Tentang Leadership Dari Ekskul Di Sekolah




Seingat saya selama sekolah saya hanya sekali mengikuti ekstrakurikuler yaitu ketika masa smp ikutan paskibra (pasukan pengibar bendera) karena pertama kali masuk smp para kaka senior paskibra dengan penampilannya ketika upacara penerimaan anak baru sangat memukau sekali di mata saya.

Ternyata setelah sekolah sma saya tidak tertarik untuk meneruskan ikut ekskul paskibra tersebut, kemungkinan besar sih karena saya sudah tahu dan merasakan jadi bosan saja kalau harus mengikuti ekskul yang sama.

Alasan lainnya karena sekolah sma saya lebih jauh jaraknya dari rumah dan jam sekolah juga lebih panjang setiap harinya, jadi saya lebih senang weekend itu diam dirumah atau justru jalan dengan teman atau pacar saja.


Manfaat Ekskul 

Sebenarnya tergabung dalam ekskul di sekolah ada banyak manfaatnya seperti ekskul paskibra yang saya ikuti diantaranya :
  1. Saya jadi lebih banyak bersosialisasi karena dengan ikutan ekskul kita pasti akan mengenal teman lain dan menambah teman diluar dari yang kita kenal di kelas, bisa kakak kelas, adik kelas ataupun teman seangkatan hingga guru-guru pun mungkin saja.
  2. Menambah pengalaman dalam berorganisasi, hanya di ekskul bisa belajar berorganisasi dengan baik yang terjadi tanpa saya sadari, bagaimana seorang ketua mengayomi anggotanya, bagaimana sesama anggota bisa menjaga kekompakkannya, dan lain sebagainya.
  3. Mempunyai pengetahuan baru tentang kedisiplinan dan kekuatan fisik, ini sudah dari awal ikutan paskibra penuh dengan gemblengan seperti kita diharuskan selalu tepat waktu, rajin datang mengikuti ekskul dan kita juga di ajarkan menjaga fisik tetap fit walaupun sering sekali berjemur matahari di siang hari.
  4. Memupuk jiwa kepemimpinan

Yang terakhir ini tentang jiwa kepemimpinan atau leadership hasilnya saya rasakan selama duduk di bangku sma, saya mau saja dijadikan ketua kelas. Dulu di kelas saya yang isinya perempuan semua ini, tidak ada yang mau jadi ketua kelas karena bila kelas kita kebagian menjadi petugas upacara maka sudah menjadi kewajiban bila ketua kelas-lah yang akan menjadi pemimpin upacara juga.

Karena saya ada pengalaman menjadi anggota paskibra itulah menjadi pemimpin upacara bukan suatu hal yang menakutkan untuk saya jalani, saya sudah tahu prakteknya seperti apa makanya saya berani dan dapat lebih santai menerima tugas tersebut yang penting tidak melewatkan sesi latihan sebelumnya.

Teori Leadership

Sudah merasakan jadi pemimpin di kelas lalu sudah sering jadi pemimpin di lapangan seharusnya saya sudah bisa dikatakan telah menyerap teori ilmu leadership ini dengan baik, seingat saya teori leadership itu ada 4, yaitu : mampu mempengaruhi, mengarahkan, memotivasi dan mengawasi.

Sebagai ketua kelas saya sudah bisa mempengaruhi guru dan teman-teman, sebagai pemimpian upacara saya juga harus mengarahkan petugas lainnya, saya juga melakukan motivasi untuk teman-teman sekelas yang sering tidak masuk sekolah hingga mengawasi mereka (teman-teman sekelas) agar dapat melakukan tugas-tugas dengan baik hingga menjaga kondisi kelas kondusif selama pembelajaran di kelas tengah berlangsung.

Sudah merasakan jadi pemimpin di kelas dan tahu bagaimana menghadapi guru-guru dan teman-teman sekelas yang berbagai macam karakternya, lalu sudah sering jadi pemimpin di lapangan tahu bagaimana menghandle diri sendiri agar tidak nerves dan bisa menjalankan tugas hingga selesai dengan baik.

Namun ternyata pengalaman leadership saat disekolah selama 6 tahun tersebut tak juga membuat saya percaya diri di tempat saya bekerja, saya masih penuh dengan keraguan tidak bisa menjadi ketua tim yang baik karena tidak dapat memberikan solusi yang tepat, masih sering sungkan untuk memberdayakan teman kerja sesuai dengan kemampuannya, sering kali juga merasa kurang banyak belajar dan merasa tidak bisa memberi motivasi yang tepat dan masih sering kali tidak berani mengakui kesalahan.

Ilmu leadership yang paling saya rasakan lebih terasah dengan baik justru bukan karena mengikuti ekskul di sekolah justru karena peran saya sebagai seorang kakak di rumah yang buat saya menjadi sebuah keharusan untuk mengayomi adik-adik saya ini, apalagi kedua adik saya pun perempuan semua.

Namun sebagian dari diri saya merasa tidak menjadi kaka yang mempunyai leadership yang cakap juga karena menurut saya sebagai seorang pemimpin kita harusnya di segani bukan di takuti dan kedua adik saya lebih takut kepada saya daripada segan. Lebih takut di marahi tepatnya kalau sampai bikin salah sama saya.

Memimpin saudara sendiri dengan memimpin orang lain memang beda sih treatment-nya kalau sama kedua adik saya, saya mungkin kadang juga bisa semaunya saja toh walaupun mereka tidak suka dengan yang saya lakukan tetap saja sampai hari ini kami tidak pernah ribut sampai lupa dengan persaudaraan kami.

Sementara dengan orang lain kita tidak bisa semena-mena. Kita harus benar-benar dapat menampilkan jiwa kepemimpinan kita setiap saat dan Dari menulis mengenai leadership ini saya pun jadi menyadari bila ilmu leadership pun sama dengan ilmu lainnya akan bertambah baik bila terus kita praktekkan.

Jadi untuk teman-teman yang sekarang masih belum yakin dengan jiwa leadrship-nya harus terus di gali yah, kalau masih sekolah yah ikutlah ekskul bila sudah kuliah aktiflah di salah satu organisasi dan yang sudah kerja bila belum ada kesempatan menjadi pemimpin dikantor, ikutlah di kepanitian acara kantor.

"before you are a leader, 
success is all about growing your self 
when you become a leader, 
success is all about growing others"



Komentar