3 Tips FOKUS Untuk Pengasuhan & Pekerjaan Dari Buku Minimalis Parenting



Yeay akhirnya saya membaca buku lagi setelah setahun cuti membaca buku. Ada dua perasaan yang secara tak terduga menghampiri. Pertama merasa aneh karena kembali memegang buku, terutama karena saya membawanya kemana-mana karena biasanya hp yang selalu ada digenggaman tapi kali ini buku.

Kedua masih dapat merasakan hadirnya perasaan nikmat karena membaca apalagi dengan kondisi nggak mau melepas bukunya karena sudah terlanjur baca dan jadi membuat penasaran sama cerita lanjutannya.

Buku yang saya baca berjudul "Minimalist Parenting" karya Christine Koh dan Asha Dornfest. Buku yang telah di terjemahkan dalam bahasa indonesia ini saya beli preorder di @birupinkstore. Ketertarikan saya untuk membeli buku ini karena membaca tagline dari bukunya yaitu "menyederhanakan hidup, menikmati pengasuhan"

Setelah mempunyai dua anak sesungguhnya saya tidak dapat lagi menikmati pengasuhan. Lebih banyak dan lebih sering lagi mengalami stress terlebih dengan kondisi pandemi ini, dimana pekerjaan kantor lebih banyak dilakukan dirumah (wfh) jadilah double trouble.

Anak pertama saya Zaidan tengah berada di fase malas se malas malasnya anak kecil. He just want to playing his tablet anytime, anywhere. Padahal di usia 6 tahunnya ini dia punya banyak kegiatan yang harus dilakukan diantarnya adalah mengikuti beberapa les bahasa yaitu bahasa inggris dan bahasa arab juga calistung. 

Anak kedua, Zeanissa berusia 17 bulan tengah berada di fase sangat kepo. Segala hal di coba atau dimasukkan ke dalam mulutnya dan ketika tidak dibolehkan atau dilarang, ia akan mengambek dengan nangis sampai kadang guling-guling.

Setelah membaca buku Minimalist Parenting sebanyak dua bab saya mendapatkan inside baru untuk lebih fokus dalam waktu pengasuhan untuk kedua anak saya tersebut dan tetap dapat menyeimbangkan waktu untuk pekerjaan kantor yang harus di selesaikan. 


1. Kenali Tata Waktu Versi Diri Sendiri

Ada 6 pertanyaan yang diajukan dalam buku Minimalist Parenting, semua pertanyaan tersebut harus kita jawab agar dapat membantu kita mengenali tata waktu versi diri kita sendiri jadi tidak ada yang benar dan salah karena itu semua sesuai dengan kenyamanan diri kita ketika mengatur atau membagi waktu.

  1. Apakah anda tipe orang yang suka bekerja dengan jadwal atau yang fleksibel dan spontan ?
  2. Rutinitas yang terjadwal membuat anda senang atau stress ?
  3. Teman atau orang yang dekat dengan anda mengenal anda sebagai orang yang tepat waktu ? bagaimana menurut diri anda sendiri ? seberapa besar kepedulian anda tentang tepat waktu atau tidak ?
  4. Apakah anda termasuk orang yang mudah berpindah dari satu tugas ke tugas lainnya ? atau harus ada jeda untuk bernafas sesaat ?
  5. Hari libur yang ideal adalah : yang sudah terjadwal kegiatannya atau yang sambil jalan saja ?
  6. lebih senang menghabiskan waktu dengan orang lain atau sendirian ? bagaimana pertimbangannya ?
Dari hasil menjawab 6 pertanyaan tersebut saya mendapati kesimpulan bila segala hal, baik itu untuk pengasuhan dan pekerjaan selama ini sudah saya jadwalkan sehingga akhirnya saya kurang bisa menerima bila ada jadwal yang spontan, jadi mungkin agak butuh jeda untuk bisa mengatur ulang jadwal yang ada.

Bila di suatu hari saya kedapatan waktu yang tak terjadwal, hal tersebut memberi efek samping ke diri saya jadi mudah stress akhirnya jadi tidak fokus ke pengasuhan ataupun ke pekerjaan akhirnya malah jadi terbengkalai keduanya.

Untuk itu saya membuat jadwal lebih detail dengan pembagian jam-nya sehingga dapat meminimalisir adanya waktu spontan sebuah kegiatan yang mungkin tak terelakkan namun saya lebih dapat menerimanya dan tidak kaget dengan perubahan yang terjadi.

Tujuan akhir dari mengenali tata waktu ini adalah agar kita bisa memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang apa yang kita inginkan, kemudian kita bisa memetakan langkah-langkah yang dapat membantu kita untuk mencapai keinginan tersebut.


2. Kenali Waktu Emas 

Hal ini yang baru saya sadari setelah membaca buku Minimalist Parenting dulu sebelum pandemi waktu emas saya adalah pagi hari namun ternyata setelah pandemi kondisi berubah, waktu emas saya adalah malam hari. 

Saya sempat denial dengan kondisi tersebut karena selama ini saya termasuk orang yang tidak dapat tidur terlalu larut, walaupun sudah punya anak jam tidur saya tetap tidak berubah paling telat di jam 9 malam, jadi bila sudah jam segitu anak-anak belum juga tidur, tugas ayahnya adalah menemani mereka sementara saya harus tidur.

Namun ternyata dengan lebih banyak waktu dirumah saja membuat saya tidak terlalu lelah lagi seperti biasanya yang saya harus ke kantor dan menghadapi selain banyak pekerjaan juga harus berjibaku di jalan dengan kemacetan.

Mengenali waktu emas itu penting sekali, ibaratkan diri kita adalah handphone karena dari sinilah kita bisa tahu energi kita paling full atau mendekati lowbat itu kapan, sehingga kita bisa mendorong diri kita untuk menyelesaikan lebih banyak kegiatan ketika waktu energi kita sedang banyak-banyaknya dan ketika sudah lowbat kita bisa kurangi kegiatan kita.

Untuk itu kita bisa mempertimbangkan 3 hal berikut :

  1. Ketika kita butuh me time kita lebih memilih bangun lebih pagi atau tidur lebih malam ?
  2. Waktu paling powerfull diri kita dalam satu hari ?
  3. Waktu paling drop setiap hari ?
Dari mengenali waktu emas ini saya belajar bila waktu emas setiap orang berbeda dan bisa juga disaat orang lain tengah lemas atau lesu justru diwaktu itulah saya bisa dengan cepat dan mudah menyelesaikan tugas atau membersamai kedua anak saya tanpa ada hambatan atau keluhan.

Sekarang saya memfokuskan waktu kerja ketika anak kedua saya tertidur, di siang hari sekitar jam 11- 2 siang kemudian baru membuka laptop kembali di malam hari setelah anak kedua saya tertidur lagi lalu segera menyelesaikan semua pekerjaan kantor yang tertunda atau tidak terselesaikan di waktu siang. Keesokan paginya setelah shalat subuh hingga jam 7 atau sebelum anak kedua saya terbangun saya bisa mengecek wa atau email untuk pekerjaan hari ini yang harus dikerjakan atau diselesaikan.

Jadi di waktu pagi setelah anak saya bangun tidur dan sore hari fokus saya adalah mengasuh ataupun membersamai kedua anak saya, kecuali ada zoom meeting yang tidak bisa ditinggalkan kehadirannya. Dari waktu emas ini saya juga jadi tahu, anak pertama saya tidak lagi harus terus menerus di temani, ia pun sudah punya waktunya sendiri yang penting tetap diawasi kegiatannya.


3. Mencari Level Kesibukan yang Paling Pas Dengan Kita

Waktu tersibuk untuk pekerjaan kantor saya adalah minggu pertama dan minggu terakhir setiap bulan. Dari situ saya memfokuskan waktu untuk lebih banyak memegang pekerjaan kantor jadi bila ada sesuatu yang berhubungan dengan kedua anak saya, maka akan saya alihkan waktunya.

Dalam mencari level kesibukan ini kita bisa menggunakan kalender bulan sebelumnya, syukur-syukur kalau ada catatan kegiatan yang dilakukan sehingga kita bisa menentukan untuk bulan ini atau berikutnya bagaimana harus membagi fokus antara pekerjaan dan pengasuhan seperti apa.

Satu kuncinya agak tak terjebak dengan kesibukan yang seakan tidak ada habisnya, sehingga waktu rasanya terlalu cepat berlalu dan baru kita sadari ternyata yang kita kerjakan hanya sedikit atau yang kita bagi dengan anak tidak memuaskan mereka, yaitu jangan menunda.

Untuk itu penting berfokus pada yang sedang kita kerjakan atau lakukan. Bila sedang bekerja lakukan komunikasi dengan memberi pengertian kepada anak-anak agar tidak menggangu atau dalam kasus saya yaitu menginformasikan kepada ibu saya agar dapat membantu membersamai anak saya ketika saya tengah bekerja atau ada zoom meeting.

Begitu juga bila tengah bersama dengan anak, jangan sesekali mengecek hp untuk kesenangan pribadi seperti membuka instagram, tik tok ataupun youtube. Sesekali mengecek wa di hp hanya untuk memastikan saya tetap fast respon dan tidak lalai dengan pekerjaan kantor yang dikerjakan dirumah.


Baru sekitar sebulan ini saya mulai menerapkan 3 tips tersebut di atas dari buku Minimalis Parenting, masih belum terbiasa namun cukup membantu mengarahkan fokus saya pada dua hal yang selama ini sangat memberatkan di keseharian saya ketika dirumah.

Pilihan yang rumit untuk saya ketika dirumah anak memaksa untuk di temani namun pikiran saya melayang kepada pekerjaan yang tengah menumpuk menunggu untuk di selesaikan.

Semoga ibu bekerja yang mengalami masalah yang sama dengan saya bisa ikut mendapatkan solusinya dari tips buku Minimalis Parenting ini yah, tapi lebih baiknya lagi bila ikutan membaca juga sih, saya sangat merekomendasikan buku ini untuk dibaca karena isinya mudah di pahami dan terjemahannya pun enak di baca sambil santai.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kunjungan Ke Perpustakaan Nasional Bersama Anak

Pengalaman Trial Class di EF

Homypool, Rental Private Swimming Pool Untuk Keluarga