Bagaimana Anak-Anak Belajar di Sekolah Swasta Islam Selama Pandemi ?



Tak lama setelah proses belajar Zaidan dimulai di sekolah dasar, saya sempat bertukar cerita dengan beberapa teman di whats app grup sekolah sma. Setelah saya telaah dari cerita-cerita kami lebih banyak didominasi dengan keluh kesah teman-teman yang anaknya bersekolah di sekolah negri. Terutama seorang teman yang anaknya sudah kelas 6.

Tentu saja ia lebih banyak punya keluh kesah karena dari tingkatan pendidikan anaknya saja sudah lebih banyak tekanan daripada anak saya yang baru mulai masuk sekolah dasar dan teman lainnya yang anaknya masing-masing masih di berada di bawah kelas 6.

"gue pusing banget sama tugasnya, ya ampun mana setiap hari harus dikumpulin sebelum jam 12 siang, kadang anaku gue nggak mau ngerjain sendiri, akhirnya gue yang ngerjain deh tar anak gue tinggal nyalin, belum lagi kalau harus buat video terus anaknya juga males-malesan"

"Setiap pagi hari harus kirim absen ke guru, sementara anaknya nggak mau bangun pagi, terus yang buat puyeng nih tugas-tugas itu nggak dikasih contohnya, kita cuma disuruh lihat aja caranya di youtube yang linknya di bagikan di wag, makanya gue jadi puyeng kalo anak gue dapat pr matematika"

... dannn banyak lagi deh ceritanya.

Setelah mengetahui dari cerita teman saya kalau lebih banyak kesulitan dan keribetannya itu yah dan dari situ membuat saya jadi melihat perbedaan yang jauh sekali pada proses belajar siswa dan guru mengajar di sekolah swasta dan negri.

Maaf sekali untuk bunda-bunda yang saat ini menyekolahkan anaknya di sekolah dasar negri karena saya tidak mengalami kejadin serupa. Kebetulan saya memilihkan zaidan untuk bersekolah di sekolah swasta islam.

Sehingga saya tidak merasakan pengalaman seperti teman-teman saya, kalau saya jadi teman-teman saya dengan kondisi saya sebagai ibu bekerja yang tidak selalu bisa menemani Zaidan ketika bersekolah online via zoom. Nggak kebayang lagi puyengnya seperti apa.

Tepat dibulan oktober ini, Zaidan telah bersekolah selama 3 bulan dan baru saja menyelesaikan masa ulangan harian, bahkan hari ini pun sudah ada pembagian nilainya yang dikirimkan via email. Alhamdullilah nilai Zaidan bagus semua.

Seingat saya pada tahun lalu dibulan oktober saya mendaftarkan Zaidan untuk masuk sekolah swasta islam ini, sengaja mendaftarkan di gelombang 1 agar dapat diskon harga yang lebih daripada gelombang berikutnya. 

Ayah bunda ada yang juga ingin mendaftarkan anak sekolah di sekolah swasta islam kah ? masih penasaran cara belajarnya seperti apa kalau di sekolah dasar islam ?. Kalau sekolah swasta sudah pasti beda-beda yah caranya, namun kurikulum tetap mengikuti dari pemerintah cuma ada modifikasi disesuaikan dengan visi misi sekolah tersebut. 

Beberapa hal berikut menjadi catatan saya yang mungkin berguna untuk menjadi bahan pertimbangan untuk ayah bunda bila merencanakan menyekolahkan anak di sekolah dasar islam dan bilamana untuk tahun depan masih terkondisikan sekolah online karena pandemi.


Sekolah online Namun Belajarnya Seperti Sekolah Offline

Sejujurnya selama proses belajar Zaidan selama  tiga bulan ini saya tidak mendapati kesulitan yang berarti, selain masalah koneksi internet yang memang tidak bisa kita paksakan untuk selalu stabil tanpa ada gangguan disetiap hari.

Zaidan bersekolah via zoom meeting setiap hari dari jam 7 sampai dengan 10 pagi di hari senin, rabu dan jumat sementara di hari selasa ia sudah mulai belajar dari jam 7 pagi hingga jam 11.30 pagi.

Dua hari tersebut belajarnya lebih lama karena Zaidan bersekolah di sekolah islam sehingga ada tambahan kelas mengaji selama setengah jam yang menggunakan metode ummi dan kelas ini wajib untuk diikuti seperti mata pelajaran lainnya.

Sebenarnya untuk kelas mata pelajaran baru akan dimulai pada jam 8 pagi, pada 45 menit pertama yang dilakukan adalah murojaah, shalat duha serta menuliskan 1 ucapan syukur atau kadang juga khusus dihari senin diadakan upacara secara online. 

Proses belajar via zoom ini juga tetap ada jam istirahatnya yah selama 15 menit karena dalam satu hari biasanya hanya ada dua mata pelajaran yang berlangsung selama 45 menit. Untuk hari yang ada kelas ummi, jeda istirahat lebih lama sekitar setengah jam, sehingga ada cukup waktu juga untuk anak-anak beristirahat atau bermain sesaat.

Untuk tugas sekolah diberikan setiap hari, setiap mata pelajaran pasti ada tugas atau pr seperti sekolah biasanya, jarang sekali bila tidak ada pr, namun pr tersebut boleh dikumpulkan hingga akhir pekan, lebih tepatnya di setiap hari sabtu jam 4 sore paling telat untuk pengumpulan di google class room (gcr).

Iya semua tugas sekolah yang dikerjakan kemudian difoto oleh orang tua lalu dikirimkan hasilnya ke guru melalui google class room (gcr), untuk yang belum tahu gcr ini adalah sebuah aplikasi yang ada di hp baik itu android maupun ios.


Tetap Banyak Kegiatan Praktek Walau Sekolah Online

Dengan sekolah online yang diperlakukan seperti sekolah offline sehingga kegiatan apapun tetap dapat dilaksanakan, seperti membuat prakarya, berolahraga senam bersama hingga yoga hingga gathering online orang tua murid dengan guru-guru (bisa dibaca disini) dan yang baru-baru ini di laksanakan adalah program cookery day.

Banyaknya kegiatan praktek disekolah ini pun tidak terlalu membuat saya kewalahan karena informasi dari sekolah sudah dari jauh hari dan kelengkapan apa saja yang harus dipersiapkan untuk digunakan.

Seperti saat cooker day itu malam sebelumnya saya sudah mempersiapkan bahan-bahan untuk keperluan untuk membuat bola-bola coklat, kemudian perlengkapan juga disiapkan seperti topi chef, apron, sarung tangan plastik dan lainnya.

Sehingga tidak ada masalah walaupun saat kelas cookery day itu Zaidan hanya ditemani oleh tantenya saja karena kebetulan saya ada jadwal wfo, karena saya bisa meneruskan informasi dari sekolah kepada tantenya mengenai gambaran akan seperti apa kelas membuat kue tersebut.

... dan Zaidan pun senang sekali dengan kegiatan-kegiatan dari sekolahnya tersebut. Zaidan memang selalu bersemangat kalau ada kegiatan praktek dari sekolah.


Beratnya Sekolah Dasar Islam

Namun nggak semua pelajaran sekolah itu disukai Zaidan yah, karena Zaidan ini bersekolah di sekolah islam sehingga pelajaran pun lebih banyak yang terkait dengan agama yang lebih banyak porsinya, sehingga pelajaran menghafal pun menjadi kewajiban setiap hari yang disetor di akhir pekan, tepatnya di hari jumat. 

Nah pelajaran hafalan ini kurang disukai Zaidan, sebenarnya bukan hanya Zaidan sih, kalau tengah bisa menemani hampir kebanyakan anak-anak memang kurang suka dengan pelajaran hafalan. Hingga saya pun kadang agak lebih keras ke Zaidan mengingat juga beberapa kali mendapat japrian dari gurunya agar Zaidan bisa lebih baik lagi belajar hafalan.

Namun alhamdullilah setelah proses pembelajaran selama 12 minggu ini, sudah menghafal sebanyak 6 surah pendek, mulai dari an-naas, al falaq, al ikhlas, al lahab, al nasr dan terakhir yaitu al kafirun. Tidak hanya menghafal juga diharuskan menbaca dengan tajwidnya yang benar.

Untuk hal lain yang memberatkan juga adalah kuota internet karena selama 5 hari bersekolah dengan zoom meeting dan sehari itu bisa sampai 5 jam apalagi bersamaan dengan saya yang kadang juga bekerja dari rumah dan ada zoom meeting akhirnya rebutan sinyal juga deh.

Namun yang paling berat dari sekolah swasta tidak hanya sekolah swasta islam seperti sekolah Zaidan tentu saja uang pendaftaran dan uang spp tiap bulan yang harus dibayarkan. Pastikan yah ayah bunda sesuai dengan kemampuan finansial kita. 

Mengingatkan juga sd itu masa sekolah yang paling lama daripada jenjang sekolah lainnya, makanya penting sekali untuk mempertimbangkan hal lainnya yang mendukung untuk proses belajar anak-anak kita. 

Semoga sharing ini bermanfaat yah ayah bunda, senang sekali bila yang membaca ada jejak pertanyaan, kritik dan saran atau boleh juga curhatan untuk postingan kali ini di kolom komentar.


Komentar

  1. Hemm, walaupun online tetap seperti offline ya apalagi si kecil makin kreatif dan lucu pakai baju ala-ala koki gitu. Semangat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba salah satu keseruan sekolah online yang ttp berjalan seperti sekolah offline ada kegiatan2 yang membuat anak2 gak bosen

      Hapus
  2. Banyak minus dan plus sekolah swasta islam yang penting anak happy, biaya tidak beban orangtua dan menerapkan ilmu agama yang diterima di sekolah.

    BalasHapus
  3. Ini jadi informasi yang bermanfaat untuk saya yg deg-degan karena tahun depan nih si sulung mau daftar kelas 1. Semoga lancaaar nak sekolahnya, maminya juga kuaatt yaa.

    BalasHapus
  4. ah senangnya baca komenmu mba. aku berharapnya mmg tulisan ini bisa jadi pertimbangan pemilihan sekolah anak2 biar gak salah pilih krn sd tuh lama banget loh 6 tahun. semoga menemukan sekolah idaman untuk ortu dan anaknya juga yah mba. semangat cari sekolahnya.

    BalasHapus
  5. Anakku tahun depan masuk SD. Dua tahun yang lalu, aku dan suami sepakat untuk nyari TK Islam yang ada SD nya juga, jadi dari sistem pembelarannya biasanya nyambung. Dan memang yan aku rasakan juga gitu, Mbak. Selama TK di masa pandemi ini, anak sekolah online, tapi berasa offline.

    BalasHapus
  6. Pemilihan sekolah buat anak memang harus dipikirkan matang2 ya mba agar anak juga menjalani sekolahnya dengan nyaman jugaa

    BalasHapus
  7. Anakku yang sekolah sudah 2, si kakak sulung baru masuk SMP negeri dan si tengah masih SD kls 3, memang banyak perbedaan antara sekolah negeri dan swasta terlebih sebelum pandemi, dari jam belajarnya saja juga lebih panjang

    BalasHapus
  8. MasyaAllah, saya sebenarnyaa lebih suka Sekolah Islam gini jadi anak bisa lebih banyak belajar agama, pondasinya InsyaAllah lebih kuat. Apalagi ada tugas hafalan dan diajarkan Shalat Dhuha tiap hari sedari kecil, otomatis anak akan terbiasa nantinya nih.
    semangat terus belajarnya ya Zaidan. :)

    BalasHapus
  9. Anakku juga awalnya sempat kewalahan dengan hafalan. Tapi insyaAllah lama kelamaan dipermudah. Senangnya walaupun online tapi masih tetap ada kegiatan yang menurutku itu buat anak jadi semangat ya

    BalasHapus
  10. Anakku tadinya mau masukin PAUD tahun ini, tapi karena Pandemi aku tunda. Sempat coba belajar online malah gak mau. Mudah-mudahan saja tahun depan bisa offline. Mau swasta atau negeri biaya harus dipertimbangkaa juga ya, Mba. Minimal sesuai dengan kemampuan.

    BalasHapus
  11. Anakku saat naik kelas tiga ini malah pindah sekolah konvensional
    ternyata dia lebih cocok sekolah online
    jadi pindah ke sekolah dgn sistem blended learning, gabungin online dan offline

    BalasHapus
  12. asli loh sekolah online itu capee banget. soalnya kita kan kudu duduk dampingin yaa kalau anak2 masih TK gitu.. kalau udah SD mungkin bisa dibiarin sebentar2 dan disambi aktivitas. kalau masih TK kudu tetep didampingin dan dibantu.. yang penting anak hepi dan tetep bisa berkembang deh alhamdulillah hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener bun krn anak sd sudah lebih memahami apa yang disampaikan oleh miss-nya, semangat yah bunda biya menemani sekolah online

      Hapus
  13. Anak saya sekolah di sekolah negeri dan memang selama belajar online ini, ortu lumayan jungkir balik dalam urusan tugas yang banyak, alhamdulillah sekarang udah mulai tatap muka walaupun belum 100%, tapi lumayanlah, makasih ya sharing sekolah swasta islam, semoga makin betah dan lancar belajarnya untuk Zaidan

    BalasHapus
  14. Memilih sekolah buat anak memang harus banyak survey dulu. Biar nemu yang cocok dan pas. Kalau nggak ada kendala di biaya, sekolah swasta bisa jadi pilihan karena banyak yang kualitasnya bagus.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik, semua komentar akan di moderasi terlebih dahulu oleh penulis.

Postingan populer dari blog ini

Kunjungan Ke Perpustakaan Nasional Bersama Anak

Pengalaman Trial Class di EF

Homypool, Rental Private Swimming Pool Untuk Keluarga