangi tingkat korban baru.

Selain itu juga adanya pelarangan isolasi mandiri dirumah, jadi bila kita melakukan swab test dan dinyatakan positive covid-19 kita diwajibkan untuk melakukan isolasi di tempat yang telah di tentukan pemerintah walaupun kita adalah orang tanpa gejala (otg).

Sejak bulan maret lalu memang terasa sekali beratnya menjalani hari-hari di tahun ini, setengah tahun sudah kita hidup dalam ketakutan dan masih belum tahu pasti kapan virus corona ini akan segera pergi dari bumi dan kita bisa menjalani kehidupan dengan normal kembali.

Sebagian orang yang sudah teramat sangat bosan dengan masa karantina menyambut dengan suka cita karena sekitar bulan juni akhirnya pemerintah jakarta mulai melonggarkan aturan sehingga warganya sudah mulai bisa kembali beraktivitas diluar rumah, berjalan-jalan ke gunung dan ke pantai atau ke mall yang menjadi tempat hiburan warga jakarta juga mulai dibuka kembali.

Namun itu sepertinya hanya kesenangan sesaat, karena tidak disertai dengan disiplin untuk mematuhi aturan-aturan yang telah di tetapkan dan dengan tidak disiplinnnya masyarakat menurut saya hilanglah sudah tolerasinya.

Kita semua berharap virus corona ini bisa dikendalikan penyebarannya agar tidak terus meluas dan memakan lebih banyak korban baru yang terinfeksi, tapi diri kita melupakan toleransi yang harusnya dapat membantu menyelamatkan lebih banyak lagi nyawa orang lain dengan disiplin menghadapi covid-19 ini.

Selama masa pandemik ini saya jadi melihat lagi arti baru dari kata toleransi, bila dulu selalu terakit dengan keragaman beragama saat ini toleransi juga harus kita sisipkan lagi pada diri kita untuk bisa menahan diri dan sabar menghadapi masa pandemik ini.

Masa pandemik yang menurut saya merupakan ujian bersama, hanya bisa dilalui juga bersama-sama yaitu dengan meningkatkan tolerasi kita pada sesama, jangan lagi keluar rumah bila tidak penting sekali, jangan lagi beralasan malas memakai masker ketika keluar rumah karena tidak nyaman dan bikin sesak nafas, tahan dulu untuk tidak berkumpul dan nongkrong dan selalu menjaga jarak aman kepada siapapun dan karena itu jangan mudah tersinggung juga bila orang lain tak ingin terlalu dekat dengan kita.

Yuk sama-sama memupuk kembali tolerasi dalam diri kita untuk menghadapi masa pandemik ini, hanya dengan tolerasi tinggi antar sesama kita yang dapat menyelamatkan kita semua, kita mampu mencukupkan hanya di tahun 2020 saja kita kehilangan banyak waktu berharga untuk berkarya, bekerja, ataupun belajar.




Minggu, 20 September 2020

Virtual Traveling Yang Bikin Nagih Bersama Wisata Kreatif Jakarta


Kalau saat ini kamu sudah bertahan selama 6 bulan terus menerus berada di rumah sama halnya dengan saya yang karena itu sudah bosan sekali dan ingin keluar dari dirumah untuk pergi jalan-jalan atau tepatnya berwisata.

Namun apalah daya virus corona masih betah di negara kita ini, apalagi secara resmi sudah seminggu ini Jakarta kembali memberlakukan PSBB hingga tanggal 25 september 2020 nanti, terpaksa mengurungkan niat lagi untuk bisa menyegarkan pikiran dengan keluar rumah.

Demi membunuh rasa bosan karena sudah ingin sekali jalan-jalan itulah akhirnya malam minggu kemarin (19/9) saya ikut serta jalan-jalan virtual yang di selenggarakan oleh Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB) bersama dengan Wisata Kreatif jakarta. Tidak tanggung-tanggung loh kami jalan-jalannya jauh, melintasi negara lain, walau masih di Asia juga.. kami berwisata secara virtual ke Korea.



Sebelum saya cerita tentang jalan-jalan kami yang seru sekali karena di ikuti oleh lebih dari 30 orang, kita kenalan dulu dengan Wisata Kreatif Jakarta yang mengajak saya dan teman-teman ke negri gingseng secara virtual.


Virtual Traveling Bersama Wisata Kreatif Jakarta (WKJ)

Virtual traveling adalah wisata lewat dunia maya yang dapat di akses dengan perangkat komputer ataupun ponsel menggunakan aplikasi zoom. Virtual Traveling ini dimulai pertama kali pada 1 mei 2020 oleh teman-teman dari Wisata Kreatif Jakarta. Mereka adalah para pemandu wisata bersertifikat yang akan membawa kita berwisata disertai dengan banyak cerita dan penjelasan yang interaktif dan menyenangkan.



Virtual Traveling yang berdurasi selama 90 menit sekali pertemuan ini banyak sekali pilihannya, diantaranya adalah wisata rute jabodetabek dan nusantara seharga 35 ribu rupiah ada juga wisata mancanegera seharga 50 ribu rupiah. Untuk waktu wisata virtual jadwal reguler ada di hari selasa dan kamis jam 7 malam, hari jumat jam 4 sore, sabtu jam 7 malam dan minggu jam 10 pagi serta 4 sore.

Salah satu tujuan team Wisata Kreatif Jakarta (WKJ) mengadakan virtual traveling selama masa pandemik ini adalah untuk tetap membangkitkan dunia wisata baik itu di Indonesia maupun itu di mancanegara.


Virtual Traveling Ke Korea

Tepat jam 7 malam jalan-jalan kami ke korea dimulai, malam itu jalan-jalan dipandu oleh mba Ira Latief (@creative_traveler) salah satu dari tim WKJ. Seperti halnya bila kita wisata di dunia nyata yah, wisata virtual pun ada itenarary-nya juga. Sebelum itu kita juga di ajak mengenal dan merasakan seperti berada di Bandara Incheon.



Terdapat 8 tempat yang akan kami kunjungi bersama-sama yang semuanya adalah favorit spot untuk wisatawan dari Indonesia. Mulai dari Gyeongbok Palace, Cheong Stream, Hanok Village, Gangnam, Myeongdong Street, Dongdaemun, Seoul Tower hingga Nami Island.



Kalau kamu seperti saya yang melihat pergantian pengawal istana saja sudah happy sekali harus banget berkunjung ke Gyeongbok Palace ini, terjadwal yah acara rutin ini cuma ada di jam 10 pagi sama jam 3 sore dan serunya dari mba Ira di puterkan juga videonya, baru lihat videonya saja sudah merasa beneran lagi di korea loh saya, hahaha... halu tingkat dewa sudah dimulai.

Yang sering nonton drama korea pasti tahu yah ada kali atau sungai di korea yang bersih banget saking bersihnya airnya pun jernih dan dijadikan tempat wisat untuk penduduk lokalnya, apalagi kalau malam hari tempatnya jadi cantik banget dengan hiasan lampu-lampu, nah wilayah ini bernama Cheong Stream.



Informasi dari mba Ira kalau kawasan Cheong Stream juga di tiru di Indonesia tepatnya di Jakarta, tahu nggak dimana ? kalau kamu menjawab Wisata Kota Tua, tepat sekali. Jadi ceritanya ketika Ahok masih menjabat sebagai Gubernur di Jakarta beberapa tahun lalu dan ada kunjungan dinas ke Korea, Ia pun terkesan sekali dan mewujudkannya di Wisata Kota Tua. 

Dari kota kita jalan-jalan juga dong ke kampung yang ada di korea yaitu Hanok Village, tapi kampung disana bukan sembarang kampung yah, hanya desain perumahan pernduduknya saja yang masih terjaga keasliannya jadi kita akan merasa seperti berada di korea pada masa lampau. Ditempat ini malah mengingatkan saya seperti di Desa Penglipuran Bali.



Kampungnya selain rapi juga instagramable, cocok deh buat foto-foto. Apalagi disini juga banyak yang menyediakan penyewaan baju tradisional korea alias hanbok, jadi kita bisa muter-muter berkeliling disini dan sekalian foto-foto.

Bila kita berminat kita pun bisa menginap di salah satu rumah yang ada di kampung tersebut, bisa cari penginapannya di aplikasi airbnb. Penginapan disini sudah mengikuti standarisasi juga yah jadi tidak perlu khawatir tentang kenyaman maupun keamanannya.

Perjalanan dilanjutkan ke kawasan perbelanjaan branded dan tempat nongkrong favoritnya orang-orang kaya di korea atau yang dikenal dengan nama Gangnam District, saya sih langsung inget dengan lagu gangnam style yang beberapa tahun booming dibawakan oleh oppa PSY. Nah karena lagunya itulah daerah gangnam menjadi semakin populer di seluruh dunia.

Daerah Gangnam ini juga terkenal dengan banyaknya gedung-gedung agensi yang menaungi artis-artis baik itu penyanyi kpop ataupun aktris dan aktor drama korea, yang senang foto-foto dengan poster artis-artis tersebut disinilah tempatnya. 




Tempat favorit saya salam virtual traveling ini adalah di Myeongdong Street, ini adalah pusat perbelanjaan untuk make up dan skin care dari korea, sebut saja merk nature republic, the saem hingga etude dan lain sebagainya.

Dulu teman saya yang pulang jalan-jalan dari Korea memberitahu bila disana masker-masker dibagikan gratis bila kita masuk ke tokonya dan ternyata hal tersebut di benarkan oleh mba Ira, jadi kalau kita mau bawa oleh-oleh banyak dan nggak modal, tipsnya kita keluar masuk saja semua toko yang ada di Myeongdong Street ini, hasilnya walau kaki gempor tapi lumayan jadi irit buat beli oleh-oleh yah.

Masih tempat belanja juga kita diajak mampir Dongdaemun yang disalah satu gedungnya ada tempat belanja kalau nggak salah ingat di lantai 5 di salah satu gedung tersebut ada penjual-penjual sovenir yang fasih berbahasa indonesia, jadi kalau mau memborong yah disinilah tempatnya, karena komunikasi bisa lebih lancar.

Tempat terakhir yang dikunjungi di Seoul adalah Namsan Seoul Tower ituloh menara yang terkenal karena ada gembok cinta dan kerap kali dijadikan tempat untuk syuting drama korea, salah satu favorit saya yaitu my love from the stars.


Dan sebagai tempat penutup melengkapi kunjungan ke Korea yaitu Nami Island. Sebuah pulau kecil  yang memakan waktu sekitar 2 jam perjalanan dari Seoul. Nami islan ini berada di dalam danau Cheongpyeong dan butuh waktu sekitar 15 menit untuk tiba disana dengan kapal fery.

Nami island juga terkenal sebagai tempat syuting drama korea Winter Sonata hingga di abadikan dengan patung para pemainnya. Selain itu tempat ini juga selalu indah kapanpun musimnya kita datang kesini.

Jangan heran yah kenapa disini selalu ramai dengan wisatawan baik itu yang lokal maupun yang dari luar negri, tipsnya kalau foto-foto disini dalam kondisi seperti foto dibawah ini, datang pagi sekali kesini dan satu-satunya cara adalah menginap di resort yang ada disini.




Ketagihan Virtual Traveling

Bahagianya zaman sekarang yah ada teknologi yang sudah mendukung virtual traveling jadi kita benar-benar bisa melihat secara langsung terbantu dengan media 360 dan google maps jadi bukan hanya presentasi dengan gambar-gambar saja yang juga bisa kita lihat sendiri dengan googling.

Walaupun tetap yah ada kekurangan dari virtual traveling kita tidak bisa merasakan suasana korea yang sebenar-benarnya atau bertemu dengan penduduk lokalnya juga. Namun senangnya mba Ira sebagai pemandu sangat interaktif, aktif dan jelas sekali menginformasikannya. 

Ketagihan deh saya jadinya ikutan Virtual Traveling ini, sampai cerita-cerita ke teman-teman kantor supaya kita bisa tetap traveling tahun ini tapi dari rumah masing-masing saja dan mereka pun juga jadi penasaran, sampai ada yang kepo ingin virtual traveling ke mekah dan madinah dan itu juga di sediakan ternyata sama teman-teman Wisata Kreatif Jakarta.

Semoga lain waktu ada kesempatan untuk benar-benar berkunjung ke Korea, oiya teman-teman sudah ada yang mencoba virtual travelling ini ? kalau belum yuk kepoin ig-nya Wisata Kreatif Jakarta dan ikutan salah satu virtual travellingnya dan ceritain keseruannya di kolom komentar dibawah yah



Jumat, 18 September 2020

Staycation Di Sheraton Grand Hotel Gandaria City


Akhirnya di masa pandemik ini pada hari minggu lalu, 6 September 2020 saya dan paksu memberanikan diri untuk mengajak anak-anak kami Zaidan dan Zeanissa staycation di sebuah hotel namun tetap didalam kota Jakarta saja, yaitu di Sheraton Grand Hotel Gandaria City.

Kenapa memilih hotel ini ? Alasan utamanya karena hotelnya menjalankan protokol covid19 dengan ketat, jadi saya merasa nyaman dan aman membawa keluarga yang ada anak-anak juga. Jawaban lainnya sederhana saja karena saya mendapatkan harga yang cocok banget untuk menginap semalam di hotel bintang 5 ini dan harganya itu kurang dari sejuta dan sudah termasuk sarapan untuk 2 orang dewasa.

Minggu sore sekitar jam 4 kami sudah tiba, sebenarnya check in sudah bisa dilakukan mulai dari jam 2 siang namun karena harus mampir ke sebuah toko untuk membeli pelampung renang buat Zaidan terlebih dahulu jadi kami agak terlambat untuk check in.


Kendala lainnya karena ini kedatangan pertama kali kami ke Sheraton Grand Hotel Gandaria City jadi masih bingung dengan lokasi parkirnya yang diketahui kemudian menyatu dengan Mall Gandaria City dan Gandaria 8 Office Tower. Ternyata parkir khusus hotel berada di area B2, sehingga kita bisa masuk langsung ke hotelnya tanpa harus masuk ke mall terlebih dahulu.


Review Area Lobby

Sambil menunggu saya melakukan proses check in, paksu dan kedua anak saya berkeliling di lobby. Memasuki area lobby Sheraton Grand Hotel Gandaria City sudah berkesan karena sangat luas sekali. Terdapat 3 buah meja penerima tamu disebelah kiri pintu masuk lalu di bagian tengah terdapat kumpulan sofa-sofa empuk tempat kita bisa menunggu proses check in ataupun check out, sementara di bagian kanan terdapat lounge dan ruang meeting.



Sesuai dengan permintaan saya, petugas reception memberikan kamar di lantai atas, yaitu lantai 17 dan tepatnya kami mendapatkan kamar nomor 1721. Sebelumnya dari mba reception juga menginformasikan bila semua kamar di Sheraton Grand Hotel Gandaria City terdapat bath tub termasuk jenis kamar type deluxe yang kami tempati.



Wuhuuu, zaidan so happy karena sudah lama tidak berendam air hangat.

Di tengah kondisi corona ini, seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya Sheraton Grand Hotel Gandaria City juga memberlakukan protokol kesehatan yang ketat seperti untuk setiap lift hanya diperbolehkan untuk memuat maksimal 4 orang atau satu keluarga, menyediakan handsanitizer di banyak titik hotel, seluruh petugas menggunakan masker dan face shield dan masih banyak lagi yang membuat pengunjung merasa tetap nyaman dan aman.


Review Kamar

Sama halnya dalam menggunakan lift untuk membuka pintu kamar kita diharuskan melakukan taping dengan kartu, begitu masuk ruangan kamar sudah dingin karen ac sudah dinyalakan sebelumnya oleh petugas dan saya suka sekali pelayanan sederhana seperti ini.

Pada bagian foyer ini terdapat lemari dengan tiga buah pintu yang berisikan setrikaan dan alasnya, terdapat sebuah bath rob dan 2 buah sandal hotel serta sebuah safety box ukuran kecil. Disamping lemari terdapat meja untuk menaruh tas dan koper juga terdapat laci yang kami gunakan untuk menyimpang sandal dan sepatu.







Lalu dari area foyer terlihat ruang kamar yang luas dengan tempat tidur berukuran king size dilengkapi empat buah bantal diatas kasur yang sangat empuk. Terdapat sebuah televisi berukuran cukup besar dengan saluran tv kabel, yang berhadapan dengan tempat tidur yang saya tidak suka ketinggiannya karena ada kejadian kurang menyenangkan pada malam hari, Zeanissa sempat terjatuh karena paksu lalai untungnya adalah disekitar area bawah tempat tidur terlapisi memakai karpet yang cukup tebal.










Memasuki area kamar mandi yang juga luas ini di dalamnya terdapat bathtub, lalu ada bilik tempat mandi dengan 2 jenis shower dan tersekat terpisah dengan toilet duduk dan yang membuat saya senang karena di dalam toilet di tempat tisu gulungnya dibuatkan tempat kecil agar kita bisa menaruh hp, cocok kan buat yang suka main hp ketika lagi pup atau pipis. xixixi.








Tepat di samping bath tub terdapat kaca besar dengan tirai yang dapat di naik turunkan secara otomatis, ini design favorit saya karena Zaidan senang sekali berendam tapi sering kali takut sendirian di kamar mandi dan saya juga bisa mengawasinya tanpa perlu harus bolak balik masuk ke area kamar mandi selain itu Zaidan juga bisa tetap menonton acara tv kesukaannya dari tv yang ada di depan tempat tidur.




Disebelahnya terdapat mini bar, beisikan beraneka makanan dan minuman ringan, serta teko dan gelas dan juga complimentary product sesuai standar, teh, kopi dan gula. Oh ya didalam kamar juga terdapat meja kerja di pojok kiri sementara di pojok kanan ada sebuah sofa dan meja kecil.







Review Restoran

Keesokan pagi ketika waktu sarapan kami baru turun sekitar jam 8 ke Restoran Anigre yang berada dilantai UG karena menunggu zaidan bangun tidur dulu. Ternyata sarapan disajikan ala carte bukan prasmanan, mungkin karena weekdays dan tamu hotel tidak terlalu banyak. Saat kami datang hanya ada satu rombongan keluarga cukup besar sekitar 10 orang.

Tempat breakfast ini cukup luas areanya, terdapat banyak tempat pilihan tempat duduk juga, designnya juga simple dan yang saya suka terang sekali tempatnya, mungkin karena pencahayaan yang datang dari kaca-kaca besar dengan gorden tipisnya.

Sarapan dengan penyajian ala carte memang tidak sesuai harapan sih dan suami saya sudah manyun saja karena pasti pilihannya hanya beberapa saja, namun ternyata diluar ekspektasi pilihan sarapan sangat banyak sekali.dan saya senang sekali dengan semua pelayan restoran, sangat ramah, membantu memilihkan dan menjelaskan menu serta merekomendasikan menu sesuai dengan selera kami.





Pagi itu saya memesan nasi goreng archipelago, paksu memesan nasi kebuli, zaidan mie goreng dan cereal, Zeanissa saya pesankan aneka roti dan buah serta sajian omelette egg set. Hidangan pertama yang datang milik zaidan yaitu mie goreng, sesuai pesanan sih tidak pedas tapi ternyata rasanya pun hambar jadi biasanya zaidan lahap sekali makan mie goreng jadi tidak dihabiskan.






Yang menjadi favorit saya dan pak suami adalah nasi kebuli, ini enak sekali rempahnya terasa tapi tidak kuat sekali, mantap deh untuk menu sarapan pagi. Sementara untuk nasi goreng archipelago juga tidak sesuai dengan selera saya karena terlalu manis dan kurang berbumbu jadi saya tukeran sarapan dengan paksu.

Sementara Zeanissa dengan lahap dan bahagia menghabiskan omelette egg set yang disajikan dengan sayuran mentah, 2 buah sosis yaitu sosis sapi dan ayam dan smoked beef, ini juga the best sekali karena bisa jadi finger food buat Zeanissa. kecuali sausnya yah, yang memakan ayahnya.

Di resto juga tersedia beberapa baby chair tapi maaf yah nggak ada fotonya untuk restoran ini karena ribet makan tapi juga harus memperhatikan anak-anak yang sedang makan.


Review Kolam Renang

Kegiatan kami setelah selesai sarapan adalah pergi berenang di kolam renang yang berada di lantai 6 selantai dengan tempat fitness. Area kolam renang cukup luas, terdapat 2 pool besar, sebuah khusus dewasa dengan kedalaman 1.2 m dan kolam dangkal khusus untuk anak-anak.





Dipinggir kolam terdapat banyak kursi malas untuk berjemur dan juga terdapat beberapa shower untuk bilas. Begitu memasuki area kolam renang petugas lifeguard langsung memberikan handuk bersih berwarna biru sesuai dengan permintaan kami.





Cukup lama kami berada di area kolam renang ini seperti membayar waktu setengah tahun tidak ketemu dengan kolam renang, terutama untuk zaidan yang biasanya hampir setiap bulan kami ajak berenang. Puas ia berenang walaupun di area kolam renang tidak dilengkapi dengan permainan untuk anak-anak.


Hampir jam 12 siang kami baru melakukan check out dan diberikan tiket free parking oleh receptiont. Senang sekali rasanya walau hanya menginap semalam di Sheraton Grand Hotel Gandaria City benar-benar melepas penat dan seperti recharge semangat baru lagi, semoga dalam waktu dekat bisa kembali menginap lagi disini dan sudah tidak ada lagi virus corona jadi lebih menikmati waktu main ke mallnya juga.



Ada yang sudah pernah menginap juga di Sheraton Grand Hotel Gandaria City ? bagaimana menurut kalian, sharing yuk di kolom komentar.