Maya Rumi

"todays little moments become tommorows precious memories"

Jl. Cikini IV No.22, RT.15/RW.5, Cikini, Kec. Menteng, jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10330, Indonesia

Panci Bahagia Di Bawah Rel Cikini

,    

Ada nama tempat makan yang membuat kita langsung membayangkan hidangannya. Ada pula nama yang justru mengundang pertanyaan. Panci Bahagia termasuk yang kedua. Ketika pertama kali mendengarnya, saya tersenyum. Lucu juga, pikir saya. Panci memang dekat dengan urusan memasak, tetapi menggabungkannya dengan kata “bahagia” membuat nama itu terasa hangat, akrab, sekaligus sedikit menggelitik rasa penasaran.

Rupanya, nama tersebut memiliki cerita yang sederhana. Bahagia diambil dari nama pemilik sekaligus juru masaknya, Bahagia Garus, yang lebih akrab disapa Kang Gia. Jadi, kebahagiaan pada papan nama itu bukan sekadar janji tentang makanan enak. Ada nama seseorang di dalamnya, seseorang yang turun langsung menyiapkan pesanan para pelanggan melalui dapur mungilnya.

Menemukan Dapur Mungil di Cikini

Siang itu, sekitar pukul sebelas, saya datang bersama tiga orang teman. Kami memarkir motor di seberang warung, lalu berjalan menghampiri Panci Bahagia di Jalan Cikini IV Nomor 22, Jakarta Pusat. Letaknya berada di bawah jalur KRL, di pinggir jalan raya. Tempatnya kecil, menyatu dengan suasana jalanan yang menjadi bagian dari pengalaman makan kami hari itu.

Dari luar, tidak ada ruang makan luas yang menunggu. Bangunan warungnya lebih banyak berfungsi sebagai dapur, tempat Kang Gia bekerja mengolah pesanan. Beberapa kursi kayu tersedia untuk pelanggan yang ingin makan langsung. Meja makan tidak tersedia. Kami pun menyesuaikan diri dengan tempat duduk yang ada, membawa rasa penasaran yang sejak awal sudah lebih besar daripada tuntutan kenyamanan.

Kang Gia menyambut kami dengan hangat. Ia kemudian menyampaikan secara lisan enam pilihan masakan yang dapat dipesan hari itu. Mendengarkan menu langsung dari orang yang memasaknya terasa cukup menyenangkan walaupun menurut kami lumayan merepotkan untuk pemilik warung. 

Namun mungkin seperti itulah khasnya, yang membuat pemesan ada kesempatan untuk memperhatikan penjelasan, menimbang pilihan tanpa teralihkan fokus pada gambar, lalu menentukan hidangan yang paling menggugah selera. Percakapan sederhana itu justru menjadi pembuka makan siang yang terasa sebagai jalan lain penjual mengakrabkan diri kepada pembelinya.

Setelah mempertimbangkan pilihan, dua teman saya memesan nasi paket komplit. Saya dan seorang teman lainnya memilih nasi daging sapi dengan saus lada hitam. Pesanan kami kemudian mulai dimasak. Di warung ini, hidangan disiapkan setelah pelanggan memesan, sehingga kami perlu menunggu sekitar lima belas hingga dua puluh menit sebelum makanan akhirnya dapat dinikmati.

Waktu tunggu tersebut memberi kami kesempatan untuk mengobrol dan memperhatikan sekitar. Belum lama duduk, pelanggan lain mulai berdatangan untuk makan siang. Warung yang mungil perlahan terasa semakin ramai. Selain Kang Gia di bagian memasak, ada seorang pelayan yang membantu mengantarkan pesanan. Keduanya berbagi pekerjaan di tengah pelanggan yang terus bertambah.

Bagi yang datang dalam keadaan sangat lapar, menunggu tentu membutuhkan kesabaran. Apalagi, tempat duduknya sederhana dan ruang yang tersedia terbatas. Namun, mengetahui bahwa pesanan baru mulai dimasak setelah dipesan membuat waktu tunggu itu lebih mudah dipahami. Kami memilih menikmati percakapan sambil menanti, tanpa terus menghitung berapa menit yang sudah berlalu sejak pesanan disampaikan.

Daging Melimpah dan Porsi yang Pas

Ketika nasi daging sapi saus lada hitam saya akhirnya datang, perhatian langsung tertuju pada porsinya. Dagingnya melimpah, sementara nasinya relatif sedikit dibandingkan porsi yang biasa saya temui. Bagi sebagian orang, nasi sebanyak itu mungkin terasa kurang. Buat saya, justru pas. Saya tidak perlu meminta nasi setengah atau menyisakan bagian yang tidak sanggup dihabiskan.

Komposisi tersebut membuat saya bisa menikmati daging dengan lebih leluasa. Setiap suapan tidak didominasi nasi, sehingga lauknya terasa cukup sampai bagian akhir. Urusan porsi memang sangat pribadi. Apa yang dianggap sedikit oleh seseorang bisa terasa tepat bagi orang lain. Siang itu, saya menemukan ukuran makan yang sesuai dengan selera dan kebiasaan saya.

Saus lada hitamnya disajikan terpisah dari nasi dan daging. Saya menyukai cara penyajian ini karena bisa menentukan sendiri banyaknya saus pada setiap suapan. Di dalamnya juga terdapat potongan jamur yang menambah variasi tekstur. Saya bisa mencicipi daging terlebih dahulu, kemudian memadukannya dengan saus sedikit demi sedikit, mengikuti selera selama menikmati hidangan.

Di pinggir piring terdapat sambal yang ikut menarik perhatian. Rasa pedasnya cocok untuk saya, cukup terasa, tetapi tidak sampai mengganggu kenikmatan makan. Sambal itu memberikan pilihan rasa lain ketika saya ingin berganti dari saus lada hitam. Sedikit sambal, sedikit nasi, lalu sepotong daging menjadi perpaduan yang membuat suapan berikutnya terus terasa menarik.

Ada pula potongan kentang tipis dan renyah yang meramaikan isi piring. Bentuk serta sensasinya mengingatkan saya pada keripik kentang seperti Piattos. Kehadirannya memberi jeda tekstur di antara nasi, daging, dan jamur. Saya menikmatinya sesekali, menjaga bagian renyah itu sebagai selingan, supaya pengalaman makan tidak terasa seragam dari awal hingga suapan terakhir.

Pelengkap lain yang saya sukai adalah semangkuk kecil kuah kaldu ayam tanpa isian. Penampilannya sederhana, tetapi rasanya terasa ngaldu dan enak. Menyeruput kuah di sela makan memberikan pergantian rasa setelah menikmati daging bersaus dan sambal. Dalam hidangan dengan beberapa unsur berbeda, kuah sederhana seperti ini ternyata mendapat tempat tersendiri di lidah saya.

Meski menikmati makanannya, saya tetap merasa ada bagian yang kurang : sayuran. Pada pesanan nasi daging sapi saus lada hitam saya, tidak terdapat sayuran pendamping. Jamur dalam saus memang menambah variasi, tetapi saya masih membayangkan tambahan sayur yang bisa memberi rasa segar. Kehadirannya tentu akan membuat isi piring terasa lebih beragam dan lengkap.

Hal serupa terlihat pada nasi paket komplit pilihan kedua teman saya. Isinya terdiri atas nasi, daging sapi, bakso goreng, dan kulit ayam. Susunannya terdengar mengenyangkan, terutama bagi penyuka lauk. Namun, sayuran juga belum menjadi bagian dari paket tersebut. Bagi pelanggan yang menginginkan keseimbangan lauk dan sayur, hal ini mungkin perlu diperhatikan sebelum menentukan pesanan.

Untuk minuman, yang saya lihat saat berkunjung adalah air mineral. Saya tidak sempat memastikan apakah ada pilihan lainnya. Air mineral sudah cukup menemani makan siang kami, terlebih setelah menikmati sambal dan saus lada hitam. Sambil makan, obrolan terus berjalan. Sesekali perhatian kami beralih kepada pelanggan yang datang dan pesanan yang diantarkan pelayan.

Pulang Membawa Cerita dan Rasa Bahagia

Suasana semakin ramai, tetapi kami tetap menikmati makanan dengan ritme yang nyaman. Tidak ada keinginan untuk buru-buru menghabiskan isi piring. Meski demikian, keterbatasan tempat duduk membuat saya memahami pentingnya datang dengan perkiraan waktu yang cukup longgar. Pengalaman makan di sini memang melibatkan kesediaan menunggu dan menerima fasilitas yang tersedia dengan sederhana.

Panci Bahagia meninggalkan kesan melalui hal-hal yang dekat mulai dari sambutan pemiliknya, makanan yang dimasak setelah dipesan, porsi daging yang memuaskan, serta kuah yang ternyata begitu saya nikmati. Kekurangannya pun jelas, terutama tempat makan tanpa meja dan belum adanya sayuran pada pesanan kami. Semuanya menjadi bagian dari cerita kunjungan, tanpa perlu ditutupi agar terdengar sempurna.

Ketika makan siang selesai, kami pun melakukan pembayaran cashless, namun jangan khawatir disini juga menerima pembayaran cash maupun transfer atau debit. Menu makanan yang kami pesan berharga 47 ribu per porsi, menurut saya harganya masih ok dan cukup sesuai dengan daging yang melimpah.

Akhirnya nama Panci Bahagia terasa semakin mudah dipahami. Di bawah jalur KRL Cikini, sebuah dapur kecil milik Kang Gia telah memberi kami alasan sederhana untuk pulang dengan perut kenyang dan suasana hati yang menyenangkan.

Teman-teman sudah ada yang pernah datang ke Panci Bahagia ? sharing dong ceritanya di kolom komentar yah.

Komentar

Formulir Kontak