Jumat, 21 Januari 2022

Days In My Life : Cerita tentang Operasi Katarak

Alhamdullilah, sudah masuk minggu ketiga januari, kerjaan kantor mulai memasuki fase slow motion, ada tapi nggak melelahkan karena deadlinenya bisa disesuaikan. Minggu ini juga saya menyadari mulai banyak lagi terdengar suara mobil ambulance di sekitar kantor.

Mendengar suara ambulance, bukanlah sebuah pertanda baik dikala pandemi ini, saya pun sempat membaca berita di kumparan beberapa daerah di Jakarta mulai kembali dijadikan zona merah dan ada rencana juga dari pemerintah untuk mulai memberlakukan wfh total, semoga tidak kejadian yah, semoga tak semakin menyebar luas anak virus dari corona ini.

Namun minggu ini full story bukan tentang omicron melainkan tentang mama yang seminggu ini sibuk dengan urusan kesehatan matanya.

btw, setelah dua minggu menuliskan cerita ala-ala a day in my life dan menggantinya menjadi a week in my life, saya pikir-pikir kurang ok judulnya, jadi saya ganti jadi days in my life aja agar lebih tepat, karena kalau a day in my life kan cerita seharian kalau dibahasa indonesiakan tapi kalau days in my life dapat diartikan sebagai cerita sehari-sehari dalam kehidupan, ya nggak sih ?

Minggu ketiga Januari 2022 ini terasa melelahkan, bukan lelah raganya yah tapi lelah pikirannya. Jadi setelah mengeluhkan matanya yang tidak nyaman ketika melihat, akhirnya mama saya memutuskan untuk mengecek ke dokter mata.

Tentang penyakit Katarak

Setelah pengecekan tersebut barulah diketahui bila kedua mata mama mengalami katarak. Katarak memang merupakan penyakit mata yang umumnya diderita oleh para lanjut usia. Gejalanya adalah lensa mata terlihat keruh sehingga pandangan pun menjadi kabur.

Dari hasil pengecekan juga diketahui bila untuk mata sebelah kiri mama, kataraknya sudah parah dan harus segera dilakukan operasi sementara untuk mata bagian kanan belum terlalu parah namun tetap harus dilakukan operasi.

Penyakit katarak ini ternyata tidak dapat diobati untuk kesembuhannya hanya dapat sembuh bila melakukan tindakan operasi. Menurut dokter yang saya temui, kemungkinan besar setelah operasi katarak yang dilakukan selama 30-45 menit lamanya. Untuk penglihatan baru akan kembali normal setelah 8 minggu.

Ketika operasi katarak dilakukan dokter akan mengganti lensa mata yang keruh tersebut dengan lensa mata buatan yang lebih jernih. Operasi katarak merupakan operasi mata yang paling aman dilakukan karena prosedurnya jarang menimbulkan komplikasi.

Gratis, Operasi Katarak Dengan BPJS 

Sehingga kemudian setelah mendapat referensi dari mama mertua adik saya yang baru saja melakukan operasi katarak menggunakan BPJS dan tanpa dikenakan biaya, kami pun membantu mama mengurus surat rujukan ke rumah sakit agar dapat segera dilakukan tindakan operasi yang disarankan oleh dokter mata.

Prosesnya kita hanya mendatangi faskes pertama yaitu puskesmas atau klinik umum sesuai dengan pendaftaran BPJS kita, lalu kita meminta kepada petugas untuk dibuatkan surat rujukan ke rumah sakit yang terdapat dokter spesialis mata. Kemudian saat datang ke rs rujukan yang dituju, kita harus mempersiapkan dokumen berikut :

  1. Foto copy kartu BPJS
  2. Foto copy KTP
  3. Surat rujukan

Persyaratan Penting Operasi Katarak

Namun ternyata, salah satu persyaratan untuk dapat dilakukan tindakan operasi katarak yaitu kadar gula darah harus kurang dari 200 mg/dl dan kebetulan beberapa hari terakhir ini memang kadar gula mama berada diangka 300 mg/dl terus.

Dengan tidak dapat dipenuhinya persyaratan tersebut, kemudian dokter menunda waktu untuk dilakukan operasi katarak tersebut dan setelah diberikan surat rujukan ke dokter penyakit dalam, mama pun disarankan untuk mengurangi kadar gula darah dengan diresepkan obat-obatan dan juga pola makan sehat hingga kadar gula darah dapat turun dan kemudian dapat dilaksanakan operasinya.

Proses BPJS Di RS

Sepertinya tidak terlalu rumit yah bila membaca cerita saya tersebut, namun selama seminggu ini saya dan adik-adik bergantian menemani mama bolak balik rumah sakit, baru kali ini saya merasakan yang selama ini dikatakan orang-orang bila pengobatan menggunakan BPJS itu melelahkan prosesnya.

Setiap hari kami mengikuti proses pendaftaran, pengecekan, pengurusan surat rujukan dan yang paling menghabiskan waktu serta tenaga dari semua proses tersebut adalah proses antriannya, setelah pengalaman hari pertama kami pun memutuskan datang lebih pagi atau lebih awal namun tetap saja seluruh proses tersebut baru akan selesai setelah jam makan siang.

Hal lain yang memberatkan dari BPJS ini ketidakjelasan informasi dari RS yang kami datangi, pertama sesuai rujukan kami diminta datang melakukan pengecekan mata di RS A bertemu dengan dokter mata, lalu karena mama ada penyakit diabetes oleh dokter mata kami diminta menemui dokter penyakit dalam masih di RS A juga, namun setelah proses tersebut oleh dokter penyakit dalam kami diminta untuk melakukan pengecekan ke lab yang ada di RS B.

Tak selesai sampai disitu prosesnya, setelah hasil lab keluar kami diminta untuk menemui dokter penyakit dalam di RS B dan dari dokter ini kami diminta membuat surat rujukan lagi ke puskemas untuk melanjutkan pengobatan di RS A dan bertemu dengan dokter mata dan dokter penyakit dalam disana.

Pusing nggak sih bacanya ? saya saja yang menuliskan cerita ini pusing sendiri, hihihi.

Sejak awal kami sudah memilih menggunakan BPJS yah kami tidak bisa mundur lagi dan tetap mengikuti alurnya saja, cuma kalau dipikir lagi, bersyukur dengan kondisi mama yang masih cukup sehat untuk bersabar mengikuti alurnya ini, karena melihat banyak pasien di rumah sakit yang sudah lanjut usia harus berlama-lama antri tak tega rasanya, malah ada dari mereka yang datang seorang diri tanpa ditemani.

Lagi-lagi saya pun bersyukur dengan kondisi saya yang walaupun bekerja namun masih bisa meminta keringanan izin dari kantor untuk bisa menemani mama kerumah sakit dan juga kedua adik saya yang bisa diandalkan untuk bergantian mengantar dan menemani mama.

Urusan mengantar dan menemani mama kerumah sakit ini memang merepotkan bukan karena kami keberatan namun karena kami bertiga mempunyai anak kecil yang sulit bila harus diajak serta ke rumah sakit, selain karena salah satu rumah sakit yang kami datangi mempunyai peraturan melarang anak kecil masuk rs, kami juga lebih ingin menjaga kesehatan anak-anak ditengah masa pandemi ini dengan tidak membawa mereka ke rs, bila tidak dalam kondisi sakit.

Setelah selama hampir seminggu ini bolak balik ke dua rumah sakit, untuk melakukan pengecekan pada dokter mata dan dokter penyakit dalam, namun hingga saya tuliskan cerita ini kapan waktu akan dilakukannya operasi katarak mama masih belum ada informasinya.

Oleh dokter dari rumah sakit B, mama diminta kembali melakukan pengecekan pada dokter mata di rumah sakit A pada tanggal 27 Januari hari kamis nanti. Semoga segera mendapat kabar baik di hari H. Sehingga operasi katarak dapat segera dilakukan dan penglihatan mama pun bisa kembali normal sedia kala.

Terima kasih sudah mampir untuk membaca yah, minggu depan saya lanjutkan lagi cerita tentang operasi katarak mama ini. Selalu jaga kesehatan dan selamat berakhir pekan.

1 komentar:

  1. Bener banget di masa pandemi seperti ini sering banget dengar ambulance melintas di depan rumah apalagi pas jalan-jalan udah gelisah aja hati. Berbicara tentang katarak ini sering lihat dulu marak-maraknya bahkan ada yang open donasi untuk operasi mereka.

    BalasHapus

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik, semua komentar akan di moderasi terlebih dahulu oleh penulis.