Muka Security Tapi Hati Hello Kity


Setiap awal bulan dikantor dipenuhi dengan deadline laporan, tiap kali awal bulan sudah mau datang nih saya sudah merasa nggak enak saja tapi... itu sih dulu. Bertahun-tahun mengerjakan pekerjaan yang sama sepertinya rasa tidak nyaman hingga bosan sudah saya lalui, sekarang sih saya selalu mengatakan kepada diri saya 

"semua laporan akan selesai, kalau dikerjain, bukan dipikirin susahnya"

Susahnya mengerjakan laporan awal bulan ini bukan karena ribet sama sistemnya tapi ribet sama orang-orangnya yang mengirimkan ke saya, apalagi jumlah mereka ada 28 orang, bukan jumlah yang sedikit untuk bisa diatur dengan mudah.

Jadi sebulan sekali saya tuh seperti kiper dalam permainan sepak bola tapi saya bukan menjaga gawang dari bola yang masuk, saya menjaga agar semua laporan harusnya dapat dikirimkan sesuai deadline.

Seringnya deadline-nya hari ini tapi baru di kirim ketika 2 hari kemudian, ketika saya akan meneruskan lagi laporan tersebut, kebayang nggak pusingnya?.

Kalau laporannya nggak ada revisi sih enak yah, tinggal langsung kirim saja yang terjadi justru sebaliknya dan entah kenapa yah revisi laporan di last minute itu terasa lama padahal yang direvisi cuma sedikit saja.

Dulu tiap kali ada yang terlambat kirim laporan, emosi sudah di ubun-ubun rasanya, inginnya mengeluarkan emosi tersebut. Bagaimana nggak emosi kalau dari awal sudah di informasikan secara lengkap bahkan kalau sampai ada kendala sayanya pun meminta di beritahukan, kemudian saya selalu follow up ketika hari-nya ditambah lagi saya ada juga memberi mereka reminder secara personal bukan digrup whats app.

Namun semua yang saya lakukan terasa sia-sia.

Lama-lama saya pun jadi berfikir banyak mengenai beragam karakteristik orang-orang ini, yang saya temui 28 orang, jadi harusnya wajar bila ada puluhan kemungkinan dan saya pikir-pikir lagi bila nggak semuanya kok susah di atur atau susah mengikuti instruksi yang saya berikan.

Malah sebenarnya mereka yang tidak dapat mengikuti apa yang saya informasikan hanya ada dalam jumlah yang sedikit, hanya hitungan jari-jari pada sebelah tangan saja, lalu kenapa saya harus begitu memusingkan.

Mereka pun sebenarnya tahu bila laporan ini merupakan salah satu kpi (key performance index) untuk penilaian kerja dan mereka masih bisa bersikap biasa, kenapa saya harus yang heboh luar biasa.

Sehingga sebenarnya hal tidak nyaman yang saya rasakan justru karena persepsi saya saja kepada mereka dan karena terjadi berulang lagi dan lagi serta merta saya pun menyamakan bila mereka semua sulit untuk di ajak kerja sama.

Padahal belum tentu kan. Sejak itu saya merubah pola pikir dan belajar mulai lebih bisa menerima kondisi tersebut.

Selanjutnya saya membuat seperti trik untuk dapat mengatasi atau menghadapi tekanan yang berulang-ulang terus itu. Sehingga saya tidak meminta mereka mengubah kebiasaan mereka untuk mengikuti saya sebaliknya saya yang merubah kebiasaan saya kepada mereka. Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju roma.

Tidak mudah memang, tapi saya bisa bilang kalau sekarang tiap awal bulan datang saya bisa lebih santai menghadapinya, saya nggak spaneng sehingga membuat rekap laporan malah jadi banyak yang error.

Nah berdasarkan pengalam tersebut saya ingin berbagi tips agar kita tak terjebak pada persepsi diri terhadap orang lain.


Identifikasi kebiasaan

Beri tanda spesifik kepada orang-prang tersebut, seperti orang yang paling lambat, yang tidak mau mengikuti format laporan, yang biasanya kirim laporan tidak sesuai dengan yang saya infokan, yang tidak membaca email deadline, yang sering sekali merevisi laporan dan sebagainya.

Dengan memberikan identifikasi seperti itu, saya sudah tahu bagaimana menghadapi orang-orang tersebut setiap bulannya, sehingga kemudian saya pun dapat mengerjakan pekerjaan lain tanpa harus terus berfokus pada orang-orang tersebut.

Identifikasi ini benar-benar mempermudah saya setiap bulannya, kesalahan yang mungkin diperbuat sudah saya tahu bagiannya dimana sehingga saya pun tidak kewalahan untuk memperbaikinya. Agar tidak mengulang lagi pada kesalahan itu lagi itu lagi saya juga memberi informasi untuk perbaikan.

Tidak cepat emosi

Wajar sekali bila kita menjadi emosi terlebih lagi dengan tumpukan kerjaan yang inginnya kita bisa selesaikan dengan baik, sehingga menahan diri untuk tidak meluapkan emosi apalagi dengan partner kerja memang sulit sekali tapi tetap bisa dilakukan.

Untuk mengalihkan emosi ini biasanya saya tidak akan dengan cepat merespon atau sama sekali tidak memberi respon ketika misalnya untuk reply whats app chat dengan informasi laporan tidak bisa ontime di kirim karena ada kendala sistem,yang baru dikonfirmasi pada sore hari padahal saya sudah chat dari pagi.

Begitu orang ini mengirim laporannya barulah saya memberi respon yang tetap baik, tidak lupa say thanks namun sekaligus memberi peringatan yang tegas namun dengan bahasa yang sopan.

Jangan malas komunikasi

Sudah tahu ada beberapa orang yang kerjanya tidak sesuai dengan harapan kita, lalu malah membuat kita malas untuk berkomunikasi dengan mereka justru harus sebaliknya. 

Orang-orang seperti ini harus lebih intens di ajak berkomunikasi, sehingga kita pun tahu permasalahan yang tengah mereka hadapi dan lebih bagus lagi jika kita pun dapat memberikan solusi. Sehingga bulan berikutnya kita tidak akan mendapatkan masalah yang serupa dengan orang yang sama.


Sudah saya konfirmasi sebelumnya bila sejujurnya memang tidak mudah untuk diri kita dapat lebih membuka pikiran, sungguh berat terasa namun kita pun jangan mempunyai pikiran yang sempit terutama ketika menghadapi banyak orang.

Kita tidak pernah tahu mungkin saja mereka pun tengah menghadapi kesulitan dan tidak nyaman untuk bisa mengutarakan hal tersebut kepada kita.

Untuk itu saya selalu mengingatkan diri agar tidak perlu memaksakan persepsi pribadi kepada seseorang, karena bisa jadi sisi dirinya yang saya temui hari ini belum tentu itu adalah sisi dari dirinya secara keseluruhan. 

Setiap orang selalu punya sisi baik dan sisi buruk, seperti halnya koin yang punya dua sisi, tentunya kita ingin berada di sisi terbaik dari orang tersebut bukan, karenanya jangan terlalu cepat berasumsi karena yang mukanya sangar seperti security hatinya bisa jadi lembut seperti hello kity.

Komentar

  1. Sama banget mbak, tapi kalau laporan saya untungnya nggak berhubungan dengan banyak orang. Pokoknya akhir ke awal bulan itu riweh deh. Kalau tengah-tengah gini enak sih, agak nyantai sambil nunggu kalau ada perintah dadakan. Btw template baru ya mbak, jadi lebih kece dan cepat loadingnya ^^

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik, semua komentar akan di moderasi terlebih dahulu oleh penulis.

Postingan Populer