Kesan Pertama yang Mengecoh
Pertama kali melihat bangunannya dari luar, saya sempat mengira tempat ini terbengkalai. Eksteriornya terlihat jadul, dengan bagian beton yang dibiarkan terbuka. Namun, kunjungan makan siang kali ini mengingatkan saya untuk tidak buru-buru menilai sebuah tempat dari penampilannya. Di balik wajah bangunan yang sederhana itu, STRAITS Coffee & Eatery Cikini ternyata menyimpan suasana yang ramai, detail interior menarik, dan makanan yang membuat saya ingin kembali.
Jumat itu, saya datang bersama tiga teman kantor. Kami
memilih menghabiskan waktu makan siang di cabang Cikini yang berada di Jalan
Ciliman Nomor 14. Seorang teman sudah beberapa kali berkunjung, sehingga saya
cukup tenang mengikuti pilihannya. Rasa penasaran saya justru tumbuh ketika
kami mulai mendekati pintu masuk.
Dari Teras Hijau ke Meja Makan
Di bagian depan, deretan tanaman berdaun lebar menghiasi
sisi jendela kaca. Dari dalam, kaca besar itu memperlihatkan kendaraan dan
aktivitas jalanan. Tanaman membuat batas antara kafe dan keramaian di luar
terasa lebih lembut. Meski begitu, lahan parkir terlihat terbatas. Berdasarkan
pengalaman kami, datang menggunakan ojek atau taksi online bisa menjadi pilihan
praktis agar tidak repot mencari tempat parkir kendaraan.
Area dekat pintu masuk memiliki taman batu dengan tanaman
kecil, bangku beton, dan lampu rendah. Di dinding, cermin bundar berbingkai
merah tersusun sebagai dekorasi. Beberapa kursi juga berjajar di sekitarnya.
Perpaduan material yang sederhana dengan detail semacam ini membuat langkah
menuju ruang makan terasa seperti pembuka cerita.
Seorang pelayan menyambut kami dan menanyakan jumlah
pengunjung. Setelah mengetahui kami berempat, ia mengantar kami ke meja yang
masih tersedia. Siang itu suasananya sudah ramai. Percakapan terdengar dari
berbagai arah, sementara meja kosong semakin sulit terlihat. Saya membayangkan
pengunjung berikutnya mungkin perlu menunggu giliran.
Menu Seukuran Koran dan Interior Penuh Kenangan
Setelah duduk, kami menerima lembar menu berukuran besar,
menyerupai koran. Hal kecil ini terasa lucu sekali karena saya sudah terbiasa
menemukan kode QR di meja restoran. Kali ini, kami bisa langsung membuka
lembaran menu, membaca pilihan makanan, lalu saling menunjuk pesanan sambil
berdiskusi. Menyenangkan rasanya masih menemui kesan santai yang muncul dari kegiatan sederhana tersebut.
Sambil menunggu makanan, perhatian saya terus berkeliling
ruangan. Langit-langit beton, jalur kabel yang terlihat, dan lampu gantung
membentuk tampilan industrial. Kehadiran tanaman hijau memberi sentuhan segar
di antara warna abu-abu dan furnitur bernuansa hangat. Bentuk kursinya beragam,
termasuk sofa dekat jendela dan tempat duduk dengan bantalan bundar.
Sudut dekorasinya menjadi bagian yang paling mengundang rasa
ingin tahu. Terdapat beberapa telepon putar berwarna kuning, merah, dan hijau dipajang pada rak
terbuka. Di dekatnya ada lampu meja bergaya retro dan tas bertuliskan STRAITS.
Dua televisi tabung tersusun bertingkat, ditemani perangkat kamera. Salah satu
layar di setting dapat menampilkan wajah pengunjung, sehingga sudut ini terasa menarik untuk
mengabadikan momen.
Saya menyukai bagaimana benda-benda lama itu hadir di tengah
aktivitas makan siang yang sibuk. Ada pengunjung yang mengobrol, ada yang
menikmati makanan, dan ada pula yang seperti saya sibuk memperhatikan dekorasi. Ruangannya memberi sedikit banyak bahan percakapan tanpa mengharuskan kami terus melihat layar ponsel.
Bagi saya, inilah daya tarik yang perlahan mengubah kesan pertama terhadap
bangunannya. Detail interior membuat waktu menunggu pesanan terasa
menyenangkan.
Semangkuk Kwetiau Kari Ayam yang Menghangatkan
Mengikuti rekomendasi teman, saya akhirnya memilih kwetiau
kari ayam. Begitu semangkuk pesanan datang, kuahnya langsung menjadi pusat
perhatian. Warnanya tampak kaya, dengan taburan daun bawang dan bawang goreng
di permukaan. Tampilannya sederhana, tetapi cukup menggoda untuk segera
dicicipi setelah menunggu sambil mengobrol.
Saya menyukai rasa rempah pada kuahnya. Kwetiaunya kenyal,
sementara potongan ayamnya cukup besar. Perpaduan tersebut membuat setiap
suapan terasa memuaskan. Tidak butuh waktu lama sampai mangkuk saya hampir
kosong. Untuk selera saya, hidangan berkuah seperti ini terasa pas sebagai
makan siang, terutama ketika ingin sesuatu yang gurih dan menghangatkan.
Dari foto makanan kami, variasi pilihan di meja juga
terlihat menarik. Ada lontong sayur dengan ayam dan telur berbumbu merah, serta
chicken chop yang ditemani kentang goreng, sayuran, dan saus. Kehadiran
hidangan berbeda membuat kunjungan bersama teman terasa lebih seru. Kami bisa
membicarakan pilihan masing-masing, sekaligus mendapat gambaran menu yang ingin
dicoba pada kesempatan berikutnya.
Egg Tart yang Membuat Ingin Menambah
Selain hidangan utama, kami memilih egg tart original.
Pastry berlapis dengan bagian tengah berisi custard itu langsung menarik
perhatian. Permukaannya memiliki warna kecokelatan yang membuat tampilannya
semakin menggugah selera. Setelah mencicipinya, saya memahami mengapa camilan
ini begitu mudah menjadi bahan rekomendasi dalam obrolan kami.
Rasanya benar-benar saya nikmati. Bagian luarnya memberi
tekstur berlapis, sementara isiannya terasa lembut. Menurut saya, harga camilan
ini memang bukan kategori murah, tetapi pengalaman mencobanya cukup sepadan.
Tentu penilaian tersebut kembali pada selera dan anggaran masing-masing. Jika
ingin mencoba tanpa terlalu kenyang, menikmatinya bersama teman dapat menjadi
pilihan.
Menjelang Pulang Masih Ada Kejutan
Ketika selesai makan, seorang teman menuju kasir untuk
membayar. Area ini ternyata masih menyimpan hal menarik. Pada meja dan
etalasenya terlihat aneka camilan kemasan, chili oil, serta selai srikaya.
Lampu berbentuk memanjang di atas konter memuat penanda seperti Jajanan, Pay
Here, dan Egg Tart. Detailnya membuat area pembayaran tetap menyatu dengan
karakter interior.
Saat kunjungan kami, ada promo koin permainan capit boneka
untuk transaksi dengan jumlah tertentu. Teman saya mendapat kesempatan mencoba,
lalu mendekati mesin yang berada di salah satu sudut. Sayangnya, setelah dua
kali percobaan, boneka incaran belum berhasil dibawa pulang. Kami tetap tertawa
melihat usahanya. Karena merupakan promo saat itu, ketentuan dan
ketersediaannya perlu ditanyakan kembali ketika berkunjung.
Makan Siang yang Menyisakan Rasa Penasaran
Untuk pembaca yang senang memotret, perpaduan cahaya
jendela, tanaman, dan barang lawas menyediakan banyak objek menarik. Tetap
perhatikan kenyamanan pengunjung lain ketika mengambil gambar, terutama saat
meja sedang penuh. Saya sendiri merasa foto detail ruangan sudah cukup membantu
menyimpan suasana kunjungan kami hari itu.
Saya pulang dengan kesan berbeda dari saat datang. Bangunan
yang awalnya saya pandang ragu ternyata menghadirkan pengalaman makan yang
menyenangkan. Kwetiau kari ayam, egg tart, serta dekorasi retro menjadi bagian
yang paling melekat dalam ingatan. Keramaiannya perlu dipertimbangkan jika
mencari suasana tenang, tetapi bagi kami siang itu, justru menjadi latar
obrolan yang hidup.
Kalau kembali, saya ingin mengeksplorasi menu lainnya sambil menikmati sudut yang belum sempat diperhatikan. Teman-teman pernah singgah di STRAITS Cikini? Menu apa yang paling kalian rekomendasikan? Ceritakan pengalaman kalian di kolom komentar.








Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik, semua komentar akan di moderasi terlebih dahulu oleh penulis.