pinterest

Bulan ke tiga, oktober 2017.

Akhirnya, di usia 3 tahun 4 bulan Zaidan berhasil say goodbye sama pampers. Bunda-nya bahagia sekali sementara ayah bahagianya agak sedikit berkurang, karena harus menepati janji membelikan sepeda untuk zaidan yang telah sukses dengan toilet trainingnya. hahaha ! nggak deh, sama bahagianya ayahnya dengan saya.

Ketika saya memutuskan untuk menitipkan zaidan di daycare, toilet training ini yang menjadi salah satu pertimbangan saya. Pemilik daycare meyakinkan saya kalau mereka akan membantu zaidan untuk toilet training sampai berhasil. Jadi setelah sebulan zaidan penyesuaian dengan lingkungan daycare, langsung mulailah toilet trainingnya.

Sebenarnya zaidan sudah mulai toilet training di usia 18 bulan, karena saya baca-baca buku parenting, di usia tersebut anak-anak seharusnya sudah bisa pee dan pup di toilet sehingga tidak perlu menggunakan  pampers lagi.

Namun toilet training ini hanya terjadi di akhir pekan bersama saya, kalau hari senin sampai jumat zaidan bersama pengasuhnya (sebelum di daycare), ia tetap memakai pampers. Saya pikir inilah yang meyebabkan kegagalan toilet training pertamanya. Saya bukan hanya tidak serius mengajarkan, tapi nggak konsisten juga dan karena toilet training cuma terjadi 2 hari selama 1 minggu, jadinya seperti cuma untuk coba-coba, akhirnya saya pun jadi malas dan nggak mau ribet lagi buat ngajarin zaidan yang akhirnya lupa juga seharusnya dia itu pee & pup dimana. 

Selama zaidan toilet training ini banyak banget kejadian yang menguji kesabaran saya sama ayahnya selain juga sekaligus membuat kami jadi lebih kompak. Dari toilet training ini ada banyak cerita lucu-lucu yang miris-miris juga sih. Disini saya akan ceritain dengan beberapa tahapan, soalnya sudah mulai lupa-lupa. hehehe.

Tahapan pertama
Awal mula zaidan toilet training, saya masih pakaikan pampers, tapi setiap satu jam saya ajakin ke toilet. Anaknya sudah pasti nolak, karena lagi asiek mainlah, lagi asiek nontonlah, pokoknya dia nggak mau menghentikan aktivitasnya tapi tiba-tiba di ajakin ke toilet sama bundanya.

Disini saya maksain zaidan dan diri saya sendiri, kalau zaidan nggak mau, saya gendong ke toilet, udah pasti zaidan akan meronta-ronta dan teriak, tapi saya kuat-kuatin dan sabar-sabarin diri sendiri untuk nggak marah atau kesel ke zaidan. Saya alihkan perhatiannya dengan mengajaknya nyanyi-nyanyi dan tanya-tanya dia apa saja.

Akhirnya... walau kesal zaidan tetap mau buka celana dan masuk ke toilet untuk pipis, begitu terus selama siang hari, saya lupa sekali saja untuk mengajak zaidan  ketoilet pasti dia akan ngompol di celana. Zaidan bukan hanya masih belum bisa menahan pipis, tapi belum bisa memberitahu saya kalau ada keinginan untuk pipis.

Untuk membiasakan zaidan toilet training saya punya kalimat-kalimat ajaib yang terus saya ulang-ulang, berharap dia akan mengerti dan terus ingat, jadi seperti melakukan brainstorming.

"bunda zaidan mau pipis"
"bunda zaidan mau ee"
"zaidan sudah nggak bayi, sudah anak kecil, 
kalau anak kecil nggak pipis dan ee di pampers"

Hal tersebut juga saya komunikasikan ke miss-nya zaidan di daycare, agar zaidan bisa lanjut toilet training di daycare eh yang terjadi malah miss-nya yang di daycare kalau setelah mandi sore dan zaidan akan pulang sudah tidak di pakaikan pampers. heuheu, lebih pede miss-nya daripada bundanya membuat zaidan agar cepat sukses toilet training. Jadi saya hanya pakaikan zaidan pampers kalau mau tidur di malam hari.

Tahapan kedua
Setelah saya yakin dia mulai mengerti untuk kebiasaan pee dan pup di toilet, yang saya ketahui dari sudah adanya kemauan dari zaidan untuk memberitahukan saya bila ia ingin pipis, tepat seperti yang saya ajarkan, barulah saya menghentikan penggunaan pampers kepada zaidan.

Saya mulai membeli banyak celana dalam alias kolor dan juga boxer anak dengan gambar-gambar karakter kartun favoritnya seperti thomas, tayo the bus, robocar poli, batman, dll, dsb sebagai pengganti pampers. Agar zaidan lebih memilih memakai celana dalam daripada pampers.

Untuk kepraktisan dan memudahkan juga kalau sedang dirumah, zaidan hanya menggunakan tshirt dan boxer saja. Jadi begitu dia bilang : "bunda, zaidan mau pipis" kita berdua akan segera lari ke toilet, sampai di depan pintu toilet saya bisa buru-buru menurunkan celana boxernya lalu menongkrongkan zaidan di toilet (dirumah kita nggak pakai toilet duduk).

Siang hari tanpa pampers pun berhasil setelah hampir 2 minggu, berkat bantuan missnya zaidan dari daycare juga, yang selalu mengingatkan saya dan ayahnya untuk tidak memakaikan zaidan pampers disiang hari di akhir pekan ketika zaidan libur daycare agar sama dengan keseharian zaidan di daycare.

Tahapan ketiga
Untuk malam hari saya meniru toilet training dari saudara saya yang sudah berhasil terlebih dahulu dengan anaknya. Caranya adalah sebelum bobo harus pipis dahulu, lalu tengah malam atau dini hari bangunkan anak dengan paksa sebanyak satu kali untuk pipis dan ketika bangun tidur harus buru-buru ajak anak ke toilet untuk pipis lagi.

Namun dalam kasus zaidan, ia bobo sudah larut malam, sekitar jam 11 malam, jadinya kalau malam itu saya sama zaidan bisa bolak balik toilet 4 sampai 5 kali sebelum dia bobo tergantung sedikit banyaknya dia minum atau nyusu sebelum bobo, karena zaidan juga belum bisa memberitahu saya bila ingin pipis, jadi harus saya yang ngajakin ke toilet. Disini saya nggak ada bangunin paksa tengah malam untuk pipis ke zaidan, pokoknya setelah dia minum atau nyusu, 10 menit kemudian saya bawa ke toilet, setelahnya dia akan lelap sampai pagi tanpa mengompol.

Setelah dia sudah bisa memberitahu saya keinginan untuk pipisnya masih ada bolak balik toilet 1 atau 2 kali, tapi sekarang saat dini hari kalau dia kebelet pipis dia bisa bangunin saya untuk ngajakin ke toilet, jadi bukan saya yang ngajakin. Jadi yang saya tiru dari tips saudara saya hanya ketika pagi hari begitu zaidan tidurnya menjadi gelisah langsung saya gendong bawa ke toilet untuk pipis.

Di tahap ini saya juga membiasakan zaidan untuk tidak minum susu setelah dia menyikat gigi jam 9 malam, setelahnya bila ia minta susu saya memberinya air putih. Sejauh ini sih yang saya lakukan itu berhasil, ia tidak mengompol di malam hari. Toilet training malam hari ini lebih cepat berhasilnya daripada yang siang hari, tapi nggak mudah juga karena saya harus ngelawan kantuk yang sudah tak tertahankan karena saya selalu tidur awal dan nggak kuat bergadang.

Tahapan keempat
Tahap berikutnya dari toilet training adalah, begitu zaidan mengerti untuk pipis di toilet, ternyata nggak berbarengan dengan dia mengerti pup juga harus di toilet. Zaidan ini kebiasaanya kalau pup adalah akan diam atau bersembunyi di belakang gorden atau menghindari keramaian, jadi misalkan kita semua kumpul di ruang tengah, maka begitu dia merasakan ingin pup dia akan masuk ke kamar, dan begitu kita kumpulnya di dalam kamar dia akan ke ruang makan berdiri di samping meja sambil mengedan. Kebaca sih kebiasaannya ini, dan bikin saya sama suami geli sendiri kalau melihat ekspresi mukanya saat dia lagi mules karena ingin pup.

Untuk pup ini yang sering terjadi malah anaknya sudah pup baru bilang, jadi pupnya di celana (huff). Padahal bundanya malas banget kan harus nyuci celana dalam yang ada pupnya, plus baunya ituloh harummm banget. hihihi.

Belakangan saya baru sadar, kenapa zaidan seperti itu ketika pup. Zaidan seperti trauma kalau pup di toilet, karena di toilet training pertama ketika dia pup di toilet dalam keadaan nongkrong dia kaget pas pupnya keluar... Terus dia nanya ke saya "apa tuh bunda ? 
HAHAHAHA.. 

Jadi ingat cerita-cerita lucu tentang pup lainnya, ketika pup ini zaidan harus saya temani nongkrong di toilet jadi kami ngobrol atau nyanyi-nyanyi, tapi yang ada biasanya malah bikin zaidan nggak konsentrasi akhirnya mules perutnya hilang timbul kan bikin pegel karena kita kelamaan nongkrong. Belum lagi saya harus terus usaha menyakinkan zaidan supaya tetap jadi pup di toilet.

Biasanya zaidan akan merengek 
"bunda udah" 

Terus saya usaha 
"Itu udah mau keluar ee-nya..."
"Ayo zaidan bisa.. Eeee" (ngajarin ngeden)

zaidan geleng-geleng kepala, udah gak pengen pup
"Gak bisa"

Saya masih usaha 
"Eh itu udah mo keluar dikit lagi... Dikit lagi"

"Mana bunda manaa.." 
Ngelihat ke bawah tapi nggak ada 

HAHAHAHA

Adalagi suatu kali zaidan dan ayahnya pulang dari masjid, ayahnya nahan kesel karena zaidan pup saat di masjid. Ya Allah, saya speechless.

Cerita pipis juga ada yang saya ingat banget, pernah ketika saya dan zaidan pergi ke toko pakaian anak,  zaidan  kebelet pipis dan di tokonya itu tidak ada toilet, zaidan tidak mau disuruh pipis di depan toko, ternyata dia malu dan nahan pipis yang berakhir dengan  ngompol di tokonya. 

... atau cerita lainnya adalah ketika saya sedang shalat, dia bilang ke saya dia ingin pipis tapi karena saya sedang shalat saya diam saja tidak mengikutinya ke toilet, akhirnya ia menangis jadi saya batalkan sholat saya dan segera mengajaknya ke toilet.

Sampai hari ini sih untuk poo poo masih belum terlalu berhasil, mungkin kalau di kasih skala keberhasilan baru 90%. Saya sama suami masih harus sabar sama yang satu ini, Zaidan juga harus terus di ingetin dan ajarin terus-terusan dan pelan-pelan.

Sementara untuk pee pee sudah berhasil 100%, nggak usah lagi di ajakin ke toilet untuk pipis, dengan sendirinya ngajakin bunda buat nemenin ke toilet. Dia akan lari-lari dengan senangnya ke toilet, padahal bundanya masih was-was kalau dia udah nggak bisa nahan tapi yang terjadi malah kadang jadi ngerjain bundanya.. Sudah gitu karena dia sudah bisa pipis sendiri dia suka nutup pintu toiletnya, "bunda tunggu sini" perintahnya sambil cengir-cengir.

Untuk toilet training ini saya nggak pakai alat bantu seperti potty, pernah sih terpikir untuk beli, tapi pas lihat harganya. Duh mahal ! dan kayanya malas gitu saya kalau harus buang pee dan poo yang di tampung itu, apalagi akan berulang kan kegiatan tersebut. Toilet seat juga nggak, karena kita nggak pakai toilet duduk. Training pants, saya nggak kepikiran buat beli. Yang saya beli hanya sprei waterproof dan ini lebih penting kalau menurut saya, agar tidak merusak kasur ataupun bikin bau pesing, tapi ternyata zaidan nggak pernah ngompol di tempat tidur.

Oiya ketika mengajarkan zaidan untuk pee dan poo di toilet, saya juga mengajarkan kebiasaan lain di toilet, seperti membuka celana dan memakainya kembali setelah pee & poo, lalu kita harus bersih-bersih pantat, menguyur bekasnya terus cuci tangan juga dengan sabun, hingga berjalan pelan-pelan saat di toilet, tidak boleh loncat-loncat agar tidak tergelincir atau jatuh di toilet.

Mudah-mudahan cerita toilet training zaidan bisa membantu yang baru mau mulai atau sedang mengajarkan toilet training anaknya yah. Terutama untuk bunda dan ayah yang sama-sama kerja. Pesan saya tetap semangat, jangan malas dan sabarrrr yang banyakkk.




loph,
Maya Rumi



Maunya saya zaidan nggak takut main di air, terus gedenya bisa jago renang seperti ayahnya, karena bundanya nggak bisa renang sama sekali, padahal pernah ikut les renang waktu smp tapi karena males-malesan, menyesal deh sekarang. Makanya sejak bayi zaidan sudah di kenalkan dengan air. Awalnya di tempat baby spa, lanjut di rumah dengan kolam renang anak terus nyobain di kolam renang dan akhirnya pantai.

Eh yang terjadi malah kebablasan, anaknya terlalu suka berada di air apalagi di pantai, karena selain renang atau main air bisa main pasir sekalian berjemur seharian. Paling sering kami ke pantai anyer dan pantai ancol, yang untungya sekarang airnya sudah bersih, jadi saya sama suami senang mengajak zaidan kesana, karena letaknya yang dekat juga.





Saya sama ayahnya tuh kalau pergi membawa zaidan ke pantai pasti berangkat pagi sekali dan akan pulang di tengah hari setelah jam makan siang dan demi kepuasan jalan-jalan ke pantai itulah bawaannya ampun-ampunan deh banyaknya, apalagi perginya bersama dengan anak balita. Oiya bawaan-bawaan ini, nggak beda jauh sih dengan yang ke kolam renang atau water park. Ini dia daftar bawaanya : 

1. Baju renang
Untuk baju renang anak yang saya tahu sih ada 2 macam. Waktu zaidan masih batita, saya membelikannya yang model jumper, sekarang sih karena bajunya sudah kekecilan saya belikan yang model atasan dan bawahan, bahannya pollyster, ringan, licin dan strech. Saya suka sebel saat mencuci baju renang, susah dibersihinnya terutama menghilangkan pasir yang menempel. Biasanya saya memakaikan zaidan pakaian renang itu sudah dari rumah, jadi begitu sampai pantai langsung byur anaknya. Tips dari saya, belilah pakaian renang yang bagus kwalitasnya dan nyaman saat di pakai anak. Nggak harus yang mahal yah, yang penting teliti ketika membeli dan dicobain ke anaknya biar nggak salah ukuran.



2. Handuk & Mantel Handuk
Walaupun malas membawa keduanya karena menghabiskan tempat di dalam tas tapi jangan sampai lupa bawa yah ibu-ibu. Kenapa sih bawanya harus dua ? Kalau menurut saya, karena ketika main di pantai itu akan nyebur ke air terus main pasir, kering kan tuh badan dan bajunya tapi terus nyebur lagi, begitu terus berkali-kali sampai akhirnya kulit mengkerut-kerut karena kedinginan, baru deh beneran selesai mantai-nya. Saya langsung pakaikan mantel handuk ke zaidan, nah setelah selesai mandi dan bersih-bersih baru pakai handuk mandi, jadi handuk mandi-nya nggak basah duluan sebelum mandi, bisa mengeringkan badan dengan lebih baik.

Untuk itu wajib punya handuk yang memang untuk dibawa pergi, bukan handuk yang biasa dipakai dirumah, ukuran dan ketebalannya pilih yang sedang. Jadi bisa digunakan oleh orang tua ataupun anak-anak.



3. Perlengkapan mandi
Yang wajib bawa itu : Shampo, sabun, minyak telon, sisir, sunblock, dan handbody anak. Untuk shampo dan sabun zaidan biasanya saya bawa yang 2 in 1, terus yang ukuran kecil aja (travel size) jangan bawa yang besar agar tidak menuh-menuhin tas dan berat-beratin, jangan juga bawa shampo sachet karena susah bukanya. Telon cream/Minyak telon wajib bawa yah agar badan anak hangat setelah bermain air, Untuk handbody agar kulit anak tidak kusik setelah berjam-jam terkena air. Oiya untuk pemakaian sunblock pastinya sebelum turun ke pantai.


4. Ban renang, rompi atau lengan pelampung
Kalau yang ini tergantung perginya kemana, kalau rompi pelampung biasanya ke water park, kalau ban renang sama lengan pelampung bawanya pas ke pantai, tapi zaidan sih lebih suka pake lengan pelampung saja.




5. Pakaian ganti
Untuk pakaian ganti biasanya saya bawa kaos panjang dan celana panjang atau pakaian tidur yang bahannya kaos, agar zaidan hangat setelah main air seharian di pantai dan biasanya juga karena sudah lelah, tidak lama begitu masuk mobil ia akan terlelap. Jangan lupa juga membawa singlet dan celana dalam yah.

6. Plastik besar
Ini ini yang sering banget terlupa untuk dibawa padahal paling penting untuk menampung pakaian-pakaian dan handuk yang sudah basah. Kadang kalau tidak bawa susah untuk bisa dapat plastik yang besar, tips saya kalau ke pantai dan kebetulan membawa snack yang di beli di supermarket, nah plastik inilah yang kemudian dijadikan wadah untuk pakaian dan handuk basah tersebut.

7. Topi
Zaidan kan seringnya kalau sudah dipantai, kalau nggak dipaksa udahan, nggak akan selesai-selesai. Kalau datang dari pagi sih enak yah mataharinya memang menyehatkan tapi lama-lama siang dan tambah terik, nah topi inilah penyelamat dari sengatan matahari, biar gak makin item juga sih.


8. Kacamata renang & kacamata hitam
Kacamata renang dibawanya paling sering pas ke kolam renang atau water park, kalau dipantai jarang banget di pakai sama zaidan, tapi saya gak pernah absen buat bawain. Kacamata hitam baru terpakai kalau zaidan main dipantai dan saya perhatikan matanya sudah kerut-kerut karena menahan silau sinar matahari, jadi jarang dipakai juga sih.



9. Mainan 
Nah ini dia bawaan yang paling bikin rempong kalau ke pantai, harus bawa goodie bag besar yang isinya 3 mobilan yang selalu dibawa kalau ke pantai untuk main pasir, yaitu : mobil truk, mobil cement mixer sama mobil escavator. Untuk mainan ini, zaidan sendiri yang nyiapin dan bawa-bawa, biasanya dia akan seret-seret, lucu kalau lihat dia lagi seperti ini, antusias banget. Mainan lain yang dibawa juga yaitu ember sekaligus cetakan yang bisa untuk membuat istana pasir dengan 1 set sekop-nya dan aneka cetakan-cetakan binatang laut. Bahkan beberapa waktu lalu pernah juga zaidan ke pantai bawa mobil-mobilan escavator.

Dipantai itu akan penuh dengan anak-anak juga kan, jadi sebagai orang tua, saran bijak saya sih jangan malas bawakan anak mainan. Jangan sampai akhirnya terpaksa beli dipantai karena anak ngambek dan ngiri lihat anak lain yang seru dengan mainan di pantai, beli mainan di tempat wisata harganya bisa 2x lipat loh daripada di toko dan belum tentu kwalitasnya sama bagusnya. Jadi lebih baik persiapkan mainan setidaknya, ember dan cetakan untuk dibawa, jadi di pantai nggak ada tambahan pengeluaran untuk beli mainan. Itu kalau ada yang jual mainan nah kalau tidak ada yang jual, ke pantai maunya senang-senang malah jadi membuat anak rewel dan karena anak rewel orang tua malah jadi bete. Gagal deh liburannya.






10. Cemilan
Kalau main air bawaannya sering lapar yah, begitu juga zaidan. Kalau piknik ke pantai saya lebih seringnya bawa makanan dan minuman dari rumah, lebih hemat juga yah. Kalau ke waterpark tergantung tempatnya karena ada yang memperbolehkan bawa makanan dan minuman dari luar namun di bawa dengan tupperware. Namun ada juga waterpark yang melarang membawa makanan dan minuman dari luar, jadi harus beli di toko-toko yang ada di dalam water park tersebut.

Untuk cemilan saya biasanya bawa roti, wafer, telor rebus (bisa telor ayam atau telor puyuh yang sudah di kupas kulitnya yah) atau jagung rebus dan beberapa botol air putih. Untuk makananya biasanya saya bawain zaidan mie goreng, kentang goreng sama nasi, makanan favoritnya zaidan, yang kebetulan mudah dibuat dan disiapkan. Tipsnya kalau cemilan sebisa mungkin bawa yang anak dan orang tua bisa sama-sama makan, jadi nggak bawa terlalu banyak pilihan. Oiya sebaiknya, anak sudah makan yah sebelum main dipantai, biar nggak masuk angin saya kadang memberi zaidan obat tolak angin anak setelah makan.



Nah itulah list bawaan bunda zaidan kalau ke pantai. Banyak banget kan yah ?. Namun saya lebih memilih repot, riweh, rempong apalah sebutannya, daripada... lupa, malas atau sengaja nggak bawa, misalnya baju renang terus anaknya dipakaikan celana kolor atau celana pendek sama singlet atau kaos, yang ada ketika dipantai pakaian penuh sama pasir yang menempel.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, menghilangkan pasir yang menempel di baju renang itu lumayan sulit, apalagi kalau nempelnya di singlet, duh pe-er banget cucinya. Atau kemalasan lainnya yaitu nggak membawa handuk karena besar ukurannya, lah terus anaknya selesai berenang kedinginan atau setelah mandi mau di lap pakai apa itu badannya yang basah.

Walaupun bawaannya rempong banget kalau liburan ke pantai, namun saya paling suka kalau ke pantai, bukan cuma karena zaidan senang main di pantai, tapi kalau di pantai itu banyak keseruan yang terjadi, terutama zaidan sama ayahnya, mereka bisa betah banget main dan melakukan macam-macam, sementara saya sih dipantai lebih banyak foto-fotoin sama baca novel saja.

Kalau ibu-ibu gimana nih bawaanya kalau kepantai sama anaknya, ada yang serempong saya ? atau lebih simple lagi, sharing komentarnya yah..

Happy Holiday !!





loph,
Maya Rumi

Awalnya saya pikir ini adalah novel dengan setting masa lalu di Amerika, perkiraan saya tahun 60-an seperti film The Help, ternyata saya salah. Benar-benar di luar dugaan, tidak menyangka sama sekali kalau novel ini berlatar belakang saat ini, saya baru ngeh ketika ada nama Bennedict Cumberbech disebut.

Bercerita tentang perjuangan seorang perawat berkulit hitam bernama Ruth Jefferson yang ingin sekali membuktikan atau mematahkan stereotype bila warna kulitnya tidak mampu membatasi dirinya untuk bisa berkembang dan menjadi seseorang yang mempunyai kemampuan yang baik untuk bekerja di rumah sakit.

Diceritakan pula ia adalah ibu yang berhasil walau single parent, anak tunggalnya cerdas dan bersekolah di sekolah unggulan. Di rumah sakit tempat ia bekerja pun, ia telaten dalam mengurus dan mahir dalam membantu ibu-ibu yang akan melahirkan, tidak pernah ada masalah.

Namun setelah 20 tahun bekerja, akhirnya datanglah masalah yang harus di selesaikan dengan persidangan yang menguras waktu, energi dan juga emosi karena ia dituduh membunuh sekaligus dipersalahkan karena kasus kematian seorang bayi yang baru lahir dari orang tua supremasi kulit putih : Turk Bauer.

Karena tuduhan tersebut ia diberhentikan secara sepihak dari pekerjaannya di rumah sakit, dicabut izin prakteknya dan yang paling membuatnya kehilangan adalah kepergian sang ibu yang selama ini selalu menjadi pendukung terbesarnya.

Ruth seperti kehilangan segalanya dalam satu waktu.

Di pengadilan, Ruth di bela oleh seorang pengacara berkulit putih yaitu Kennedy McQuarrie sementara lawannya dibela oleh seorang pengacara berkulit hitam. Dari awal Ruth sudah menduga bila yang terjadi padanya adalah karena ia berkulit hitam. Terlebih lagi sejak awal pertemuan dengan orang tua si bayi, mereka tidak menyukai Ruth yang dengan terang-terangan menunjukkan hal tersebut dengan meminta suster kepala untuk tidak memperbolehkan ruth berdekatan ataupun memegang bayi mereka.

Namun pengacaranya tidak mempercayai hal tersebut, karena bila ia memaksakan untuk percaya cerita itu. Itu berarti mereka akan mengangkat masalah ras yang menjadi hal tabu di pengadilan dan bisa dipastikan Ruth akan kalah telak bila menjadikannya sebagai pembelaan.

Akhirnya atas bantuan dari pengacaranya yang dengan gigih dan bersusah payah mencari barang bukti, Ruth berhasil dibebaskan dari tuduhan upaya balas dendam yang dengan sengaja menghilangkan nyawa seorang pasien. Selain itu pengacaranya pun berhasil mengungkap motif sesungguhnya dari si penuntut, yang membuat ending dari novel ini benar-benar bikin kejutan.

Apa kejutannya ? harus ngebaca sendiri sampai selesai. 

Novel yang ditulis oleh Jodi Picoult tahun lalu ini sama sekali nggak ngebosenin, malah bikin deg-degan bacanya. Walaupun banyak istilah kedokteran yang kita nggak ngerti namun masih bisa di ikuti, yang paling seru buat saya sih di bagian pengadilan, dapat bangetlah rasanya ketegangan demi ketegangannya terutama ketika pengacara sedang mengintrogasi terdakwa ataupun korban secara bergantian.

Cerita dalam buku ini dibagi menjadi tiga sudut pandang dari Ruth Jefferson, Turk Bauer dan Kennedy McQuarrie. Saya suka membaca buku seperti ini, jadi seolah-olah kita masuk ke dalam pikiran-pikiran mereka masing-masing.

Yah ternyata di Amerika pun hingga saat ini masih ada pertikaian karena rasisme dan masih ada golongan masyarakat yang belum bisa menerima perbedaan tersebut. Masih berpikir bila mereka yang berkulit putih lebih tinggi derajatnya daripada mereka yang kulit hitam, yang kulit hitam pun tidak mau di diskriminasi karena hal tersebut.

Sehingga mereka pun membuat komunitas-komunitas yang merekatkan hubungan sesama namun membuat jarak, saling menaruh curiga yang akhirnya berwujud intoleran dari mereka yang berkulit putih kepada mereka yang berkulit hitam dan sebaliknya.

Saya belajar dari novel ini untuk tidak menebarkan bibit kebencian kepada siapa pun dan ketika kita membenci seseorang karena sesuatu alasan yah jangan mengajak orang lain yang tidak tahu masalah kita untuk ikut membencinya, karena dengan begitu kita akan menumbuhkan rasa benci yang dibuat-buat agar orang lain ikut membenci seperti kita. Kebencian akan menutup mata hati dan pikiran, menjauhkan kita dari kebaikan dan pada akhirnya akan merugikan diri kita sendiri.

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Harga : Rp 115.000,-
604 Halaman | Terjemahan Indonesia | Soft Cover | Fiksi




loph,
Maya Rumi

Tahun 2017 ini saya mulai membaca lagi, setelah hampir 2 tahun vakum membaca novel. Selama waktu tersebut rasanya seperti pusing gitu, nggak baca novel sama sekali, karena novel tuh seperti pelarian dari dunia nyata, hehehe.. tapi mau baca novel juga nggak ada waktunya karena sibuk sama rutinitas baru mulai jadi emak-emak, dan sampai butuh 2 tahun cuma untuk membiasakan membaca lagi, betapa yah jadi emak-emak itu effort-nya luar biasa banget, padahal anak pun baru satu.

Tahun ini targetnya setahun membaca 12 novel jadi satu bulan satu novel. Nggak mau banyak-banyak karena tahu keterbatasan waktu. Setahun bisa menyelesaikan baca 12 buku saja, sudah syukur alhamdullilah. Namun ternyata diluar dugaan saya bisa menyelesaikan 16 novel dalam 7 bulan. senang banget ! dan sekarang masih terus nambah bacaan baru setiap bulan, pokoknya setiap ada waktu usahain nyari-nyari referensi untuk bisa membaca novel terbaru.

Hari ini saya mau menyimpan novel-novel tersebut yang sudah selesai saya baca, sebelumnya numpuk di meja kamar, saya takut bukunya nanti rusak atau robek sama zaidan, jadi saya mau simpan di kontainer box plastik yang memang saya peruntukkan untuk menyimpan novel.

Kok simpennya di kontainer box plastik ?

Saya melakukan hal tersebut berdasarkan pengalaman beberapa tahun lalu, rumah saya pernah kebanjiran  setinggi dada orang dewasa dan novel saya pun terendam air banjir, tak tertolong. Sudah usaha dengan menjemur novel-novel tersebut, namun setelah kering bentuknya malah menjadi aneh dan kaku seperti kanebo. Akhirnya dengan terpaksa saya ikhlaskan untuk dibuang. Jadi simpen novel di kontainer box plastik adalah solusi agar tak terendam saat banjir terjadi dan kalau mau dipindah-pindah juga gampang tinggal dorong-dorong saja.

Ketika lagi bongkar-bongkar itulah saya menemukan novel yang saya baca berulang-berulang, nggak pernah bosen membacanya, Novel-novel tersebut adalah...

1. Cintapucino by Icha Rahmanti
Bercerita tentang rahmi yang menjadi secret admire seorang laki-laki dari zaman SMA penuh liku-liku sebelum akhirnya mereka dipertemukan kembali sekian tahun, lalu bisa pacaran hingga kemudian menikah.

Novelnya itu cewe banget, ringan, mudah sekali di ikuti alur ceritanya tapi nggak ngebosenin. Ceritanya itu bener-bener menggambarkan seorang perempuan yang jatuh cinta setengah mati dan bisa ngelakuin apa aja buat mendapatkan perhatian cowok.

Dari novel ini pesannya dapat banget sih buat saya pribadi, segala hal yang kita usahakan untuk mendapatkan seseorang sebagai jodoh kita bila memang belum waktunya yah nggak akan terjadi, namun kalau sudah saatnya, Yang maha kuasa pasti akan mempertemukan kita bagaimanapun caranya.

Novel ini sudah difilmkan, sayangnya saya nggak suka sama filmnya, nggak dapat feelnya seperti membaca novel. 

2. Beauty Case by Icha Rahmanti
Ini novel keduanya setelah Cintapucino, masih tentang dunia perempuan, cinta namun titik beratnya di kecantikan nilai plusnya di bumbui dengan cerita politik.

Adalah Nadja, yang digambarkan sebagai perempuan yang pintar, menyenangkan selalu optimis, punya sahabat yang setia dan penuh support untuk dirinya. Nadja jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang menurutnya sangat layak untuk diperjuangkan namun perjuangannya seakan terhenti begitu ia mengetahui saingannya adalah seorang perempuan yang super cantik melebihi dirinya. Jadilah Nadja seperti punguk merindukan bulan.

Sama dengan novel pertamanya, novel ini juga sangat ringan ceritanya, tapi tidak membosankan, enaklah dibaca berulang-ulang, apalagi temanya kecantikan memang selalu menarik perhatian untuk di jadikan novel yang di baca sama perempuan.

Entah mengapa setelah novel ini, penulisnya tidak mengeluarkan novel lagi.

3. Si Parasit Lajang : Seks, Sketsa dan Cerita by Ayu Utami
Ini adalah kumpulan cerita penulis yang pernah diterbitkan di berbagai majalah. Cerita-cerita tentang kehidupan dari penulis yang kebanyakan juga terjadi pada kita di kehidupan nyata.

Salah satu ceritanya Si Parasit Lajang, yang mana adalah istilah orang jepang untuk mereka yang memilih tidak menikah dan tetap tinggal menumpang dirumah orang tua mereka, hal tersebut lumrah di Jepang, banyak wanita yang bagus karirnya memilih tidak menikah karena merasa tidak perlu, buat apa kalau cuma buat repot, seperti yang kita tahu juga biaya hidup di jepang sangat tinggi.

Nah karena kesamaan itulah yang menjadi alasan si penulis menyebut dirinya sebagai Parasit Lajang, bahkan di halaman terakhir novel, penulisnya membuat 10 plus 1 alasan mengapa ia memilih tidak menikah. Namun sekarang alasan itu tidak terpakai lagi karena sekarang penulisnya sudah menikah. Ada novel yang ia buat sebagai lanjutan yang ia tulis menjawab Si Parasit Lajang yaitu Pengakuan : Eks Parasit Lajang dan novel mengenai suaminya : Cerita Cinta Enrico.

Novel ini tidak terlalu tebal, buat saya seharian baca juga selesai, karena menurut saya ini novel yang susah di lepaskan dari tangan begitu kita sudah baca. Ceritanya macam-macam dan penuh kejutan. Ini hanya satu dari sekian banyak novelnya yang best seller dari Ayu Utami, saya punya banyak novelnya, karena penulisnya juga sangat produktif.

4. Marrigable by Riri Sardjono
Ini novel yang paling favorit dibaca berulang kali, tentang pernikahan flory dan vadin dari hasil perjodohan orang tua mereka. Buat flory ia terpaksa menerima menikah karena sudah lelah dengan status single-nya di usia kepala tiga. Sementara untuk vadin, sebagai anak sulung ia tak ingin mengecewakan orang tua atas pilihan jodoh untuknya.

Setelah menikah flory dan vadin membuat kesepakatan yang aneh : no sex karena menurut flory toh mereka menikah bukan karena cinta, walaupun mereka tinggal serumah, tapi karena peraturan tersebut mereka memutuskan untuk tidur di kamar yang berbeda.

Hingga akhirnya cinta datang kepada mereka karena rasa cemburu satu sama lain, yang awalnya menolak mati-matian rasa tersebut namun akhirnya mereka mengakui cinta itu benar-benar tumbuh di dalam hati mereka. Yang juga seru dari novel ini adalah genk cewe-cewenya flory, seru banget obrolan mereka, khas lah perempuan yang penuh dengan kalimat-kalimat sarkastik, sangat menghibur deh pokoknya.

Novel-novel tersebut ketika saya beli itu di tahun 2005 atau 2006, sudah lebih dari 10 tahun lalu. Semuanya masih di cetak ulang sampai sekarang, namun covernya sudah tidak sama lagi. Saya pernah melihat di Gramedia yang cover barunya atau di online book store. Namun tidak banyak sepertinya jadi agak sulit untuk menemukan novel lama.

Sekarang saya belum menemukan lagi penulis novel seperti mereka, dulu sih novel-novel seperti itu istilah-nya chiklit (kecuali yang si parasit lajang). Ada yang baca novel ini juga ? Atau sama seperti saya memfavoritkan novel-novel ini ?




loph,

Maya Rumi


Entah berapa banyak teman yang sudah lama nggak kontak tiba-tiba chat saya di WA, kebanyakan sih teman kuliah atau teman-teman dari kantor lama, ada yang sudah kerja terus lagi nyari peruntungan kantor baru ada juga yang emang lagi nganggur dan butuh kerja dan tahun ini adalah gong-nya, saking seringnya ditanyain loker dikantor, mungkin mereka berharap dikantor saya akan bisa mengakhiri masa penggangguran mereka atau menemukan suasana baru yang lebih menantang. 

Awalnya sih basa-basi menanyakan kabar, kalau yang tahu saya sudah punya anak pasti akan menambahi basa-basinya untuk nanyain zaidan. Namun ada juga yang langsung to the point.

"Ada loker gak di kantor lo ?"

Duh, rasanya kok saya malas banget jawabnya. Malas juga buat melanjutkan chating yang sesungguhnya adalah pencarian lowongan pekerjaan ini. Otak saya langsung mikir berandai-andai gitu, kalau nggak nyari loker apa masih akan say hello ?! Abis nggak enak banget rasanya kalau kontak teman lama karena "ada udang di balik batu" 

Bukan nggak mau bantu teman yah untuk lebih lanjut menginformasikan mengenai ada atau tidaknya lowongan kerja di kantor. Saya tetap bantu informasi kok "cek di website bla...bla...bla... Kalau ada loker ada infonya kok"

Udah gitu doang. Tega banget nggak sih ? 

Hahaha

Jujur yah hrd yang recruit dikantor saya hampir tiap tahun ganti orang dan saya tidak pernah ada urusan kerja sama hrd sampai harus kirim email, makanya saya tidak tahu nama emailnya, karena kebetulan kantor saya punya aplikasi sendiri untuk komunikasi internal semacam email jadi memang email resmi dari itu hanya untuk komunikasi dengan orang luar. Makanya saya cuma bisa informasi seperti itu.

Jadi pertanyaan itu sepertinya jadi bikin saya bingung sendiri untuk menjawab atau menyikapinya. 

Kenapa ? 

Ada beberapa kemungkinan sih Sebenarnya kenapa saya agak malas untuk ngebahas lowongan kerja dikantor.

Yang pertama, saya sendiri nggak tahu sama sekali kalau kantor saya ada buka lowongan kerja apa nggak, karena saya bukan dibagian hrd sehingga nggak tahu kebutuhan masing-masing departemen yang berbeda, bahkan kadang untuk departemen saya sendiri pun saya nggak ngeh, tahu-tahu sudah ada saja orang yang datang untuk interview dengan bos saya dikantor.

Terus yah dikantor saya tuh orang-orangnya nggak ada yang saling bertukar informasi kalau ada loker di departemennya, nggak tabu ngomongin sih, tapi juga nggak kebiasaan aja orang-orangnya untuk melakukan itu.

Yang kedua, saya orang yang nggak berani merekomendasikan orang lain untuk kerja di tempat saya karena saya pikir ketika seseorang membawa masuk orang lain ke dalam kantornya berarti ada tanggung jawab tambahan bilamana orang tersebut ada melakukan kesalahan. Nah saya termasuk orang yang nggak siap untuk itu. Kenapa saya sampai mikir begitu ? Karena ada teman saya dikantor yang mengalami hal tersebut.

Apalagi kalau ternyata temen yang minta loker itu bukan buat dia, tapi buat orang lain lagi yang saya tidak kenal, memang belum tentu juga orang itu melakukan kesalahan, namun bisa juga kan ternyata orang itu attitude-nya tidak baik, kemudian jadi pembicaraan seluruh kantor. Makanya saya sih lebih memilih aman untuk tidak umbar-umbar loker dikantor sendiri.

Yang ketiga, saya nggak suka php ke orang lain. Misal nih yah, saya bilang "nggak tahu ada loker apa nggak, tapi coba kirimin  cv kesini, siapa tahu dipanggil interview". Nah ini namanya saya ngasih harapan palsu kan ?

Kalau ada panggilan interview, kalau nggak ada, sementara orang ini berharap banget. Saya jadi mengecewakan orang tersebut kan.

Yang terakhir, saya nggak terlalu suka dengan mereka yang mencari kerja dengan mengandalkan koneksi orang dalam. Emang sih dia tetap ada usaha dengan menghubungi orang-orang yang sudah kerja. Namun beneran deh beda rasanya ketika kita berhasil kerja di sebuah kantor bagus karena hasil mencari dan berusaha sendiri dengan hasil karena beruntung punya koneksi.

Menurut saya orang yang berhasil kerja karena menemukan sendiri kantornya akan lebih menghargai usahanya, setidaknya dia akan lebih mikir buat nggak resign sembarangan karena dia sudah tahu susahnya nyari pekerjaan tapi kalau kerja karena dapat koneksi kan nggak effort banget usahanya sepertinya akan lebih mudah nyerah pas tahu kerjaan nggak sesuai keinginannya.



Yah itulah alasan-alasan saya yang sekarang lagi merasa bosan banget dijadikan tempat buat nyari pekerjaan, mudah-mudahan yang baca nggak ada yang tersinggung yah. 

Nggak bermaksud apa-apa cuma memberikan gambaran saja, kalau kadang yah pertanyaan sepele "ada loker gak ?" Itu bisa jadi dilema juga buat yang kerja.

Setelah nulis ini, saya jadi penasaran sama alasan mereka yang nyari kerja lewat saya ? Kenapa saya yah ? 



loph,

Maya Rumi