Selasa, 28 Juli 2020

Hari ini Untuk Mama, Hari Esok Untuk Diri Sendiri



Dulu sekali, ketika masih kuliah saya tak pernah ingin bisa untuk mengendarai motor, berbeda sekali dengan kedua adik saya, mereka malah lebih bersemangat untuk belajar. Padahal adik saya yang paling bungsu masih anak smp yang belum bisa punya SIM tapi ia tak mau kalah bisa.

Akhirnya ketika saya mulai bekerja dan kemana-mana mengandalkan kendaraan umum, kedua adik saya justru sudah mahir mengendarai motor. Mereka bisa pergi kemana-mana bergantian menggunakan motor yang ada dirumah, kecuali untuk ke sekolah atau ke kampus karena jaraknya masih terlalu jauh menurut mama.

Saat itu saya tidak menyesalinya, walau kadang iri melihat mereka karena bisa lebih mudah dan praktis transportasinya untuk berpergian, malah saya merasa senang karena dengan saya tidak bisa mengendarai motor saya selalu punya alasan untuk di bonceng oleh salah satu dari mereka ketika pergi.

Enak kan jadi penumpang, tinggal naik saja ke motor, duduk dengan santai lalu sampai tujuan malah kadang bisa sambil tidur selama di perjalanan. Sebagai penumpang saya tidak perlu pusing dengan kemacetan atau merasa kesal karena di salip sembarangan oleh pengendara motor lainnya atau kaget karena mungkin hampir saja mengalami kecelakaan dijalan akibat kurang waspada atau bahkan karena keteledoran orang lain.

Namun kesenangan itu tak berlangsung lama.


Alasan belajar

Secara tiba-tiba saja disuatu siang, mama mengeluhkan sakit di tubuhnya, sangat sakit hingga ia tak mampu menahan rasa sakit tersebut akhirnya ia pun berteriak keras-keras untuk melepaskan rasa sakit tersebut. Bersama dengan kedua adik saya, kami berusaha menenangkannya namun tak berhasil. 

Adik saya menyarankan untuk membawa mama kerumah sakit, namun bagaimana membawanya sementara bapak masih dikantor, akhirnya saya dibonceng motor oleh adik pertama saya untuk mencari taksi dari depan komplek, karena letak rumah kami memang jaraknya tidak dekat dengan jalan raya sementara adik saya yang paling kecil menemani mama dirumah.

Untung saja tak butuh waktu lama untuk menemukan taksi sehingga mama pun dapat segera di bawa kerumah sakit dan dapat pengobatan. Saya tak ingat benar saat itu mama sakit apa, yang saya ingat setelah itu mama harus berobat jalan, sehingga kami harus bolak balik seminggu sekali untuk menemaninya  melakukan check up.

Jadwal praktek dokter untuk check up penyakit mama hanya ada siang hari sehingga tidak memungkinkan untuk bapak bisa meminta izin terus ke kantor karena harus mengantarnya, akhirnya saya bersama kedua adik saya harus menemani mama kerumah sakit.

Zaman dahulu sekitar tahun 90-an transportasi yang ada belum seberkembang seperti sekarang, yang memberikan kemudahan bagi pengguna maupun penyedia jasa transportasi umum.

Sebagai contoh untuk menggunakan taksi selain mahal biayanya juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkannya, kita harus menunggu dulu di pinggir jalan mencari taksi yang kosong atau menelpon ke call centre-nya lalu menunggu hingga taksi yang kita pesan datang kerumah.

Sementara menggunakan angkutan umum untuk kerumah sakit sangat merepotkan, karena untuk keluar perumahan saja menuju jalan raya dengan berjalan kaki butuh waktu sekitar 10 menit belum lagi kami harus berganti kendaraan umum sebanyak 2 kali barulah tiba di rumah sakit.

Yang terakhir bisa menggunakan ojek motor, namun sangat tidak praktis karena harus pakai 2 orang abang ojek untuk membonceng saya dan satunya untuk membonceng mama sementara adik-adik saya bisa menggunakan motor yang ada dirumah. Belum lagi ojek zaman dulu adanya dipangkalan dan tidak stand by ada terus, lebih merepotkan lagilah.

Dari pengalaman tersebut, saya pun bertekad untuk belajar mengendarai motor sampai lancar.


Bisa Karena Mau Mencoba

Dengan di ajari oleh kedua adik saya menggunakan motor bapak, setelah berlatih secara intens selama kurang lebih sebulan akhirnya saya bisa mengendarai motor bebek dengan gigi. Tidak sesulit yang saya bayangkan karena saya sudah bisa naik sepeda jadi tidak ada masalah dengan keseimbangan, tapi yang sebenarnya, sudah bisa bukan berarti sudah berani juga mengendarai motor ke jalan raya.

Yang paling saya takuti ketika membawa motor tentu saja mengendarainya di jalan raya, di jalan penuh dengan motor dan mobil beraneka jenis pengendara. Belum lagi saya harus melawan dua ketakutan terbesar yang terus saja seperti menghantui pikiran, saya akan celaka karena orang lain atau kita akan mencelakai orang lain.

Bila perasaan itu datang yang selalu saya ingatkan pada diri saya hanya dua alasan, pertama bila saya bisa mengendarai motor ini saya tidak akan lagi merepotkan orang lain dan kedua orang lain bisa kenapa saya tidak bisa ?




Belajar Sekali, Bermanfaat Seumur Hidup

Sekarang sudah lebih dari satu dekade saya mengendarai motor kemana-mana dan kali ini saya bangga pada diri saya karena saya bisa belajar hal yang berguna sekali dalam hidup saya, terlebih lagi sekarang saya sangat merasakan manfaatnya.

Bila dulu bermula hanya untuk memudahkan menemani mama ketika ia harus berobat di rumah sakit, sekarang saya sudah menikah, sebagai istri yang juga bekerja saya tak perlu mengandalkan pak suami untuk antar dari rumah ke kantor dan jemput dari kantor ke rumah.

Kebetulan saya tipikal orang yang paling nggak sabar menunggu di jemput oleh pak suami karena jarak kantor saya dan dirinya sangat jauh, butuh waktu satu jam bila ingin antar jemput dengannya, jadi seharusnya sudah bisa sampai rumah malah baru di jemput di kantor.

Selain itu sebagai ibu dari 2 orang anak, salah satunya sudah bersekolah jadi bisa mudah mengantar jemput zaidan untuk kesekolah tak perlu lagi keluar biaya untuk menyewa ojek. Apalagi di masa pandemik seperti sekarang. Terasa sekali kemudahannya.

Belajar sesuatu apapun itu, tidak hanya bisa mengendarai motor, terutama sesuatu yang baru memang tidak pernah mudah, namun semua bisa dilakukan dengan tekad yang kuat, latihan yang gigih secara terus menerus dan tidak pernah mudah menyerah karena hanya diri kita sendiri yang tahu kemampuan kita, kalau mau cepat bisa yah belajarnya jangan pernah malas.

Buat saya inilah bekal ilmu yang tak akan pernah habis, yang akan berguna seumur hidup saya, yang nantinya juga bisa saya ajarkan ke anak-anak saya, kalau kalian pernah belajar apa yang paling bermanfaat dan mempunyai kesan mendalam di kehidupan ?.














Jumat, 24 Juli 2020

Kosongkan Gelasmu dan P.D.C.A

Pernah mendengar istilah "Kosongkan gelasmu" pada saat belajar sesuatu dengan orang baru ? 

Istilah "Kosongkan gelasmu" bukan istilah baru, sudah familiar pasti ditelinga kita. Namun saya penasaran apakah istilah ini mempunyai makna yag sama bagi setiap orang, saya pun mencari tahu dengan membaca tulisan-tulisan mengenai hal tersebut dan mendapati bila ada dua pendapat yang berbeda dalam memaknai istilah tersebut.

Yang pertama, mengibaratkan ilmu seperti air dan kepala kita seperti sebuah gelas, jadi ketika kita tengah belajar untuk menerima ilmu baru, kita seperti tengah menuangkan air yang baru pada gelas kita, maka agar air dalam gelas kita tidak sampai kepenuhan penting untuk kita mengosongkan gelas yang kita punya dulu agar ketika kita isi dengan air baru gelas kita dapat menampung semua air tersebut.

Yang kedua, walau mengibaratkan hal yang sama yaitu ilmu seperti air dan kepala kita seperti sebuah gelas, namun mengartikannya sebagai menuntut ilmu baru dari orang baru berarti gelas baru. Bukan gelas yang ada yang telah penuh lalu di kosongkan dahulu untuk ilmu yang sama.

Untuk saya pribadi lebih setuju dengan makna yang kedua, karena saya percaya setiap orang yang membagikan ilmunya untuk kita itu walau ilmunya sama misalnya tentang blog tapi isinya berbeda, mungkin adalah yang sama tapi tidak sepenuhnya sama, makanya saya lebih memilih mempersiapkan gelas baru sehingga kemudian saya punya banyak gelas untuk ilmu yang sama dan akan saya pilah kemudian.

Inilah yang tengah saya lakukan. Semenjak awal bulan juli ini saya tengah mengikuti Blog Course ISB dengan foundernya yaitu teh Ani Berta. Ini adalah sebuah kelas yang salah satu tujuannya agar kita dapat belajar mengembangkan blog yang kita miliki. Kelas yang menggunakan google meet ini diadakan seminggu 2 kali setiap malam rabu dan malam minggu yang berlangsung selama 1 sampati 2 jam lamanya dan saat ini sudah memasuki pertemuan ke 6.

Banyak sekali ilmu tentang blog dan dunia menulis yang di bagikan oleh teh Ani Berta dan baru saya ketahui, jadi bila saya tidak menyiapkan gelas kosong yang baru pastilah ilmu yang seperti air tersebut  sudah tak tertampung karena bersamaan dengan masuknya ilmu baru itu, kami pun diminta untuk  langsung mengaplikasikannya pada blog kami, agar ilmu tersebut tidak menguap begitu saja dan terlupakan.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memulai konsistensi dengan rajin memposting blog baru, selama ini saya sudah berusaha untuk setidaknya mempunyai 4 tulisan dalam satu bulan, saya pun merasa tertantang untuk dapat menghasilkan lebih dari itu, sudah dapat ilmunya, masih ditemani sama mentornya, masa progressnya masih sama dengan yang sebelumnya.

Alhamdullilah, yang biasanya saya hanya bisa menulis pada pertengahan bulan sejak ikut kelas ini dari awal bulan saya sudah punya tulisan yang publish di blog, kejutan sekali buat saya sendiri karena biasanya awal bulan kendala terberat saya tak bisa menghasilkan tulisan terbaru di blog karena berbarengan dengan deadline pekerjaan kantor. Namun kali ini saya dapat menyelesaikan deadline pekerjaan dengan tetap punya tulisan di minggu pertama. yeayyy!!

Menjaga diri yang baru mulai untuk konsisten ini memang sulit sekali karena banyak alasannya, kalau saya tuh saat ini karena berperan ganda, sebagai ibu bekerja sekaligus juga sekarang saya punya anak bayi berusia 10 bulan belum lagi harus menemani anak usia 6 tahun yang belajar di rumah, duh emang harus mengalah deh yang namanya update blog, nggak kebagian untuk saya urus. 

Namun teringat lagi tujuan utama saya untuk jangka panjang ingin mulai menjaga konsistensi menulis di blog karena kebanyakan isinya membahas daily life kalau saya tidak konsisten akan ada banyak cerita yang terlewat begitu saja tanpa ada rekam jejak di blog ini. 

Saya pun jadi terus kepikiran bagaimana caranya untuk menjaga konsistensi ini ?, bagaimana seharusnya saya tak membiarkan gelas saya yang sudah terisi penuh dengan ilmu-ilmu baru tidak menjadi sia-sia, apalagi setelah blog course berakhir tidak ada lagi teh Ani Berta yang menemani dengan mengingatkan dan memaksa diri untuk update blog secara berkala atau teman-teman seperjuangan yang menyemangati bila belum juga punya update blog terbaru.

Untuk kali ini saya tidak mau menyerah begitu saja, saya tidak hanya ingin mengosongkan gelas untuk ilmu baru tapi saya ingin agar isi gelas dapat menjaga konsistensi yang telah saya bangun, sampai saya jadi teringat pada hal yang sebenarnya memang sudah rutin saya lakukan pada pekerjaan saya di kantor, tapi entah kenapa saya tidak terpikirkan untuk mengaplikasikannya untuk menulis di blog juga.

Untuk mengukur suatu pekerjaan dikantor yang bersifat harian, mingguan, bulanan hingga project dengan waktu yang lebih lama dapat berjalan dan terselesaikan dengan baik, semua pekerjaan tersebut  dibuatkan PDCA. PDCA merupakan singkatan dari 4 kata yaitu, Plan-Do-Check-Act. 




Plan - what to do or how to do it ?
Pada salah satu pertemuan Blog Course ISB, teh Ani Berta menyampaikan bila kunci dari konsistensi untuk blogging adalah membuat banyak bank data untuk tema blog. Merencanakan bank data ini dapat membantu kita agar tidak kehabisan ide menulis di blog dan untuk menampung bank data tersebut kita bisa menggunakan template pada agenda yang ada di handphone atau dengan cara tradisional seperti saya menuliskan semua bank data pada buku agenda.

Untuk bulan Juli dan Agustus ini saya tidak perlu repot menuliskan karena saya mengikuti one day one post (odop) yang di selenggarakan komunitas blogging ISB. Walaupun sebenarnya sebelum mulai odob saya sudah membuat bank data untuk tulisan selama bulan Juli jadi sepertinya akan saya pakai nanti setelah odop selesai saya ikuti.

Do - do what was planned
Membuat bank data sebaiknya sebanyak mungkin, maka saya pun mencoba membuat setiap bulan 10 tema agar saya bisa pakai setidaknya 6 tema jadi dari sebelumnya saya bisa menulis dan posting 4, mulai bulan juli ini saya ingin mentargetkan bisa update postingan blog sebanyak 6 judul.

Sudah mendapatkan tema yang akan dijadikan tulisan, segera buat reminder pengaturan waktunya, bila dalam sebulan ingin 6 tulisan publish di blog berarti dalam setiap 5 hari harus ada posting yang sudah selesai ditulis.

Pastikan juga selama waktu tersebut kita tidak hanya menulis tapi juga harus mempersiapkan pendukung tulisan seperti foto-foto atau infografis dan hal lainnya yang berhubungan dengan tulisan yang akan di posting.

Check - did things happen according to plan ?
Tulisan pada blog akan lebih bermanfaat bila kita juga menyebarluaskannya kepada orang lain. Untuk itu saran dari teh Ani Berta adalah menggunakan semaksimal mungkin semua sosial media yang kita punya instagram, twitter, facebook, youtube hingga podcast.

Dari hasil sharing ke berbagai media social itulah, ketika tulisan kita dibaca orang lain kita pun secara tidak langsung dapat melakukan pengecekan pada tulisan kita terutama dari respon mereka yang berupa komentar, baik atau buruknya dapat kita jadikan penilaian untuk tulisan kita kedepannya.

Act - how to improve next time
Menulis di blog memang butuh konsistensi pada awalnya, namun sebenarnya setelah itu harus ada ketekunan agar tulisan pada blog terus bertambah baik dan salah satu cara mengetahuinya adalah dengan mengikuti lomba-lomba bloging yang banyak diselenggkarakan berbagai pihak.

Mengikuti kompetisi blog juga dapat terus mengasah kemampuan menulis kita selain juga bisa mendapatkan nilai tambah untuk diri kita secara pribadi berupa penghargaan-penghargaan dan juga pengakuan akan kemampuan kita dari banyak pihak bila berhasil menjuarai sebuah kompetisi blog.


Keempat kata ini terlihat mudah dilakukan namun ketika kita menjalankannya kita harus keras pada diri sendiri bila ingin menyelesaikan sesuai dengan rencana awal. Untuk itu kita juga harus menyadari apa saja yang membuat diri kita mudah sekali teralihkan dari tujuan, seperti saya senang sekali berlama-lama melihat instagram akhirnya menunda menulis dan lupa sama deadline tulisan itu sendiri.

Hal lainnya PDCA ini bersifat berkelanjutan dan dinamis tidak akan selesai sekalipun pekerjaan kita sudah kita beri tanda done. makanya sering kali oleh teman-teman saya di kantor PDCA di pelesetkan pengartiannya sebagai plan-do-cancel-again karena nggak selesai-selesai pekerjaanya.

Bila biasanya saya mempergunakan PDCA ini setiap seminggu sekali untuk melihat perkembangan pekerjaan-pekerjaan saya hingga selesai, semoga dengan mengaplikasikannya pada blog saya juga dapat mencapai hasil yang serupa, setiap 5 hari akan ada update blog di mayarumidotcom.







loph,

Maya Rumi


Senin, 20 Juli 2020

Cara Melindungi Anak Yang Harus Belajar Di Luar Rumah Selama New Normal



Sejak pertengan bulan juli ini Zaidan sudah mulai belajar lagi diluar rumah. Saya mendaftarkannya pada sebuah tempat belajar untuk mengikuti les membaca, menulis dan berhitung (calistung) yang diadakan sebanyak 3 kali dalam seminggu.
Pasti banyak dari orang tua terutama ibu-ibu nih yang mempertanyakan keputusan saya karena, Kok berani mengizinkan anak keluar rumah ? Ikutan les lagi, yang pastinya tidak akan terhindari untuk bertatap muka dengan gurunya maupun temannya.

⁣Padahal seperti yang kita semua tahu walau new normal telah diberlakukan pandemik corona virus masih belum berakhir bahkan beberapa hari terakhir di bulan Juli ini angka korban yang menderita masih naik terus setiap hari dan beberapa kali bahkan memecahkan rekor dunia saking banyaknya yang terkena paparan covid19 ini.
Hal tersebut saya lakukan bukan karena sok-sok-an yah apalagi terbawa arus oleh orang-orang yang mulai banyak ramai beraktivitas dimana-mana, karena sudah denial atau bosan hampir empat bulan dirumah saja. Melainkan sudah dengan pertimbangan dan juga persiapan yang telah saya diskusikan bersama dengan ayahnya Zaidan.

Jadi di tahun 2020 ini Zaidan yang genap berusia 6 tahun dibulan juni lalu sudah lulus dari pendidikan di taman kanak-kanak. Namun karena saat ini masih di tengah kondisi pandemik akhirnya saya dan ayahnya berkeputusan menunda untuk melanjutkan belajarnya di sekolah dasar dan kita pikir bisalah belajar dari rumah saja, bergantian saya dan ayahnya yang mengajar.

Melakukan penundaan sekolah tapi kok malah memilih mengikutsertakan anak untuk les ?

Dengan usia yang pas sekali 6 tahun di ajaran tahun 2020-2021 ini, Zaidan sudah pasti di tolak untuk masuk ke sekolah dasar negri yang oleh pemerintah saja sudah di wajibkan berusia minimum 7 tahun, ternyata di sekolah swasta yang menjadi pilihan kami pun, Zaidan belum bisa kami daftarkan karena minimum usianya adalah 6.5 tahun sekalipun hasil tes akademisnya bagus.

Awalnya kan baik saya dan ayahnya sama-sama work form home, bahkan ayahnya kalau tiba jadwal work from home malah jadi libur karena memang tidak memungkinkan untuk ia melakukan pekerjaannya dari rumah. Kalau saya sendiri yang mengajar saya tidak menyanggupi karena saat work from home saya pun sekaligus mengasuh dan mengasihi adik Zaidan yang baru berusia 10 bulan.

Diluar dugaan, perbulan Juni 2020 baik saya maupun ayahnya Zaidan ternyata sudah mulai kembali bekerja di kantor. Bahkan ayahnya Zaidan sudah normal bekerja dari hari senin sampai sabtu seperti dulu sebelum masa pandemik, namun untuk kantor saya masih memberlakukan bekerja dengan jadwal kerja fifty-fifty untuk work form office dan work from home.

Dengan kondisi tersebut kami berfikir tidak mungkin bila kami harus mengajar Zaidan walaupun secara bergantian hasilnya pasti tidak maksimal apalagi diantara kami tidak ada yang punya basic menjadi pengajar, kami pun menjadi khawatir bilamana Zaidan akan lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah ia dapatkan dari sekolahnya.
Pertimbangan pemilihan Tempat Les untuk anak

Setelah kami putuskan Zaidan untuk mengikuti les, pr selanjutnya adalah memilih tempat les tersebut karena kami pun tidak mau asal saja memilih tempat belajar untuk Zaidan apalagi di masa new normal seperti sekarang ini dan yang menjadi faktor penting dari memilih tempat les untuk zaidan karena telah memberlakukan protokol kesehatan yang ketat seperti :
  1. Pengajar dan murid wajib menggunakan masker dan face shield selama proses belajar berlangsung
  2. Pengajar membuat pola letak tempat duduk yang berjarak dengan murid dan antar murid
  3. Membatasi jumlah murid yang ikut kelas, maksimal hanya 3 anak setiap pertemuan.
  4. Mempersingkat waktu pertemuan belajar menjadi 45 menit sebelumnya 1 jam
  5. Membersihkan meja-meja dengan cairan disinfektan
  6. Melakukan penyemprotan dengan air disinfektan secara berkala
  7. Jadwal kelas bisa mengikuti jadwal wfh orang tua jadi bisa antar jemput tanpa harus sewa ojek⁣

Walaupun dari pihak tempat les telah memberlakukan protokol kesehatan yang ketat tetap saja yah sebagai orang tua saya khwatir sekali apalagi anak-anak seperti Zaidan walau sudah tahu apa itu  penyakit dari virus corona, tahu juga bahayanya namun belum dapat mengontrol dirinya dengan baik.

Terutama untuk menghindari hal-hal seperti tidak melepaskan masker atau faceshield selama belajar, tidak memegang area wajah sering-sering ataupun tidak memegang benda-benda selain buku dan alat tulis. Yang terjadi justru Zaidan sering mengeluh karena tidak nyaman harus memakai masker dan face shield terus menerus selama proses belajar.

Untuk menyiasati hal tersebut sekaligus untuk memberinya motivasi saya membelikannya beberapa topi sebagai hadiah. Topi-topi yang telah di modifikasi fungsinya ini, saya beli di online shop yang tidak sengaja saya lihat iklannya di instagram. Awalnya saya tertarik dengan produk super-visor masker yang ditawarkan, ternyata ada produk lain yang juga memang sejak lama ingin saya beli juga untuk Zaidan.

Rekomendasi Produk Cotton Tail Store

Selama pandemik ini produk yang paling sering saya beli adalah masker, begitu juga dengan masker untuk Zaidan namun masih belum menemukan yang sesuai dengan yang dia suka, makanya saya mencari sekali itu super-visor masker yaitu masker yang dibagian atasnya dijahitkan visor untuk menutup mata, jadi tidak perlu repot-repot menggunakan face shield dan masker.





Akhirnya ketemulah yang saya cari di instagram @Cottontailstore, bahagianya lagi ternyata mereka juga memproduksi topi yang dilengkapi dengan visor juga seperti Cap visor dan Hat Visor. Jadi makin-makin deh saya menyukai dari produk Cotton Tail Store :
  • Motifnya beragam dan sangat disukai anak-anak, untuk laki-laki ada dinosaurus, transportation, robot, dll. Sementara untuk perempuan motifnya lebih menggemaskan lagi ada pony, mermaid, rainbow, dll. Selain itu ada juga yang tanpa motif namun dengan warna pastel yang cantik.
  • Tersedia semua ukuran untuk anak hingga orang dewasa, jadi bisa kompakan pakai yang sama, bahkan untuk Cap visor juga tersedia untuk ukuran bayi.
  • Memiliki varian model : Masker, Super-visor masker, Cap visor dan Hat visor disesuaikan dengan kebutuhan pemakai.
  • Bahan yang berkualitas baik, untuk super-visor masker terdiri dari 3 ply non surgical fabric-mask. bagian dalam pun sangat lembut karena 100% dari bahan katun, sementara untuk bagian luar bahan nylon water repellent yang menolak air masuk.  Untuk topi-topi selain bahanya bagus, cetakan gambar juga tak kalah bagusnya.
  • Mudah dalam perawatan, untuk topi cukup di cuci tangan dan di jemur saja, untuk visor di bersihkan dengan cairan disinfektan.
  • Untuk harga menurut saya juga sesuai dengan kualitas produknya, super-visor masker seharga 70 ribu, Hatvisor 160 ribu dan Capvisor 95 ribu rupiah.
Produk cotton tail ini saya pesan melalui website-nya www.cottontailstore.com, karena banyak sekali peminatnya jadi semua produknya adalah preorder harus menunggu dulu selama 2 minggu. Namun harusnya baru di kirim minggu ini, ternyata sudah datang lebih dahulu dan customer carenya juga fast response sekali.

Selama masa new normal ini kita harus mengikuti protokol kesehatan yang lebih ketat dari sebelumnya termasuk juga anak-anak dan berdasarkan pengalaman saya selama ini agak sulit membiasakan Zaidan untuk menggunakan pelindung pada bagian wajah.

Makanya saya menjatuhkan pilihan pada produk cotton tail yang memang mengutamakan kenyamanan untuk melindungi wajah terutama bila dipakai anak-anak ketika mereka terpaksa beraktivitas diluar rumah dan harus menggunakan sesuatu pada bagian wajah mereka.

Happy Shopping.






loph,
Maya Rumi

Sabtu, 18 Juli 2020

Pengalaman Memulai Toilet Training Pada Usia Dini



Sebelumnya saya tidak pernah menyangka bila di usia yang belum genap satu tahun Zeanissa sudah bisa memulai toilet training.

Bercermin pada pengalaman Zaidan kakaknya Zeanissa yang baru memulai toilet training di usia 2 tahun dan baru benar-benar berhasil ketika sudah berusia 3 tahun. Berarti kan memakan waktu satu tahun dan sekarang baru tersadar betapa lama dan panjang proses toilet training ini.

Jadi dengan waktu mulai toilet training yang lebih awal daripada kakaknya saya berharapnya Zeanissa sudah bisa lepas diapers sebelum usianya menginjak 2 tahun.

Untuk yang belum tahu, toilet training adalah salah satu fase perkembangan pada anak ketika ia mulai belajar untuk bisa melakukan buang air kecil dan buang air besar di dalam toilet sehingga kemudian anak pun dapat melepaskan penggunaan diapers.

Nah jadi di posting kali ini saya mau berbagi pengalaman bagaimana sekarang Zeanissa sudah mulai mengurangi penggunaan diapers karena untuk buang air besar ia sudah terbiasa melakukannya di toilet. Kok hanya buang air besar saja ? buang air kecilnya bagaimana ? yuk dibaca sampai selesai yah cerita saya ini.

Sekitar bulan Mei lalu Zeanissa sempat beberapa kali mengalami susah buang air besar hingga ia selalu menangis dan mengamuk ketika waktunya ia buang air besar, mungkin karena perut sudah sakit sekali tapi kok tinjanya nggak juga keluar karena keras. Sehingga saya pun selalu merasa khawatir dengan masalah buang air besar ini

Namun sebenarnya dari paparan AIMI ASI untuk anak seperti Zeanissa yang baru mulai mengonsumsi makanan pendamping ASI (MPASI) mengalami konstipasi adalah hal yang normal dan dapat di atasi dengan cara menambahkan cairan, buah dan serat ke dalam makanannya.

Dengan segera saya pun mempraktekan saran tersebut namun ternyata buang air besar ini jadi seperti drama series yang terus berlanjut, bukan karena tinjanya yang keras tapi seperti ada sesuatu yang membuat Zeanissa kurang nyaman ketika tengah buang air besar.

Suatu waktu ketika tiba Zeanissa ingin buang air besar dan ia tengah dalam kondisi berdiri, ia pun tiba-tiba menangis, karena melihat mukanya yang tampak mengejan saya pun tahu bila ia tengah berusaha untuk buang air besar, namun tak juga keluar tinjanya.



Secara tidak sengaja saya pun kemudian membawanya ke toilet, begitu tiba di toilet saya pasang itu pelapis duduk toilet milik Zaidan yang berfungsi untuk menjaga agar ia dapat duduk di toilet dewasa tanpa terjeblos ke lubang toilet karena ukuran duduk toilet dewasa yang lebih besar daripada anak-anak.

Sambil menangis sekaligus mengejan, saya pun memeluk Zeanissa, mengusap-usap punggungnya agar ia bisa tenang dan konsentrasi hingga akhirnya keluarlah itu... dan setelahnya ia langsung ceria kembali, seperti tidak terjadi apa-apa. 

Sejak kejadian itu saya seperti mempelajari kebiasaan Zeanissa ketika tiba waktu ia akan buang air besar, ciri khusus yang dapat saya identifikasi, biasanya Zeanissa akan beberapa kali kentut dulu lalu mukanya pun tampak mengejan dan kedua tangan mengepal, kalau sudah seperti ini saya segera membawanya ke toilet dengan cepat.

Dua minggu lamanya saya melakukan pengamatan untuk kebiasaan buang air besar Zeanissa ini dan selama itu Zeanissa terus berhasil mempraktekkan buang air besar di toilet, kebetulan sekali saya pun sedang melakukan work from home dan dengan kondisi pandemik kita harus #dirumahaja juga jadi tidak terkendala sama sekali proses mulai toilet training ini.

Barulah saya akhirnya pun menyadari sepertinya untuk Zeanissa ia merasa lebih nyaman dengan buang air besar dengan kondisi duduk bukan berdiri, karena kerap terjadi ketika sedang bersama ayah atau neneknya, ia ingin buang air besar dan sudah menunjukkan tanda mau buang air besar tapi karena posisinya ia sedang berdiri ia jadi seperti menahan untuk buang air besar dan setelah ayahnya atau neneknya memanggil saya dan segera saya bawa ke toilet barulah disana ia lancar buang air besarnya.

Sebenarnya saya agak khawatir juga dengan pencapaian saat ini bila Zeanissa sudah terbiasa buang air besar di toilet. Hasil googling dan membaca beberapa website parenting saya pun menemukan informasi bahaya dari memulai toilet training usia dini, diantara yaitu :
1. Infeksi kandung kemih 
2. Perenggangan pada rektum 
3. Masalah pencernaan
4. Trauma 

Seram sekali bila sampai Zeanissa mengalami hal tersebut, saya pun akhirnya jadi ingin menghentikan kebiasaan Zeanissa buang air besar di toilet agar ia tak mengalami masalah di kemudian hari dalam pertumbuhan dan perkembangannya dan mengikuti saran terbaik sebaiknya memulai toilet training pada usia minimal di 18 bulan.

Walaupun tanpa terasa sudah berjalan hampir 3 bulan kebiasaan Zeanissa untuk buang air besar di toilet ini berjalan dan lancar-lancar saja sunggulah ini pencapaian yang luar biasa sih sebenarnya, karena memulai toilet training memang pr sekali buat orang tua, saking sulit dan melelahkannya.

Lalu mengapa untuk buang air kecil belum ada saya mulai sama sekali untuk toilet training, karena alasan utamanya adalah Zeanissa belum bisa berbicara jadi lebih sulit untuk mengetahui ciri-ciri ia akan buang air kecil.

Namun yah karena untuk buang air besar sudah terbiasa sepertinya saya akan terus melanjutkannya saja sampai ia siap untuk memulai toilet training yang sebenarnya, hitung-hitung ini adalah bonus dalam milestone Zeanissa.

Semoga cerita pengalaman ini bermanfaat dan dapat menjadi pertimbangan untuk orang tua yang terlalu ingin cepat memulai toilet training pada anaknya, jangan hanya memikirkan keuntungan karena tak ada lagi post pengeluaran khusus diapers namun harus juga mempertimbangkan kesehatan anak kita di masa yang akan datang.







loph,

Maya Rumi


Kamis, 16 Juli 2020

Review : Baby Telon Cream

Yah pakainya kebanyakan...
aduh tumpah deh gara-gara lupa tutup dulu...
Ya ampun tangan kok jadi lengket bener yah...




Keluhan-keluhan yang kerap kali saya ucapkan ketika tengah mengoleskan minyak telon ke tubuh anak saya, ibu-ibu ada yang mengalami masalah seperti saya juga ?

Pasti banyaklah yah.

Minyak telon merupakan salah satu essential product yang harus di punya ketika memiliki bayi atau anak kecil. Minyak telon yang mempunyai fungsi utama untuk menghangatkan tubuh bayi ketika selesai mandi juga berkhasiat untuk mencegah bayi agar tidak masuk angin.

Beberapa waktu lalu saya sudah pernah menuliskan minyak telon yang menjadi favorit dari zaman zaidan bayi yaitu minyak telon My Baby Nah sebenarnya ada telon lain yang juga jadi favorit saya ketika Zaidan masih bayi, yaitu Bebe Roosie Telon Cream.

Iya nggak salah baca kok Bebe Roosie Telon Cream, dimana telonnya tidak dalam bentuk minyak atau cair tapi dalam bentuk cream yang padat. Pasti sudah ada yang pernah pakai kan ibu-ibu ? karena produk ini sudah ada dari lima tahun lalu.

Bila dahulu hanya ada merk Bebe Roosie Telon Cream namun sekarang setelah punya anak bayi yang kedua yaitu Zeanissa ternyata sudah ada merk lainnya. Selama hampir 10 bulan ini, saya sudah mencoba 2 merk lainnya yaitu Bambi Telon Balm dan My Baby Telon Lotion dan berikut review dari ketiga produk baby telon cream tersebut.

1. Bebe Roosie Telon Cream
Awalnya saya kenal dengan Bebe Roosie Telon Cream yang merupakan produksi dari PT Air Mancur ini saat melakukan baby spa untuk Zaidan sekitar tahun 2014. Seperti yang kita tahu yah ibu-ibu setelah sesi berendam akan ada sesi relaksasi dengan pijatan.

Terkejutlah saya ketika mba yang akan memijat zaidan tidak mengoleskan minyak pijat namun malah mengoleskan Bebe Roosie Telon Cream ini, untuk pertama kalinya melihat telon bentuknya cream yang juga dapat digunakan untuk memijat tidak hanya di oles-oles ke tubuh bayi saja.



Kemasan : Di kemas dalam kotak kardus, berbentuk tube dengan tutup flip dan berbahan plastik dengan warna dominasi warna biru dan krem dan gambar anak ayam yang ikonik
Warna isi : Tosca muda sebanyak 60 gram
Wangi : harum khas bayi namun tidak bertahan lama
Tekstur : cream padat
Kandungan utama :  Minyak zaitun 
Harga : 20 ribu 
Tersedia di : Online shop instagram, baby shop dan Ecommerce : shopee, tokopedia, blibli, lazada, bukalapak

Klaim Fungsi :
1. Melembabkan kulit bayi 
2. Meredakan masuk angin, perut kembung dan menghangatkan
3. Menghindarkan bayi dari gigitan nyamuk

Pada website resmi www.beberosie.co.id saya juga baru menemukan bila Bebe Roosie sekarang tidak hanya ada telon creamnya namun tersedia juga dalam bentuk minyak telon dan juga ada Bebe Roosie Bug Repellent yang berfungsi untuk mencegah bayi dari gigitan nyamuk, memudarkan bekas gigitan nyamuk dan mengurangi iritasi kulit setelah di gigit nyamuk.

2. Bambi Telon Balm
Untuk Bambi Telon Balm yang merupakan produksi dari PT Fabindo Sejahtera, saya baru pertama kali mengenal produk Bambi sekitar bulan april 2020 lalu ketika adik saya menggunakan untuk bayinya. Merknya yang unik berasal dari kata Bambino, bahasa Italia yang berarti bayi dalam bahasa Indonesia.

Bambi Telon Balm merupakan salah satu dari banyaknya rangkaian produk Bambi yang di ciptakan khusus untuk bayi dari kepala hingga kaki. Produk lengkapnya bisa di cek di websitenya www.bambi.co.id.



Kemasan : Di kemas dalam kotak kardus, berbentuk tube dengan tutup flip dan berbahan plastik dengan warna dominasi warna putih dan tosca pada bagian tutup dan gambar bayi yang ikonik
Warna isi : Putih dengan berat 50 gr
Wangi : tidak terlalu wangi 
Tekstur : cream padat
Kandungan utama : Chamomile & Minyak kelapa
Harga : 60 ribu
Tersedia di : Online & Offline shop, baby shop, Ecommerce : shopee & tokopedia

Klaim :
1. Mengandung bahan Alami
2. Cocok untuk kulit sensitive
3. Mencegah iritasi ringan pada kulit bayi
4. hypoallergenic dan di uji secara dermatologis

3. My Baby Telon Lotion
Tidak sengaja menemukan produk My Baby Telon Lotion saat belanja bulanan di supermarket sekitar bulan Mei 2020. Karena sebelumnya memang sudah suka dengan yang bentuk minyaknya jadi menemukan yang bentuk lotion ini sudah seperti harapan yang menjadi kenyataan. Very Happy.

My Baby Telon Lotion merupakan produk yang di produksi oleh PT Tempo Natural Product, sama dengan minyak telonnya yang saya tahu mempunyai keunggulan dapat menjaga bayi dari gigitan nyamuk selama 6 jam  karena mengandung minyak sereh (citronella) telon creamnya pun demikian juga.



Kemasan : Di kemas dalam kotak kardus, berbentuk tube dengan tutup flip dan berbahan plastik dengan dominasi warna putih dan hijau dan orange.
Warna isi : putih dengan berat 60 gr 
Wangi : sangat wangi dan lumayan tahan lama
Tekstur : lotion sangat cair 
Kandungan utama :  Citronella & Chamomile
Harga : 20 ribu
Tersedia di : Online & Offline shop, baby shop, Ecommerce : blibli, lazada, shopee, orami, jdid

Klaim Fungsi :
1. Membantu meredakan perut kembung dan masuk angin
2. Memberikan rasa hangat dan nyaman pada tubuh bayi
3. Membantu menghindari bayi dari gigitan nyamuk selama 6 jam


KESIMPULAN :

Sebagai pengguna telon cream, paling terasa manfaatnya kalau sedang berpergian benar-benar menjadi andalan karena kemasannya yang tube dengan tutup flip sangat praktis dalam penggunaan di kendaraan dan tidak khawatir atau was-was akan tumpah atau bocor selama di simpan dalam tas.

Setelah pemakaian pun tidak ada sisa lengket yang terasa mengganggu di tangan, cepat meresap pada kulit bayi dan juga cenderung bisa lebih hemat pemakaian karena cukup dikeluarkan seukuran biji jagung pun bisa digunakan untuk satu bagian tubuh.

Apalagi yang selama mengasuh anak seperti saya dibantu oleh ibu yang sudah lanjut usia dan ia juga sering mengalami kesulitan ketika mengoleskan minyak telon ke perut zeanissa sehinga pemilihan telon dalam bentuk cream merupakan solusi.

Dari ketiga telon non cair ini masing-masing memberi nama jenis produknya berbeda satu sama lain ada yang telon cream, telon balm dan telon lotion namun setelah penggunaan menurut saya semuanya memiliki fungsi yang sama dan khasiat utama yang mirip-mirip juga.

kiri-kanan : bebe rosie, bambi, my baby

Wangi dari ketiga produk ini pun hampir mirip juga, hanya keawetannya yang agak berbeda, yang paling kuat wanginya menurut saya My Baby Telon Lotion mungkin karena itu juga wanginya lebih awet dibanding 2 produk lainnya.

Untuk memutuskan sebaiknya pilih yang mana dari ketiga produk baby telon cream ini tergantung pada kebutuhan dan menyesuaikan dengan budget juga, untuk saya yang lebih jadi favorit adalah Bebe Rosie Telon Cream, karena harganya lebih terjangkau dibanding dengan merk Bambi Telon Balm.

Namun harga Bambi Telon Balm yang paling mahal pun karena bahan kandungannya yang alami. Untuk tekstur yang saya rasa pas juga Bebe Roosie karena tidak terlalu cair seperti My Baby Telon Lotion.




Sementara untuk kemudahan untuk mendapatkan produk ketiganya sama mudahnya untuk ditemukan, baik itu di online maupun offline store. Namun untuk pembelian saya lebih senang beli di online store karena itu jangan lupa untuk selalu mengecek harga dulu, siapa tahu sedang ada promo.

Semoga informasi review ini membantu ibu-ibu semua untuk memilih dan mempertimbangkan telon dalam bentuk cream yah, terutama untuk yang baru pertama kali punya bayi. Happy Shopping.






loph,

Maya Rumi

Jumat, 03 Juli 2020

Belajar Dari Masalah Baim Wong



Kalau baca judul postingannya untuk teman-teman yang mengikuti gosip di akun perlambean pasti sudah pada tahu kasusnya. Ya kan ?

Untuk yang belum tahu saya ceritakan dari hasil menelurusi beberapa postingan lambe yang beredar di dunia per-instagram-an. Jadi sekitar minggu lalu seorang artis perempuan berinisial NM memposting di Instagram story-nya dengan penuh emosi jiwa dan postingan itu walaupun hanya memberikan clue tanpa menyebutkan nama ataupun inisial para netizen sudah bisa menebak dengan mudahnya.

Yang jadi penasaran sama Instagram story-nya silahkan di cari sendiri yah, bahkan beritanya pun sudah banyak di up oleh media online juga. Ini pertama kali saya mau membahas masalah seperti ini di postingan blog saya, triggernya adalah postingan-postingan instagram dari Baim Wong beberapa hari ini, bisa cek langsung di instagramnya juga yah.

Saya bukan penggemar berat Baim Wong dengan kanal youtube-nya Baim Paula namun saya memang menontonnya sesekali terutama yang memberikan uang kepada orang-orang yang memang membutuhkan dan menurut saya cara dia membantu orang lain seperti itu patutlah di apresiasi.

Terlepas dari apakah uang yang ia berikan adalah miliknya sendiri ataupun uang dari orang lain yang mau memberikan lewat Baim Wong, menurut saya bila kita ingin berbagi dengan orang lain yang paling penting adalah caranya baik dan ia memang memberikan sesuai sasarannya.

Namun tidak semua orang mempunyai pemikiran seperti saya kan ? bahkan terinspirasi juga untuk dapat lebih banyak memberi kepada mereka yang kekurangan. Ada juga yang justru menanggapi dengan statement kurang menyenangkan, seperti NM itu.

Menurut saya bagaimana Baim Wong menyikapi masalahnya saat ini sangat bijak dan sabar. Terlebih lagi ia juga sudah berkeluarga dan dapat menahan tidak hanya dirinya sendiri tapi juga istrinya yang mungkin merasa tersingung dengan yang telah dilakukan NM melalui postingannya.

Apa yang Baim Wong lakukan untuk menyelesaikan masalahnya memberi hikmah tersendiri untuk saya bila menemui masalah dengan orang lain yang mungkin mirip dan saya jadikan catatan untuk diri saya seperti hal berikut :

1.   Menanggapi Tapi Tidak Ikut Terpancing Emosi

Biasanya kalau ada artis yang ribut-ribut di social media yang dilakukan hanya dua kemungkinan, yaitu tidak perduli dengan keributan tersebut atau istilahnya di ayepin saja atau yang kedua di tanggapi dengan membalas ribut.

Namun ternyata di kasus ini yang terjadi adalah opsi ketiga, karena ternyata Baim Wong tidak melakukan kedua hal tersebut. Ia justru menanggapi, memberi klarifikasi dari berita yang tidak menyenangkan tersebut namun tidak ikut terpancing untuk mengeluarkan amarah karenanya.

Andaikan hal itu terjadi pada saya dan bila membaca postingan seperti itu walaupun tidak ada nama saya disebut tapi saya tahu pasti itu ditujukkan untuk saya sepertinya emosi akan cepat sekali naik ke ubun-ubun dan sudah pasti jari-jari segera bekerja untuk membalas.

Susah loh menahan diri apalagi jari ini untuk tidak meluapkan emosi kekesalan ketika kita tahu ada orang yang mengusik hidup kita tanpa kita tahu masalahnya dia sama kita itu seperti apa, alias tidak ada hujan tidak ada angin tahu-tahu ada petir kenceng sekali.

Jadi tanggapi seperlunya saja untuk memberikan semacam klarifikasi mengenai ketidakbenaran berita yang telah beredar di masyarakat agar orang tidak terus menerka-nerka ada permasalahan apa sebenarnya diantara mereka ataupun berasumsi lebih jauh lagi.

2.   Berdiskusi dan Berkonsultasi

Yang dilakukan Baim Wong yang saya sebut sebagai opsi ketiga adalah ia menemui orang lain untuk menceritakan segala masalahnya kepada yang lebih berkompeten untuk diajak berdiskusi atau berkonsultasi dan menurut saya, Baim Wong memilih seorang pengacara sekelas Bapak Hotma Sitompul SH adalah pilihan yang tepat.

Ketika ada orang lain yang melakukan penyerangan pada diri kita dalam bentuk tulisan di social media dengan menyindir, menghina, memojokkan ataupun memberikan informasi yang tidak benar dan tanpa adanya bukti yang jelas sebenarnya orang tersebut sudah melakukan pencemaran nama baik.

Nah baiknya dengan berkonsultasi kepada pengacara, Baim Wong justru mendapatkan pencerahan. Hasilnya adalah sebuah kalimat bagus yang di ucapkan oleh Bapak Hotma Sitompul dan dapat menjadi kutipan yang baik sekali untuk menjadi pembelajaran di kehidupan kita “rendahkanlah dirimu serendah-rendahnya, agar orang lain tidak punya kesempatan untuk merendahkan dirimu”

Penting nih setiap kali kita punya masalah bicarakan, diskusikan, konsultasi, dialog dengan orang yang memang kita percaya dapat menyelesaikan masalah tanpa masalah, yang dapat menjernihkan pikiran, yang membuka pikiran kita untuk melihat dari perspektif yang berbeda.

 3.   Mengakui Tanpa Beban

Yang menarik dan menjadi sorotan banyak orang dari postingan NM adanya kata-kata bila selama ini Baim Wong mengadakan Giveaway atau ketika melakukan social experiment dengan bagi-bagi uang sebenarnya bukan dari dana pribadinya.

Melainkan ada pihak lain yang ikut memberikan support dengan menjadi sponsor. Akhirnya karena hal tersebut di postingan feed Instagram Baim Wong yang terakhir ini ada informasi tentang Giveaway dengan tulisan besar-besar yang secara tidak langsung Baim Wong mengakui bila uang yang di gunakan adalah uang dari sponsor.

Dari situ saya menyadari hidup memang keras sekali tapi bukan berarti kita harus melawan dengan keras juga dan tidak perlu membalas ketidakbaikan orang dengan cara yang tidak baik pula, dengan cara jujur mengakui apa adanya justru membuat lebih banyak orang yang mendukung cara kita menyelesaikan masalah yang ada.


Ternyata berbuat sesuatu yang kita anggap sudah baik dan kita pun sudah berusaha jadi sosok orang yang baik masih bisa bikin masalah datang untuk diri kita sendiri. Mungkin ini adalah ujian dari banyaknya kebaikan yang telah di tebar dan semoga ujian ini akan menaikkan kelas kita di maha pencipta.

Hari ini saya menemukan kutipan yang akan menjadi pengingat untuk diri kita bilamana menemui permasalahan seperti Baim Wong, sedang merasa tidak nyaman dengan sindiran orang lain, ingin melakukan pembelaan namun tidak ingin membuat masalah menjadi lebih keruh.