Hari ini Untuk Mama, Hari Esok Untuk Diri Sendiri



Dulu sekali, ketika masih kuliah saya tak pernah ingin bisa untuk mengendarai motor, berbeda sekali dengan kedua adik saya, mereka malah lebih bersemangat untuk belajar. Padahal adik saya yang paling bungsu masih anak smp yang belum bisa punya SIM tapi ia tak mau kalah bisa.

Akhirnya ketika saya mulai bekerja dan kemana-mana mengandalkan kendaraan umum, kedua adik saya justru sudah mahir mengendarai motor. Mereka bisa pergi kemana-mana bergantian menggunakan motor yang ada dirumah, kecuali untuk ke sekolah atau ke kampus karena jaraknya masih terlalu jauh menurut mama.

Saat itu saya tidak menyesalinya, walau kadang iri melihat mereka karena bisa lebih mudah dan praktis transportasinya untuk berpergian, malah saya merasa senang karena dengan saya tidak bisa mengendarai motor saya selalu punya alasan untuk di bonceng oleh salah satu dari mereka ketika pergi.

Enak kan jadi penumpang, tinggal naik saja ke motor, duduk dengan santai lalu sampai tujuan malah kadang bisa sambil tidur selama di perjalanan. Sebagai penumpang saya tidak perlu pusing dengan kemacetan atau merasa kesal karena di salip sembarangan oleh pengendara motor lainnya atau kaget karena mungkin hampir saja mengalami kecelakaan dijalan akibat kurang waspada atau bahkan karena keteledoran orang lain.

Namun kesenangan itu tak berlangsung lama.


Alasan belajar

Secara tiba-tiba saja disuatu siang, mama mengeluhkan sakit di tubuhnya, sangat sakit hingga ia tak mampu menahan rasa sakit tersebut akhirnya ia pun berteriak keras-keras untuk melepaskan rasa sakit tersebut. Bersama dengan kedua adik saya, kami berusaha menenangkannya namun tak berhasil. 

Adik saya menyarankan untuk membawa mama kerumah sakit, namun bagaimana membawanya sementara bapak masih dikantor, akhirnya saya dibonceng motor oleh adik pertama saya untuk mencari taksi dari depan komplek, karena letak rumah kami memang jaraknya tidak dekat dengan jalan raya sementara adik saya yang paling kecil menemani mama dirumah.

Untung saja tak butuh waktu lama untuk menemukan taksi sehingga mama pun dapat segera di bawa kerumah sakit dan dapat pengobatan. Saya tak ingat benar saat itu mama sakit apa, yang saya ingat setelah itu mama harus berobat jalan, sehingga kami harus bolak balik seminggu sekali untuk menemaninya  melakukan check up.

Jadwal praktek dokter untuk check up penyakit mama hanya ada siang hari sehingga tidak memungkinkan untuk bapak bisa meminta izin terus ke kantor karena harus mengantarnya, akhirnya saya bersama kedua adik saya harus menemani mama kerumah sakit.

Zaman dahulu sekitar tahun 90-an transportasi yang ada belum seberkembang seperti sekarang, yang memberikan kemudahan bagi pengguna maupun penyedia jasa transportasi umum.

Sebagai contoh untuk menggunakan taksi selain mahal biayanya juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkannya, kita harus menunggu dulu di pinggir jalan mencari taksi yang kosong atau menelpon ke call centre-nya lalu menunggu hingga taksi yang kita pesan datang kerumah.

Sementara menggunakan angkutan umum untuk kerumah sakit sangat merepotkan, karena untuk keluar perumahan saja menuju jalan raya dengan berjalan kaki butuh waktu sekitar 10 menit belum lagi kami harus berganti kendaraan umum sebanyak 2 kali barulah tiba di rumah sakit.

Yang terakhir bisa menggunakan ojek motor, namun sangat tidak praktis karena harus pakai 2 orang abang ojek untuk membonceng saya dan satunya untuk membonceng mama sementara adik-adik saya bisa menggunakan motor yang ada dirumah. Belum lagi ojek zaman dulu adanya dipangkalan dan tidak stand by ada terus, lebih merepotkan lagilah.

Dari pengalaman tersebut, saya pun bertekad untuk belajar mengendarai motor sampai lancar.


Bisa Karena Mau Mencoba

Dengan di ajari oleh kedua adik saya menggunakan motor bapak, setelah berlatih secara intens selama kurang lebih sebulan akhirnya saya bisa mengendarai motor bebek dengan gigi. Tidak sesulit yang saya bayangkan karena saya sudah bisa naik sepeda jadi tidak ada masalah dengan keseimbangan, tapi yang sebenarnya, sudah bisa bukan berarti sudah berani juga mengendarai motor ke jalan raya.

Yang paling saya takuti ketika membawa motor tentu saja mengendarainya di jalan raya, di jalan penuh dengan motor dan mobil beraneka jenis pengendara. Belum lagi saya harus melawan dua ketakutan terbesar yang terus saja seperti menghantui pikiran, saya akan celaka karena orang lain atau kita akan mencelakai orang lain.

Bila perasaan itu datang yang selalu saya ingatkan pada diri saya hanya dua alasan, pertama bila saya bisa mengendarai motor ini saya tidak akan lagi merepotkan orang lain dan kedua orang lain bisa kenapa saya tidak bisa ?




Belajar Sekali, Bermanfaat Seumur Hidup

Sekarang sudah lebih dari satu dekade saya mengendarai motor kemana-mana dan kali ini saya bangga pada diri saya karena saya bisa belajar hal yang berguna sekali dalam hidup saya, terlebih lagi sekarang saya sangat merasakan manfaatnya.

Bila dulu bermula hanya untuk memudahkan menemani mama ketika ia harus berobat di rumah sakit, sekarang saya sudah menikah, sebagai istri yang juga bekerja saya tak perlu mengandalkan pak suami untuk antar dari rumah ke kantor dan jemput dari kantor ke rumah.

Kebetulan saya tipikal orang yang paling nggak sabar menunggu di jemput oleh pak suami karena jarak kantor saya dan dirinya sangat jauh, butuh waktu satu jam bila ingin antar jemput dengannya, jadi seharusnya sudah bisa sampai rumah malah baru di jemput di kantor.

Selain itu sebagai ibu dari 2 orang anak, salah satunya sudah bersekolah jadi bisa mudah mengantar jemput zaidan untuk kesekolah tak perlu lagi keluar biaya untuk menyewa ojek. Apalagi di masa pandemik seperti sekarang. Terasa sekali kemudahannya.

Belajar sesuatu apapun itu, tidak hanya bisa mengendarai motor, terutama sesuatu yang baru memang tidak pernah mudah, namun semua bisa dilakukan dengan tekad yang kuat, latihan yang gigih secara terus menerus dan tidak pernah mudah menyerah karena hanya diri kita sendiri yang tahu kemampuan kita, kalau mau cepat bisa yah belajarnya jangan pernah malas.

Buat saya inilah bekal ilmu yang tak akan pernah habis, yang akan berguna seumur hidup saya, yang nantinya juga bisa saya ajarkan ke anak-anak saya, kalau kalian pernah belajar apa yang paling bermanfaat dan mempunyai kesan mendalam di kehidupan ?.














Komentar

Postingan Populer