Lebaran 2020



Assalamualaikum,

Pertama kalinya merayakan lebaran tapi nggak terasa lebaran karena tradisi lebaran yang biasa kita lakukan nggak bisa kita lakukan di Hari Raya Idul Fitri 1441 H ini. Sesuai dengan instruksi dari pemerintah dan juga para alim ulama untuk berhari raya #dirumahaja.

Hari sabtu, 24 mei 2020 merupakan hari terakhir berpuasa setelah adzan magrib berkumandang masih terdengar suara takbir menggema dari masjid komplek rumah. Namun kali ini saya merasa sedih dan perih sekali mendengarnya padahal biasanya suara takbir selalu terdengar syahdu.

Namun banyak raya syukur yang saya panjatkan pada sang khalik karena Alhamdullilah selama pandemi covid 19 ini masih bisa mengkhatamkan tadarus Al quran di hari ke 29, sebagai busui masih mampu berpuasa seharian penuh karena terus #dirumahaja jadi nggak terlalu lelah, nggak kebayang kalau harus ngantor juga pasti batal puasa lebih dari satu hari, dan yang juga terasa nikmat dilakukan dirumah aja karena masih bisa tarawih bersama keluarga.

Tahun ini kita sekeluarga memutuskan untuk tidak melakukan shalat ied, walaupun di masjid dekat rumah mengadakan shalat ied berjamaah, kami hanya berkumpul dirumah menyantap hidangan hari raya yang lagi lagi harus di syukuri sekali. Alhamdullilah masih di masakin sama mama sama seperti lebaran-lebaran tahun sebelumnya ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng ati, hingga jengkol semur lengkap tersaji karena saya masih tinggal dirumah mama, nggak perlu menahan rindu untuk bersilaturahmi.

Nikmatnya hidangan lebaran yang mama masak mengobati banyaknya rasa kehilangan yang harusnya terjadi hanya sekali setahun saja, kami sekeluarga tidak berkeliling ke tetangga, tidak melaukan open house, sehingga ketika ada tetangga datang pun kami tidak menerima mereka masuk ke dalam rumah bahkan dengan saudara sendiri, semua berlebaran dilakukan di teras rumah tanpa bersalaman hanya saling mengucapkan "mohon maaf lahir dan bathin" satu sama lain.



Selama lebaran ini saya hanya pergi kerumah ibu mertua dan kerumah saudara ibu mertua satu orang yang kebetulan rumahnya tidak berjauhan juga dengan ibu mertua, itupun hanya sebentar saja, padahal sudah lama sekali kami sekeluarga tidak bertemu dengan ibu, terakhir itu yah 3 bulan lalu. Kebetulan satu minggu sebelum mulai di terapkan psbb kami masih mengunjunginya.

Hari raya ini adalah untuk pertama kalinya Zaidan dan Zeanissa keluar rumah, saya sudah persiapkan masker untuk Zaidan, sengaja pilih gambar yang ia suka yaitu kucing kemudian oleh tantenya Zaidan dan Zeanissa dibelikan face shield juga, saya juga sedia tisu basah hingga spray pencuci tangan.

Benar-benar merasakan dan menerapkan new normal protokol selama lebaran ini, karena ingin sekali setelah lebaran covid 19 ini tidak bertambah berkembang luas kemana-mana, ingin segera bisa beradaptasi lagi dengan kehidupan kita yang baru akan dimulai lagi bulan juni 2020 nanti.

Di lebaran hari kedua, saya main kerumah adik saya yang lagi-lagi letak rumahnya pun tak jauh dari rumah seharian disana hingga petang harinya saya pulang dan dengan beberapa teman melakukan silaturahmi virtual via zoom meeting, tetap bisa berbagi cerita penuh kebahagian walau hanya saling bertatap muka melalui layar kaca saja.





Menutup cerita lebaran 2020 ini, hingga hari ini saya terus mikirin, sepertinya dosa-dosa kita pada pencipta alam ini sudah sangat besarnya hingga memberikan teguran begitu kerasnya untuk kita semua umatnya, apalagi untuk yang muslim di saat ramadhan biasanya kita selalu sambut dengan suka cita yang seringnya justru lebih memikirkan hal keduniawian lebih semangat bukbernya daripada puasanya, lebih semangat bikin kukernya daripada tarawihnya, lebih semangat siapin baju baru daripada khatamin ngajinya tapi ramadhan kali ini kita benar-benar di paksa untuk lebih banyak mengingat sang pencipta kita dengan banyak beribadah selama dirumah aja.

Semoga dengan datangnya hari kemenangan, kita bisa terus menjaga istiqomah segala ibadah yang telah kita usahakan selama 30 hari di ramadhan dan semoga kita semua selalu di berikan nikmat sehat hingga pandemi ini berakhir. Aamin aamin ya robal alamin.







loph,
Maya Rumi

Komentar

  1. MasyaAllah, salut banget mbak bisa puasa meski lagi menyusui, bisa khatam pula. Saya malah puasa banyak bolong karena kena haid diminggu awal dan akhir Ramadan, huhuhu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdullilah mba hikmah dirumahaja jadi bs kuat puasa dan sempat ngaji sampai khatam

      Hapus
  2. iya mbak agak sedih ya lebaran tahun ini salat di rumah dan bersilaturahmi di rumah aja
    keren bisa istiqomah menjalani puasa ini
    semoga tahun depan wabah ini bisa benar-benar hilang agar kembali seperti semula

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik, semua komentar akan di moderasi terlebih dahulu oleh penulis.