6th Page : Baby Number Two

Maret 14, 2018



Awal tahun ini lingkaran pertemanan saya dipenuhi dengan berita kelahiran anak kedua. Saya sudah pasti ikut berbahagia atas kehadiran kembali bayi kecil (nan lucu dan menggemaskan sekaligus bikin repot dan melelahkan) di keluarga mereka.

Namun pada kenyataannya tidak semuanya benar-benar bahagia, ada pasangan yang kebahagiannya dipaksakan dan akhirnya seperti memaksa kita juga untuk "jangan terlalu bahagia" karena ternyata anak yang terlahir jenis kelaminnya tak sesuai harapan.

Saya jadi sedikit kesal sama mereka yang punya keinginan atau sampai maksa sekali kalau anak kedua itu harus berbeda kelamin dengan anak pertama, agar sebagai orang tua bisa langsung dapat anak sepasang, karena gara-gara hal tersebut saya mau tidak mau harus pintar-pintar menghibur dan membesarkan hati saat datang menengok mereka yang terlanjur teracun dengan keharusan tersebut.

Karena kebanyakan yang tidak siap itu perempuannya, saya jadi kasihan sama si ibunya banyak yang merasa tertekan karena sakit dan traumanya belum hilang pasca melahirkan sudah di ultimatum harus hamil lagi, agar dapat anak dengan kelamin tertentu.

Selain rasa bahagia yang campur aduk itu sebenernya buat saya pribadi sih ada sedikit kesedihan yang terselip, karena temen yang dulu sama-sama hamil anak pertama ternyata sekarang sudah lebih dahulu diberi kepercayaan kembali untuk punya anak kedua dari sang maha pencipta. Namun perasaan itu cuma selewat saja sih, saat datang menjenguk bayi baru lahir setelah itu yah sudah perasaannya menguap begitu saja, Baper aja sepertinya.

Namun sebulan ini, semakin banyak disekitar saya yang memberikan kabar tentang bertambahnya anggota keluarga baru. Kalau diawal tahun hanya dari teman-teman disatu lingkungan pergaulan, sekarang nambah dari lingkungan yang berbeda belum lagi dari saudara sendiri sampai saudara suami hingga beberapa tetangga juga.

Kehamilan ini jadi seperti penyakit yang menular, tapi kok saya nggak juga ketularan yah ?. (baperlagi). Bukan hanya berita kelahiran anak kedua yang saya terima, namun ada yang memberikan kabar baru punya anak pertama atau bahkan sudah anak ketiga.

Jadilah itu pertanyaan : "kapan punya anak kedua ?" Semakin sering berdengung di telinga. 

Nging
...
Nging
...
Nging
...

Saya dulu nggak pernah ngalamin ditanyain kapan kawin ? atau setelah menikah ditanyain kapan punya anak ?. Padahal saya nikah nggak diusia yang di idealkan masyarakat terus punya anak pertama baru di umur pernikahan satu setengah kemudian, cukup lama kan nunggunya.

Tapi anehnya nggak pernah ada yang nanyain hal tersebut, atau mungkin saya yang nggak ngeh.

Awalnya saya nggak merasa biasa-biasa saja, santai saja jawab pertanyaannya, karena mereka juga seperti nanya basa-basi sambil lalu jadi seperti yang sudah saya bilang sebelumnya paling saya cuma baper saja. Eh lama-lama beneran itu temen apa saudara jadi semakin gencar nanyain kan, jadi saya yang kan lama-lama terganggu juga dan mikir : ini emang harus banget ditanyain yah ? Kapan punya anak kedua ?

Akhirnya saya sampai kewalahan loh jawabnya. Kebingungan mungkin lebih tepatnya. Kenapa begitu ? Karena lebih sering orang yang nanyain yah itu lagi - itu lagi orangnya. Nah ini saya rangkum deh yah yang paling saya ingat tentang obrolan : KAPAN PUNYA ANAK KEDUA ?

Ada temen yang setiap kali ketemu dan dia cerita tentang tumbuh kembang anaknya selalu terselipkan pertanyaan tersebut. Biasanya komentar favorit dia adalah "seru tahu kalau anak sudah dua, apalagi bisa dapat sepasang"

Padahal dia sudah tahu saya akan menjawab apa, tapi orangnya kekeuh sekali selalu tidak lupa menanyakan perihal anak kedua itu, padahal yang ditanya ini sudah bosan jawabnya.

... dan dari mendengar dia cerita saya nggak merasakan keseruan punya dua anak yang berbeda kelamin yang ada selalu kewalahan dan kelelahan karena ngurus anak-anak tersebut. 

Jadi terkadang saya pikir, mungkin dia butuh teman untuk bisa merasakan apa yang dia rasakan, karena saya baru beranak satu kan jauh berbeda tantangannya dengan dia.

Ada juga temen yang setiap kali kita ngobrol di chat wa seperti mengingatkan bahwa ada keharusan yang belum saya lakukan yaitu sudah saatnya saya memberi adik buat zaidan. Biasanya komentar favorit dia adalah "mumpung masih muda, ayo buru kasih zaidan ade"

Dia juga selalu dapat jawaban yang sama dari saya, anehnya tetap nggak lupa nanyain walaupun kita sudah ngobrol ngalor ngidul panjang banget di chat wa.

 ... dan dari komentar favorit dia soal usia masih muda harus buru-buru bikin anak lagi, saya malah melihatnya (dari keluh kesahnya) ada  ketidaksanggupan dia karena punya anak kedua dengan rentan usia yang berdekatan dengan anak pertamanya. Sementara yang baru punya anak satu seperti saya dan usianya sudah 3 tahunan bisa banyak melakukan aktivitas me time.

Berikutnya saudara-saudara yang terlalu perhatian, saking perhatiannya saya disadarkan dengan kenyataan dari semua yang sudah berkeluarga cuma saya yang punya anak baru satu saja. Haduh saya malah bisa dibilang tersalip dengan saudara yang baru menikah dan langsung punya 2 anak karena terlahir kembar.

Perlakuan mereka pun kadang membuat saya kaget seperti tiba-tiba kaki saya di injak sama yang lagi hamil "biar cepat nular hamil anak kedua" atau tiba-tiba lagi jenguk bayi batu lahir ada saja yang ngasih bayi kesaya "Gendong nih anaknya sia A, biar cepat nular juga"

Nular memang benar-benar menjadi kata-kata favorit. 

Yang paling baru nih tadi pagi datanglah pertanyaan itu dari tetangga saya 
"bu maya kapan nih anak kedua ?"
"Iya nih belum juga bu"
"Waduh sepertinya ongkos kirimnya kurang tuh makanya nggak sampe-sampe"

Terus saya bengong sebentar, menelaah maksud kata-katanya, begitu ngerti ternyata maksudnya punya anak kedua di umpamakan sebagai kirim barang. 

Istigfar.

Duh seandainya yah punya anak lagi bisa semudah kalau order barang di salah satu market place yang bertebaran di dunia maya. Sayangnya kan nggak begitu. Bila semudah itu nggak akan ada usaha luar biasa dari pasangan yang teramat sangat mendambakan kehadiran buah hati, yang kadang usahanya benar-benar diluar dugaan juga. 

Jadi kapan punya anak kedua ? Maunya sih tahun ini, tapi sepertinya sudah tidak memungkinkan yah karena tahun ini sudah jalan 3 bulan. Tapi masih ada harapan buat bisa hamil tahun ini, jadi teman-teman, saudara-saudara dan tetangga tersayang bantu DOA saja yah, daripada nanyain melulu kapan saya punya anak kedua. 

Setuju yah. Terima kasih atas perhatian dan pengertiannya. heuheuheu.

Mudah-mudahan pikirannya bisa lebih mengontrol untuk menjaga mulut agar tidak mengeluarkan pertanyaan "kapan punya anak kedua ?" Supaya tidak menorehkan sakit hati buat yang ditanya terutama kalau moodnya juga sedang tidak baik. Beneran deh ternyata pertanyaan receh begitu bisa bikin orang jadi senewen atau jadi sensitive banget kalo terus-terusan diulang-ulang.

Dibalik pertanyaan yang terus-terusan berdatangan tentang persoalan kapan punya anak kedua ini, saya sebenarnya sama suami lagi menikmati banget masa-masa bersama dengan Zaidan, memantau pertumbuhan dan perkembangan dia, selain itu yah menikmati kerjaan yang tahun ini penuh dengan rencana dinas luar kota Jakarta. Yah jadi mungkin sampai saat ini saya belum juga di kasih hamil lagi, karena mungkin, mungkin loh yah... ada rejeki lain yang diberikan Allah untuk saya dan saya pun menikmatinya.

Jadi saya pikir-pikir lagi sekarang rasanya kalau harus kesal atau mangkel sama mereka yang belum berhenti tanya-tanya lebih baik saya perbanyak sabar saja, terus kalau ada yang bertanya tapi mengindikasikan nyinyir, tinggal pergi ajalah, pura-pura sibuk atau tiba-tiba mengalihkan pembicaraan saja tapi dari semua itu memang harus berbesar hati menerima kalau seperti inilah kehidupan berkeluarga.

Yang punya pengalaman seperti saya juga, komen dong biar saya lebih banyak punya stok kalimat jitu untuk menghempas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Hahaha.






loph,
Maya Rumi

You Might Also Like

2 comments

  1. Hihihii, dulu aku malah pernah tegas banget sama satu wag ibu2 yg nanya mulu kapan aku punya anak ke-2 krn yg lain udah pada hamdun lagi :D kadang basa basinya orang itu ngga mikirin perasaan sih... nah sekarang udah punya anak kedua, ditanya lagi, kapan punya anak cowo? Kujawab udah steril, ga bisa nambah lagi, bhay! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sepertinya aq juga hars seperti mbak sandra deh,,, tegas sm yang basa basi ngak jelas..

      Hapus

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik