Ajakan Makan Siang yang Membuat Penasaran
“Ayo, kita makan warteg, tapi di dalam mal.”
Ajakan itu
terdengar cukup menggelitik. Biasanya, membayangkan warteg membuat pikiran saya
langsung menuju deretan lauk di balik kaca, nasi hangat, dan kebebasan menunjuk
makanan sesuai selera. Kali ini, tujuan kami justru Plaza Indonesia. Saya pun
berangkat dengan rasa penasaran tentang pengalaman makan seperti apa yang
menunggu di sana.
Jumat siang itu, kami datang berlima. Begitu tiba, kami segera menuju lantai basement, mencari The Foodhall supermarket, tepatnya The Grocer’s Gourmet. Bagi saya yang kerap merasa bingung mengikuti susunan toko di Plaza Indonesia, memiliki tujuan yang jelas membuat perjalanan kali ini terasa lebih mudah. Kami tidak berkeliling mencari pilihan restoran, melainkan langsung menuju tempat makan yang ingin dicoba.
Setibanya di sana, antrean di area buffet sudah cukup ramai.
Saya dan dua teman perempuan segera ikut mengantre, sementara dua teman
laki-laki membantu mencari tempat duduk. Pembagian tugas spontan itu terasa
berguna, apalagi ketika kami melihat bahwa area makannya tidak terlalu luas.
Mendapatkan tempat untuk lima orang tentu membutuhkan sedikit keberuntungan di
tengah jam makan siang.
Sambil menunggu giliran, perhatian saya tertuju pada pilihan
makanan yang tersaji pada etalase kaca. Menunya variatif dan menggugah selera, sampai saya perlu
mempertimbangkan beberapa pilihan sebelum memesan. Hidangan yang disajikan bercita rasa
Asia dan Barat. Rasanya seperti membawa kebiasaan memilih lauk di warteg ke
suasana supermarket dalam mal, dengan pilihan masakan yang memberi lebih banyak
ruang untuk mencoba kombinasi berbeda.
Istilah warteg dalam ajakan kami terasa cocok untuk
menggambarkan cara memilih makanannya. Pelanggan melihat hidangan yang
tersedia, menentukan kombinasi, lalu petugas mengambilkan pesanan. Meski
demikian, tempat ini memiliki suasana dan susunan paketnya sendiri. Buat saya,
kesamaan paling menyenangkan terletak pada kesempatan menyusun sepiring makanan
berdasarkan selera, tanpa harus memesan satu menu jadi yang seluruh komponennya
sudah ditentukan.
Memahami Paket Sebelum Memesan
Paket makan siang yang ditawarkan berharga mulai dari
Rp55.000 sebelum pajak. Komposisi yang diinformasikan mencakup satu pilihan
karbohidrat, satu protein hewani, dua pilihan pendamping berbasis nabati, serta
sambal, acar, dan kerupuk. Mengetahui susunan ini membantu saya memilih dengan
lebih terarah. Saya tinggal menentukan makanan utama, lalu mencari pasangan
lauk yang rasanya terasa cocok untuk dinikmati bersama.
Harga tersebut merupakan harga yang saya temui saat
berkunjung, sehingga teman-teman tetap perlu melihat informasi di lokasi ketika
datang. Kata “mulai” juga membuat saya merasa penting untuk memastikan pilihan
yang termasuk dalam paket sebelum membayar. Dengan begitu, pengalaman memilih
makanan tetap menyenangkan dan perkiraan pengeluaran lebih jelas, terutama
karena pajak belum masuk dalam harga yang disebutkan.
Untuk wadah, tersedia kotak makan bersekat empat dan piring
beling. Kotak bersekat memudahkan pemisahan makanan, terutama jika kita memilih
lauk dengan saus berbeda. Jika ingin membawa pulang pesanan, penutup kotak
dapat diminta kepada kasir. Pilihan piring beling juga tersedia untuk menikmati
makanan langsung. Hal kecil seperti ini memberi keleluasaan menyesuaikan cara
makan dengan kebutuhan masing-masing pelanggan.
Sepiring Pilihan yang Tidak Mengecewakan
Pilihan saya akhirnya jatuh pada nasi Hainan, daging sapi
teriyaki, tumis buncis, dan creamy spinach. Setelah sempat bingung melihat
banyaknya menu, kombinasi ini terasa paling menarik. Ada nasi sebagai dasar,
daging sebagai lauk utama, serta dua pendamping sayuran dengan cara pengolahan
berbeda. Saya berharap semuanya cocok ketika disatukan dalam satu waktu makan,
dan ternyata pilihan itu menyenangkan.
Nasi Hainan menjadi pasangan yang pas untuk daging sapi
teriyaki. Keduanya membuat bagian utama makan siang saya terasa memuaskan.
Tumis buncis memberi variasi di antara suapan nasi dan daging, sementara creamy
spinach menawarkan karakter yang berbeda dari sayuran tumis. Saya menikmati
kesempatan berganti dari satu komponen ke komponen lainnya, sehingga isi piring
tidak terasa membosankan sampai akhir.
Sambalnya pun ikut mendapat perhatian. Pedasnya terasa enak
dan cocok dengan selera saya. Dalam sepiring makanan yang sudah memiliki
beberapa cita rasa, sambal menjadi pelengkap yang bisa ditambahkan sedikit demi
sedikit. Saya tidak perlu mencampurkan semuanya sekaligus. Cukup mengambil
sesuai keinginan, lalu menikmati bagaimana setiap lauk memiliki tempatnya
sendiri dalam pengalaman makan siang tersebut.
Secara keseluruhan, tidak ada pilihan di piring saya yang mengecewakan. Porsinya juga banyak dan mengenyangkan. Bagi saya, kepuasan makan siang datang ketika rasa dan jumlah makanan sama-sama sesuai harapan. Kali ini, keduanya terpenuhi. Saya bisa menikmati lauk dengan cukup leluasa, menghabiskan sayurannya, dan menyelesaikan nasi tanpa merasa harus mencari tambahan makanan setelahnya.
Petugas melayani dengan cepat dan sigap saat mengambilkan
pesanan. Di tengah antrean, pelayanan yang terarah membantu proses memilih
makanan berjalan lancar. Namun, area duduk tetap menjadi hal yang perlu
diperhitungkan. Pilihan meja dan kursinya terbatas. Untungnya, kedua teman kami
berhasil mendapatkan tempat yang cukup untuk berlima, sehingga kami dapat
menikmati makan siang bersama dengan nyaman.
Sambil makan, seorang teman bercerita bahwa menu yang
tersedia berganti setiap hari. Menurut pengalamannya, pilihan makan malam juga
berbeda dari makan siang. Ia menyebut adanya pilihan pasta, selain nasi dan
mashed potato, yang membuatnya merasa paket makan malam lebih menarik.
Mendengar cerita itu, saya langsung penasaran, meskipun saya sendiri belum
mencoba dan belum bisa membandingkan keduanya.
Cerita teman tersebut memberi alasan untuk datang kembali.
Pergantian menu berarti kunjungan berikutnya mungkin menghadirkan pilihan yang
berbeda. Namun, saya tetap ingin melihat langsung hidangan yang tersedia
sebelum menentukan pesanan. Justru bagian memilih itulah yang membuat
pengalaman ini menyenangkan: datang dengan selera tertentu, melihat pilihan
hari itu, kemudian menemukan kombinasi yang terasa paling cocok.
Menemukan Alasan untuk Kembali
Kami menghabiskan pesanan masing-masing sambil mengobrol.
Pengalaman pertama ini membuat saya merasa menemukan sudut makan yang
sebelumnya terlewatkan di Plaza Indonesia. Selama ini, perhatian saya lebih
sering tersita oleh perjalanan mencari toko dan mengikuti arah di dalam mal.
Ternyata, ada pilihan makan siang yang sesuai selera saya di area
supermarketnya.
Ketika tempat semakin ramai, kami memutuskan menyudahi makan siang dan memberi kesempatan kepada pengunjung lain menggunakan tempat duduk. Saya pulang dengan rasa kenyang dan keinginan mencoba menu lainnya. Pengalaman ini layak diingat untuk kunjungan berikutnya. Untuk yang ingin mencoba, luangkan waktu memilih lauk dan perhatikan ketersediaan kursi, terutama jika datang bersama rombongan saat jam makan siang sedang ramai.
Kalau kalian pernah
makan di The Grocer’s Gourmet, lauk apa yang paling berkesan? Bagikan
ceritanya, siapa tahu menjadi pilihan saya nanti.





Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik, semua komentar akan di moderasi terlebih dahulu oleh penulis.