Cerita Dari Blogger Yang Tidak Punya Background Pendidikan Menulis




Sekitar tahun lalu saya pernah bertemu dengan seorang teman, kami tengah sama-sama menghadiri sebuah acara, selesai acara kami berdua ikut serta berkumpul dan mengobrol dengan yang lain yang tengah membahas tentang blogger.

Di tengah percakapan itu teman saya ini pun memberi komentar menanggapi pembahasan tentang blogger tersebut "gw sih gak sanggup jadi blogger, harus nulis dan merangkai kata-kata sebanyak dan sepanjang itu, cukup deh kayanya mabok nulis caption di ig aja"

Saat itu saya pun seperti merasakan benar apa yang dikatakan teman saya tersebut, menjadi blogger bukan suatu hal mudah yang harus dikerjakan karena terkadang menulis sepanjang satu kalimat saja bila sedang tidak mood susah sekali.

Padahal yang kemudian saya tahu dari teh Ani Berta, coaching menulis saya dari komunitas ISB untuk menulis sebuah postingan di blog yang baik setidaknya harus menulis minimum 500 kata. Kalau menulis caption di instagram saja sudah mabok, sungguh benar adanya bila teman saya memutuskan untuk tak menjadi blogger.

Menjadi blogger sesulit itu ?, ya memang. Apalagi kalau tahu menulis pun tidak bisa sembarangan setidaknya menulis harus memberikan efek untuk yang membaca tapiii menulis juga bisa mudah kok, karena setelah saya merasakan sendiri hampir 3 tahun ini menjadi blogger dan menulis untuk website sendiri, yah tak sesulit itu juga.

Saat ini saya tengah mengikuti blog challange dari komunitas ISB yaitu #odop atau one day one post selama bulan agustus 2020 ini kita yang mengikuti blog challange ini diharuskan menulis sesuai dengan tema yang telah diberikan.

Akhir agustus ini tinggal 2 tema tulisan yang belum saya selesaikan, temanya sungguh membuat pusing kepala karena saya tidak punya pengalaman yang dapat saya bagikan, pertama tentang latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan menulis dan memberi nilai plus pada blog dan yang kedua adalah pengalaman mengikuti eskul yang berhubungan dengan leadership.

Sebagai blogger yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan menulis bahkan kalau mau jujur pekerjaan yang saat ini tengah saya geluti pun tidak ada hubungannya sama sekali dengan pendidikan saya dulu ketika masih kuliah apalagi dengan menulis, benar-benar salah jalur deh saya ini.

Namun saya tetap memilih untuk menulis, ini membuktikan bila menulis tidak sesulit yang teman saya itu bayangkan dan saya meyakini bila tulisan saya pada blog ini pun tetap dapat mempunyai nilai plus untuk dibaca, karena menurut saya ada banyak alasan lain untuk bisa menulis pada sebuah blog.

Menyeimbangkan Kerja Otak

Pekerjaan saya bila dibuat skala 100% maka lebih dari setengahnya adalah untuk berhitung makanya saya lebih akrab dengan microsoft excel ketimbang dengan microsoft words. Sepanjang hari otak dipaksa berhitung terus, berhitung untuk uang yang tidak ada bentuk fisiknya lagi.

Dari banyaknya dan terlalu seringnya kegiatan berhitung angka inilah yang membuat saya justru memilih menulis walaupun awalnya merasa tidak mampu, namun setelah dijalani dan dimampukan bisa kok bertahan sampai saat ini.

Jadi yang saya lakukan selama ini saya menulis dan menjadikannya sebagai kegiatan penyeimbang bagi cara otak saya bekerja, ya kan menghitung itu tentang angka sementara menulis tentang huruf jadi agar tidak pusing, tidak bosan yah alihkan pandangan mata dari angka ke huruf. 

Dari hasil membaca pun saya baru tahu bila menulis juga dapat meningkatkan daya ingat kita, cocok sekali kan dengan kondisi saya yang harus banyak mengingat angka-angka, jadi yang perlu saya lakukan harus sama rajinnya untuk menulis.

Mengeluarkan Isi Pikiran

Memulai menulis memang selalu membingunkan ada banyak hal yang ingin kita keluarkan dari dalam pikiran namun jari-jari tangan kok kelu yah. Yang ada malah hanya berulang kali membaca tulisan yang hanya beberapa baris saja dan menatap monitor laptop yang masih lebih banyak kosongnya.

Sering kali saya mensiasatinya dengan menulis saja tanpa harus memikirkan tanggapan orang kemudian. Menurut saya yang membuat jari-jari tak mampu menari di atas keyboard adalah pikiran lain yang menahannya dengan pertanyaan : kalau menulis begini bagus gak yah ? kalau menulis begitu bener gak yah ?

Jadi nikmati saja ketika kita ingin mengeluarkan isi pikiran kita dalam bentuk tulisan, apa yang ingin kita tulis dan orang tahu tentang opini kita, yang penting untuk selalu saya ingat dan menjadi catatan untuk diri sendiri adalah bila tulisan kita itu tak menyinggung orang dan bila merasa tulisan tersebut tak seharusnya di konsumsi orang lain yah biarkan tetap ada di draft, tulisan tidak harus selalu di publikasikan.

Belajar Sesuatu Yang Baru

Semakin lama menulis hanya ada dua kemungkinan, akan semakin malas karena bosan atau akan semakin tertantang untuk memberikan tulisan yang lebih berkualitas untuk itu jangan pernah menutup diri untuk belajar menambah ilmu tentang penulisan.

Memperkaya ilmu dan pengalaman tentang penulisan itu sebuah keharusan, tidak hanya bila kita ingin serius menjadi blogger saja, karena bagaimanapun juga akan lebih baik apabila yang kita tuliskan harus ada manfaatnya bagi orang lain, tidak hanya bermanfaat untuk diri kita sendiri.

Ilmu-ilmu penulisan bisa kita dapatkan dari banyak orang, jangan juga hanya terpaku mau belajar dari satu orang, sebanyak mungkin serap ilmunya karena menulis pun ada banyak caranya, ada banyak gayanya, yang penting kira harus rajin mencarinya.

Masih ragu menulis di blog atau tak yakin bisa menjadi blogger, yang paling penting buat dulu blognya, tidak masalah bila latar belakang pendidikan tidak ada keterkaitannya dengan blog, banyak orang punya kebutuhan tentang sebuah tulisan, yakinlah selalu ada nilai plus untuk setiap tulisan walau itu hanya untuk segelintir orang saja.

Semangat nulis dan terus ngeblog.


Komentar

Postingan Populer