"anak-anak udah pada sakit belum bun ?"
"ya nih bun lagi pada sakit ganti-gantian aja"
"alhamdullilah nih anak-anak gw udah pada mulai sehat... tinggal gw aja nih udah mulai greges, badan udah gak enak banget"
Working mom problem
Percakapan khas working mom kalau sedang bertemu, selalu ada selipan pertanyaan tentang anak atau keluarga, sebagai sesama ibu bekerja kita sudah saling memahami cerita panjang dibaliknya. Memang begitulah keseharian seorang working mom, tidak hanya bila ada anak yang sakit, ketika suami sakit pun sama saja kondisinya, perhatian kita otomatis tertuju hanya kepada mereka. Disinilah peran ganda ibu akan banyak menguras energi.
Kita harus memastikan obat tidak terlewat di konsumsi, tengah malam terjaga untuk menemani anak yang sulit tidur, namun esok paginya tetap mengurus rumah dan tetap harus kembali berangkat ke kantor. Dalam situasi seperti itu, kebutuhan diri sendiri memang sering ditempatkan paling akhir, kita si mahluk paling kuat di muka bumi ini, merasa paling sanggup bertahan, padahal mungkin tubuh sudah mulai mengirimkan tanda bahwa energi mulai menipis.
... dan bagi saya sebagai working mom kondisinya akan semakin berat ketika pekerjaan sedang padat. Padahal tenggat waktu tidak menunggu sampai suasana rumah kembali tenang. Banyak rapat offline maupun melalui zoom meeting tetap berjalan, pesan-pesan di whats app dan email terus masuk sehingga tanggung jawab tetaplah harus diselesaikan.
Kekhawatiran terbesar saya bukan sekedar merasa lelah, melainkan jatuh sakit pada hari penting hingga harus meninggalkan pekerjaan dan keluarga sekaligus karena terpaksa menginap di rumah sakit. Di saat seperti inilah saya mulai memandang kesehatan seperti merawat sesuatu yang berharga sebelum benar-benar rusak.
Preventive Maintenance As Working Mom
Sebuah istilah yang menarik perhatian saya. Dalam dunia teknik, preventive maintenance berarti merawat mesin secara rutin agar kerusakan dapat dicegah. Disini saya memaknai istilah tersebut untuk diri saya sendiri. Sebagai working mom, tubuh dan pikiran adalah "mesin" utama yang membuat banyak hal tetap berjalan. Jika saya mengabaikan tanda-tanda kelelahan terlalu lama, dapat dipastikan seluruh rutinitas keluarga dan pekerjaan ikut terdampak.
Tanpa sadar, sebenarnya saya telah lama menjalankan kebiasaan sederhana yang sejalan dengan konsep tersebut. Mulai dari akhir pekan mempersiapkan menu dan membuat meal preap untuk bekal anak-anak, kadang bekal untuk saya dan pak suami juga. Setiap malam sebelum waktu tidur, anak-anak sudah mempersiapkan tidak hanya buku-buku pelajaran namun juga pakaian yang akan dikenakan esok hari hingga mengisi botol minum agar esok paginya tinggal dibawa saja.
Tak lupa saya juga berbagi tugas dengan pak suami, seperti siapa yang akan memasak untuk bekal dan sarapan, jadi tidak selalu saya yang mengerjakan hal tersebut, yang penting semua bahan dan menu sudah disiapkan, pak suami tinggal eksekusi saja.
Ternyata persiapan-persiapan kecil tersebut sangat membantu untuk mengurangi morning rush. Anak-anak dapat berangkat sekolah ontime dengan kondisi sudah sarapan, pak suami tidak perlu buru-buru saat mengantar anak-anak ke sekolah sehingga tetap tepat waktu berangkat ke kantor dan saya pun tetap memiliki waktu yang lebih tertata sebelum pergi ke kantor.
Mengutip dari berbagai sumber, dalam konsep preventive maintenance dibagi menjadi 3 kelompok utama tindakan, yaitu :
Perawatan diri (self care) seperti : membiasakan pola tidur yang teratur agar dapat memulihkan energi tubuh dengan baik, mencukupi kebutuhan nutrisi sekalipun ditengah kesibukan bekerja, serta meluangkan waktu untuk melakukan olahraga ringan demi menjaga stamina.
Manajemen waktu dan batasan (boundaries) seperti : menyusun jadwal kegiatan atau rutinitas harian yang sesuai dengan realitas, berani menolak beban kerja yang melebihi kapasitas diri sendiri dan mampu mendelegasi tugas untuk pekerjaan rumah dengan pak suami atau asisten rumah tangga dan pekerjaan kantor dengan rekan kerja atau anak magang.
Kesehatan mental, ini yang paling penting namun kerap kali di abaikan oleh para working mom, seminggu sekali harus memiliki waktu dengan diri sendiri tanpa gangguan dari pekerjaan dikantor, maupun anak-anak walaupun bila akhir pekan ingin selalu meningkatkan bonding dengan mereka, tapi buatlah waktu setidaknya 1-2 jam untuk bisa me time.
Ada masanya saya pernah menganggap istirahat sebagai hadiah setelah semua pekerjaan selesai, masalahnya baik itu pekerjaan kantor maupun rumah tangga hampir tidak pernah benar-benar habis. Sekarang saya berusaha menempatkan istirahat sebagai kebutuhan yang memang harus di jadwalkan.
Cara pandang ini membuat saya lebih peka terhadap sinyal tubuh, seperti sulit fokus, mudah tersinggung atau bangun tidur tanpa merasa segar. Sinyal tersebut adalah pengingat untuk memperlambat ritme, bukan sebagai alasan untuk memaksa diri bekerja lebih keras.
Kesehatan mental menjadi bagian yang paling mudah terlupakan. Akhir pekan sering ingin saya gunakan sepenuhnya bersama anak-anak untuk meningkatkan bonding, membayar waktu weekdays yang saya habiskan dikantor, hingga membuat saya melupakan saya tetap membutuhkan jeda.
Akhirnya saya membuat aturan kepada diri sendiri dan juga anak-anak, seperti saya butuh untuk tidur siang 1-2 jam tanpa gangguan dari mereka, benar-benar menikmati masa tenang tanpa suara rengekan atau keluhan dari mereka, Intinya saya ingin menikmati satu waktu yang dapat memulihkan energi.
Cara lain yang biasa saya lakukan adalah menuliskan segala hal yang menjadi perhatian saya di blog pribadi ini atau bisa juga dengan berbincang melalui whats app grup dengan komunitas para ibu, cara ini juga dapat memberi ruang untuk saling menguatkan, karena kesamaan pengalaman membuat kita merasa tidak menjalani semua tuntutan ini sendirian, rasanya seperti ada teman seperjuangan sepenangungan.
Pengalaman Pertama Suntik Vitamin C
Ditengah periode ketika anak-anak sakit berganti-gantian dan pekerjaan sedang banyak, saya mencoba satu bentuk perawatan tambahan, yaitu suntik vitamin C. Saya memilih berkonsultasi lebih dahulu karena ini merupakan pengalaman pertama. Saya ingin memahami prosedur, mengetahui apakah kondisi tubuh saya memungkinkan serta mengurangi risiko efek samping.
Jadi beberapa hari lalu saya menjalani tindakan suntik vitamin di Tebet, Jakarta Selatan, tepatnya di Primecare Clinic, lokasinya cukup dekat dari kantor saya dan sebelumnya saya mendapat rekomendasi oleh beberapa teman. Siang itu, saya melakukan registrasi lalu bertemu dokter. Berikutnya seorang tenaga medis memeriksa tekanan darah dan menanyakan riwayat kesehatan.
Penting sekali untuk menyampaikan informasi yang diperlukan sebelum melakukan suntik vitamin C ini, termasuk kondisi tubuh saat itu. Salah satu alasan konsultasi ini penting dilakukan karena vitamin C diberikan langsung melalui pembuluh darah. Adanya riwayat alergi, gangguan ginjal, tekanan darah tinggi, obat yang sedang dikonsumsi atau kondisi lain perlu disampaikan secara jujur agar dokter dapat menentukan apakah tindakan tersebut sesuai.
Setelah dokter menyatakan kondisi saya memungkinkan, prosedur pun dimulai. Dosis yang saya terima adalah 1.000 mg dan prosesnya berlangsung sekitar lima menit. Jangan menentukan dosis sendiri hanya karena membaca pengalaman orang lain. Kondisi setiap orang berbeda, sehingga keputusan dan frekuensi tindakan sebaiknya mengikuti hasil konsultasi dokter.
Sebelumnya saya sudah makan agar perut tidak kosong dan mencegah terjadinya mual atau pusing, selain itu saya juga mempersiapkan mengenakan pakaian dengan bagian lengan yang mudah disingsingkan karena suntikan dilakukan pada area lipatan siku, seperti pemasangan infus.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah memilih fasilitas kesehatan yang memiliki tenaga medis berlisensi dan menerapkan standar kebersihan yang baik. Primecare Clinic merupakan klinik keluarga terpercaya yang menawarkan layanan lengkap dengan dokter spesialis ahli berpengalaman.
Selain itu Primecare Clinic juga menyediakan layanan home care suntik vitamin di Jakarta Selatan, sangat praktis terutama untuk kita yang tidak dapat atau kesuitan datang langsung klinik, jangan khawatir tindakan tetap dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional dan karena ini dilakukan dirumah sehingga dapat menyesuaikan dengan kebutuhan medis dari pasien secara nyaman di kediaman sendiri.
Di Primecare Clinic ada banyak sekali menawarkan paket tidak hanya untuk suntik vitamin c saja, tapi ada yang lainnya seperti yang tertera pada brosur berikut.
Catatan Setelah Prosedur
Sebelum datang, saya sempat membayangkan rasa nyeri, kemerahan atau bengkak pada bekas suntikan. Kekhawatiran itu tidak terjadi pada pengalaman saya. Setelah prosedur selesai, saya dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Untuk biaya yang saya keluarkan saat itu sebesar Rp. 230.000,- cukup terjangkau dan sesuai standar. Namun harga tersebut mungkin dapat berubah, jadi sebaiknya tanyakan langsung pada saat pendaftaran atau sebelum membuat janji kedatangan.
Dalam beberapa waktu setelah tindakan, saya merasa tubuh lebih segar dan rasa letih berkurang. Namun, saya memahami bahwa pengalaman tersebut bersifat pribadi dan hasil setiap orang dapat berbeda. Disini saya pun tidak menjadikan suntik vitamin C sebagai jalan pintas atau jaminan agar tidak sakit. Bagi saya tindakan ini hanya sebagai salah satu bagian dari usaha merawat diri, setelah mempertimbangkan kondisi kesehatan dan berkonsultasi dengan dokter.
Pengalaman ini justru kembali mengingatkan saya bahwa sebagai seorang ibu juga perlu untuk masuk ke dalam daftar orang yang harus dirawat. Kita boleh memberi perhatian penuh kepada anggota keluarga dan bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tubuh tetap memiliki batas. Menjaga kesehatan tidak harus menunggu sampai kita benar-benar tumbang. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali menjadi langkah yang paling masuk akal.
Untuk para working mom yang sedang mempertimbangkan suntik vitamin C, tentu saja Primecare Clinic merupakan rekomendasi suntik vitamin di jakarta selatan dan semoga pengalaman saya ini dapat menjadi pertimbangan dan pesan saya harus mencari informasi yang jelas dan konsultasikan kebutuhannya dengan tenaga medis. dan untuk para working mom yang pernah menjalani pengalaman serupa, yuk sharing ceritanya di kolom komentar, cerita kalian mungkin dapat membantu working mom lainnya untuk mengambil keputusan dengan lebih tenang dan bijak.







Komentar
Posting Komentar
Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik, semua komentar akan di moderasi terlebih dahulu oleh penulis.