“Akhirnya, di kantor ada kulkas.”
Ha… ha… ha… mungkin terdengar aneh, ya. Bukankah keberadaan kulkas di kantor itu hal yang biasa saja? Bahkan, seharusnya memang menjadi salah satu fasilitas dasar untuk karyawan. Namun, di kantorku, fasilitas sederhana itu baru hadir setelah aku hampir 15 tahun bekerja.
Bukan hanya kulkas yang selama ini tidak tersedia. Coffee maker dan microwave pun tidak ada. Kalau menggunakan istilah zaman sekarang, mungkin kantorku bisa disebut sebagai red flag company. Banyak fasilitas kantor yang sebenarnya dapat menjadi pendukung kenyamanan dan produktivitas karyawan, tetapi tidak kami dapatkan di sini.
Apakah kami pernah protes dan mengajukan permohonan ke bagian GA, yang memang bertugas memenuhi kebutuhan karyawan di kantor? Tentu saja pernah. Bahkan, pernah ada masa ketika kami begitu kesal hingga akhirnya membeli water dispenser dan air galon sendiri. Alasannya sederhana: kami hanya ingin bisa menikmati air dingin dan tidak selalu bergantung pada air yang disediakan kantor.
Namun, ketika manajemen mengetahui hal tersebut, water dispenser itu justru diamankan. Rasanya mengesalkan sekali. Kantor tidak menyediakan fasilitasnya, tetapi ketika kami berusaha memenuhi kebutuhan itu secara mandiri, ternyata juga tidak diperbolehkan. Akhirnya, kami terpaksa menjualnya kembali.
Iya, “kami”. Karena ini bukan hanya cerita saya seorang, melainkan cerita seluruh karyawan yang berada di lantai 2. Saat itu, kami cukup kompak untuk memperjuangkan sesuatu yang kami anggap sebagai hak sederhana di tempat kerja.
Namun, itu cerita lama.
Seiring waktu, kami pun berdamai dengan kondisi kantor yang minim fasilitas. Fasilitas yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja, bagi kami terasa seperti sebuah kemewahan.
Kami terbiasa tidak bisa menikmati minuman dingin saat cuaca sedang panas-panasnya. Kami terbiasa tidak bisa menyimpan makanan atau minuman yang perlu didinginkan. Kami juga terbiasa tidak bisa menikmati bekal makan siang yang tetap hangat, atau membuat kopi sendiri, sehingga harus selalu membeli melalui aplikasi online.
Ternyata, memang dibutuhkan banyak kesabaran hingga akhirnya, sejak awal tahun 2026, manajemen kantor melalui Departemen GA mulai berbenah. Perlahan, fasilitas untuk karyawan mulai diperbaiki. Tidak hanya fasilitas yang digunakan bersama, tetapi juga fasilitas pribadi seperti kursi kerja.
Kegiatan positif dari manajemen dalam mendengar keluh kesah karyawan ini ini terus berlanjut dan bertepatan dengan peringatan Hari Bumi pada 22 April lalu. Seluruh karyawan dikumpulkan pukul 2 siang di ruang serbaguna lantai 5.
Di sana, kami tidak hanya mendapatkan kembali sosialisasi mengenai 3K dan 5R dalam perusahaan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk sharing dan caring, agar kami bisa bersama-sama menciptakan suasana kerja yang lebih aman, nyaman, bersih, rapi, sekaligus mendukung produktivitas kerja.
Kini, lemari pendingin sudah tersedia di pantry setiap lantai. Kondisi pantry juga akan didesain ulang agar terlihat lebih modern, bersih, dan rapi.
Tak mau melewatkan kesempatan, saya juga turut menyampaikan masukan terkait fasilitas baru, yaitu kehadiran hand dryer pada toilet. Ide itu muncul dari pengalaman pribadi, terutama saat musim hujan.
Ketidakadaan hand dryer di toilet, terkadang ketika musim hujan kami harus bekerja dengan mengenakan pakaian baik itu atasan maupun bawahan, hingga hijab dengan kondisi yang lembap karena pakaian tersebut terkena air hujan dalam perjalanan.
Dengan adanya hand dryer, fasilitas tersebut tidak hanya berfungsi untuk mengeringkan tangan setelah mencuci tangan di wastafel, tetapi juga dapat membantu mengeringkan bagian pakaian atau hijab yang basah karena hujan.
Selain itu, ada juga karyawan yang mengusulkan penyediaan tempat payung di bagian depan kantor, atau plastik khusus untuk membungkus payung basah. Tujuannya agar area lobby dalam kantor tidak menjadi becek dan licin akibat tetesan air dari payung yang dibawa masuk ke dalam ruangan kerja.
Ada pula yang mengusulkan agar kebijakan WFH dapat diberlakukan, selain sesuai dengan anjuran pemerintah, juga karena dianggap dapat membantu kantor dalam menghemat penggunaan listrik dan internet. Namun, sepertinya usulan ini masih menjadi pertimbangan yang cukup berat bagi perusahaan, meskipun alasan yang disampaikan sebenarnya cukup realistis.
Ada banyak hal lain yang disampaikan oleh para karyawan di hari itu, saking serunya pertemuan tersebut memakan waktu hingga dua jam lamanya. Walaupun mungkin hari itu kami jadi kehilangan waktu dalam menyelesaikan pekerjaan dihari itu, tapi rasanya senang sekali akhirnya manajemen kantor membuka ruang diskusi tersebut dengan keterbukaan dan kejujuran.
Mari berkomitmen bersama
Untuk menjaga harapan baik dari kedua belah pihak, baik karyawan maupun manajemen, kami kemudian membuat komitmen di masing-masing departemen. Kami diberikan waktu setiap hari jumat sekitar jam 4 sore untuk berbenah di meja kerja masing-masing. Bahkan, diadakan pula sayembara agar kegiatan ini terasa lebih seru, partisipatif, dan kompetitif.
Kegiatan voice of employee ini pun akan terus dibuka, sehingga perbaikan yang ada pada kantor akan terus berlanjut dan kami pun diharapkan berperan aktif dalam mendukung adanya ruang kerja yang nyaman, aman dan mendukung produktivitas yang ujungnya tentu saja untuk kemajuan perusahaan.
Pada akhirnya, mungkin kehadiran kulkas di kantor memang terlihat sederhana. Namun, bagi kami, ini bukan sekadar tentang lemari pendingin. Ini tentang suara karyawan yang akhirnya didengar. Tentang perubahan kecil yang memberi harapan. Tentang lingkungan kerja yang perlahan mulai menjadi tempat yang lebih manusiawi, nyaman, dan layak untuk bertumbuh bersama.
Apakah teman-teman bekerja pernah mengalami hal serupa, atau ada cerita yang lebih seru seputar fasilitas yang diberikan kantor ? sharing ceritanya yuk di kolom komentar.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik, semua komentar akan di moderasi terlebih dahulu oleh penulis.