Maya Rumi

"todays little moments become tommorows precious memories"

Central Jakarta, Central Jakarta City, Jakarta, Indonesia

The Devil Wears Pedro

Tanpa terasa, waktu bergulir begitu cepat hingga menyentuh tahun 2026. Jika menoleh ke belakang, hampir dua puluh tahun lamanya saya mengarungi kerasnya dunia kerja. Perjalanan ini bukanlah sebuah garis lurus yang mulus.

Saya telah melewati fase berkali-kali berpindah kantor, mengemas barang dari satu meja ke meja lain, dan beradaptasi dengan budaya korporat yang beraneka ragam.

Pada masa-masa awal, pencarian saya didorong oleh motivasi yang sangat klise: mencari perusahaan yang tidak hanya mampu memberikan gaji cukup—atau jujur saja, keinginan ego masa muda yang selalu mendambakan gaji besar—tetapi juga sebuah tempat yang mampu memberikan rasa aman dan kenyamanan layaknya rumah kedua.

Setelah petualangan panjang yang melelahkan itu, pilihan hidup akhirnya menuntun saya untuk menetap dan menambatkan jangkar di sebuah kantor yang berdiri kokoh di pusat Jakarta.

Terlalu banyak cerita yang tercipta dan terpatri di dalam gedung kantor ini. Ruangan-ruangan di dalamnya bukan sekadar saksi bisu atas produktivitas harian saya, melainkan juga panggung sandiwara besar tentang manusia-manusia yang datang dan pergi.

Berbeda dengan mayoritas rekan kerja yang silih berganti mengisi kubikel, saya merasakan sebuah ikatan yang berbeda. Saya memandang tempat ini sebagai pelabuhan terakhir, sebuah ruang di mana kemungkinan besar saya akan menghabiskan sisa masa produktif hingga hari pensiun itu benar-benar tiba.

Walaupun jika dihitung secara matematis waktu tersebut masih terasa sangat lama, dan ada kemungkinan di tengah jalan saya akan berubah pikiran—entahlah, masa depan selalu menyimpan misterinya sendiri. Namun untuk saat ini, di sinilah hati saya memilih untuk berhenti melangkah.

Gelombang Resign dan Keteguhan untuk Bertahan

Di kantor inilah, seiring berjalannya waktu, saya menyaksikan satu per satu teman seangkatan saya menghilang. Mereka meninggalkan koridor-koridor kantor ini dengan membawa sejuta alasan yang melatarbelakanginya.

Ada yang mengajukan surat pengunduran diri karena berhasil memenangkan persaingan dan mendapatkan pekerjaan di kantor impian yang selama ini mereka idam-idamkan. Ada pula yang melangkah pergi karena sudah mencapai titik nadir, merasa muak dengan tabiat atasan yang toksik atau intrik rekan kerja yang menguras energi psikologis.

Sebagian lagi mundur karena mendengar panggilan hati yang suci: memilih mendedikasikan hidup sepenuhnya menjadi seorang ibu dan istri demi keutuhan keluarga.

Tak sedikit juga yang memilih resign murni karena didera rasa bosan yang akut, ingin mencoba tantangan baru di industri yang berbeda, atau mereka yang pergi karena terjebak konflik personal dengan satu-dua orang serta ketidakcocokan mendalam terhadap kebijakan manajemen yang dirasa tidak berpihak pada karyawan.

Apapun alasan di balik keputusan mereka, realitasnya menunjukkan bahwa saya adalah orang yang tertinggal di kantor ini. Namun, predikat "tertinggal" ini sama sekali tidak membuat saya merasa inferior atau meratapi nasib. Ini adalah sebuah pilihan sadar yang saya ambil dengan penuh tanggung jawab, karena saya benar-benar menikmati keberadaan saya di sini.

Alasan saya bertahan melampaui urusan deskripsi pekerjaan atau tumpukan tugas di atas meja, ini adalah tentang kecocokan yang mendalam terhadap lingkungan kerja, kenyamanan berinteraksi dengan atasan, serta kehangatan yang dibangun bersama rekan-rekan kerja yang ada.

Tidak hanya dengan yang satu departemen, namun juga dengan departemen lainnya yang tidak hanya selantai tapi juga berbeda lantai. Kombinasi faktor-faktor emosional dan profesional inilah yang menjadi perekat kuat, membuat hati saya tetap mantap memilih menetap di kantor ini hingga hari ini.

Tentu saja, saya tidak naif. Tidak dapat saya pungkiri bahwa setiap kantor di belahan dunia mana pun pasti selalu memiliki riak masalah dengan para pekerjanya. Ketidaksempurnaan sistem, benturan ego, dan ketegangan struktural adalah hal yang niscaya dalam dunia korporat.

Namun, di tempat inilah saya menemukan kapasitas diri untuk melaluinya. Saya belajar bagaimana caranya mengelola dan menerima segala bentuk tekanan yang tidak menyenangkan dengan kepala tegak.

Di sisi lain, kantor ini juga memberikan kompensasi yang cukup adil berupa hal-hal baik, apresiasi, dan kedewasaan emosional yang dulu tidak pernah saya temui di tempat-tempat kerja terdahulu.

Beberapa waktu belakangan ini, ketika duduk termenung di balik meja kerja, saya memikirkan kembali banyak fenomena dan paradoks manusia yang saya jumpai di sini.

Tentang Manajemen Waktu dan Etos Kerja

Dahulu, pikiran saya sering kali dipenuhi oleh tanda tanya besar yang mengusik logika. Saya kerap merasa heran dan aneh ketika mendengar cerita dari orang-orang yang mengeluh bahwa pekerjaan telah merenggut seluruh waktu personal mereka di luar jam kerja resmi.

Logika sederhana saya saat itu selalu mempertanyakan: 

"mengapa seseorang harus tetap menyibukkan diri dengan urusan kantor ketika kakinya sudah melangkah keluar dari gedung?"

 Apakah volume pekerjaan mereka sedemikian raksasa hingga tidak pernah bisa diselesaikan dalam rentang waktu delapan jam kerja, sehingga harus terus dibawa pulang dan mengusik ketenangan domestik?

Kini, setelah bertahun-tahun mengamati dari dekat, saya akhirnya memahami sebuah realitas yang pahit. Ternyata, akar permasalahannya terkadang bukan terletak pada ketidakmampuan kita dalam mengelola waktu kerja sendiri (time management).

Sering kali, justru orang lainlah yang menjadi faktor utama yang merusak ritme dan membuat kita terlihat seolah-olah tidak kompeten dalam mengatur waktu. Sosok "orang lain" ini tidak jarang adalah atasan kita sendiri atau rekan kerja dalam satu tim, atau siapapun yang bersinggungan kerja.

Mereka yang tidak memiliki batasan kerja yang jelas sering kali melemparkan tanggung jawab atau meminta koordinasi mendesak di waktu-waktu yang tidak tepat.

Oleh karena itu, sungguh saya menaruh rasa hormat dan cinta yang mendalam kepada para atasan maupun rekan kerja yang memiliki kemampuan manajemen waktu yang mumpuni. Mereka adalah profesional sejati yang tahu cara membatasi interaksi pekerjaan hanya pada koridor jam kerja yang telah disepakati.

Mereka memahami betul filosofi bahwa pekerjaan adalah sebuah dunia yang memang harus ditinggalkan dan ditutup rapat-rapat begitu jarum jam menunjukkan waktu pulang. Saya mengagumi mereka yang datang di pagi hari dengan penuh semangat, menampilkan wajah yang ceria dan berseri-seri dan ketika pulang tak merasakan ada beban yang tertinggal, justru siap menyambut bertemu dengan orang-orang tercinta yang ada dirumah.

Walaupun saya tahu mereka bekerja di bawah tekanan target yang sangat tinggi, mereka memilih untuk tidak menularkan keluh kesah atau energi negatif kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka menerima tugas dengan penuh tanggung jawab dan memiliki disiplin baja untuk menyelesaikannya tepat waktu tanpa perlu drama lembur yang tidak perlu.

Drama of Delegasi

Jika mengingat masa lalu, saya juga sering merasa aneh dan jengkel melihat tipe manusia yang gemar sekali melempar tanggung jawab pekerjaan yang seharusnya menjadi kewajiban mutlaknya. Mereka menggunakan berbagai cara, mulai dari bujuk rayu yang halus, manipulasi verbal, hingga tekanan psikologis implisit agar orang lain mau mengambil alih dan menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Tipe pekerja seperti ini kerap kali bertingkah sok sibuk, mondar-mandir mengurusi hal-hal sekunder yang sebenarnya sama sekali tidak lebih penting daripada melakukan tanggung jawab utamanya. Motifnya sangat transparan: mereka hanya ingin menghindari beban kerja dan melepaskan diri dari konsekuensi akuntabilitas.

Namun, seiring bertambahnya pengalaman, saya menemukan fenomena lain yang jauh lebih aneh dan membingungkan. Ada kalanya kita menjumpai seseorang yang terlihat sangat terikat atau memiliki bonding yang luar biasa kuat dengan posisi atau pekerjaannya yang lama.

Saking kuatnya ikatan itu, bahkan ketika ia sudah resmi dipromosikan atau dipindahkan ke divisi lain, ia tetap enggan mendelegasikan tugas-tugas lamanya kepada orang baru yang menggantikan posisinya. Ia terus menggenggam erat wewenang lama tersebut dan enggan melakukan handover dengan semestinya.

Setelah diselidiki lebih dalam, tabir misteri itu akhirnya terkuak. Fenomena tersebut ternyata bukanlah bentuk dedikasi atau ikatan emosional yang tulus terhadap pekerjaan. Itu adalah manifestasi dari ketidakmampuan seseorang dalam mengikhlaskan hilangnya pundi-pundi penghasilan tambahan yang selama ini ia nikmati di posisi tersebut—pendapatan di luar gaji resmi yang diberikan oleh kantor setiap bulannya.

Sebagaimana yang kita ketahui dalam realitas dunia kerja, terkadang ada aliran dana informal yang masuk ke kantong pribadi, yang untuk mendapatkannya tidak cukup dibalas dengan ucapan terima kasih, melainkan harus ditebus dengan bentuk pengabdian dan kesetiaan yang terkadang di luar nalar sehat.

Intrik Politik Korporat

Selain masalah delegasi, dinamika interpersonal lain yang tak kalah menarik adalah keberadaan para pekerja yang selalu mengiyakan semua perintah (yes-man). Dulu, saya menaruh rasa kasihan yang mendalam kepada orang-orang yang tidak memiliki keberanian untuk berkata "no" terhadap permintaan pekerjaan, baik yang datang dari intervensi atasan maupun desakan rekan kerja.

Saya kasihan melihat mereka tetap menerima tugas tambahan, padahal mereka sendiri sadar bahwa hal tersebut sudah di luar kapasitas keahliannya dan kondisi beban kerja mereka sudah sangat berlebih (overload job).

Namun, waktu mengubah perspektif saya. Kini saya menyadari bahwa orang-orang dengan sindrom seperti itu sebenarnya tidak patut untuk dikasihani. Di balik topeng kepatuhan atau rasa tidak enakan, sering kali terselip motif tersembunyi untuk menyombongkan diri, pamer kapabilitas, dan ingin dicitrakan sebagai sosok yang lebih unggul, lebih serba bisa, dan lebih kuat daripada rekan-rekan yang lain.

Ironisnya, ketika pada akhir perjalanan pertahanan mereka jebol karena kewalahan menampung beban yang terlalu berat, mereka justru akan menjadi batu sandungan yang merepotkan dan merugikan ritme kerja seluruh tim.

Dunia kerja dengan segala labirin politik di dalamnya memang sering kali menyajikan kejutan yang di luar dugaan. Pada awalnya, kita mungkin hidup dalam idealisme bahwa seseorang yang memiliki kinerja luar biasa, dedikasi tinggi, dan pencapaian objektif yang gemilang secara otomatis akan mendapatkan promosi kenaikan jabatan yang setara.

Namun, realitas korporat berbicara lain. Tanpa adanya dukungan politik yang kuat dari para pemangku jabatan di level atas yang memiliki kepentingan tertentu, prestasi secemerlang apa pun sering kali hanya akan berakhir di dalam laci meja kerja, terlupakan begitu saja.

Kondisi ini tidak berbeda jauh dengan panggung politik praktis yang kita saksikan di media massa. Jika seseorang ingin mempertahankan eksistensi, pengaruh, dan kekuasaan yang berkepanjangan di dalam struktur organisasi, ia dituntut untuk pintar-pintar mendekati dan mengambil hati siapa saja yang memegang kendali kekuasaan tertinggi di sana.

Sebab, di lingkaran elitis itulah strategi-strategi besar disusun, bukan hanya untuk kemajuan perusahaan, melainkan sering kali untuk melanggengkan posisi dan jabatan yang melekat pada diri mereka masing-masing.

Maka, bukan lagi sebuah kejutan dan sudah menjadi rahasia umum di koridor kantor jika kita melihat ada satu atau beberapa orang yang kinerjanya sangat buruk, nilai Indikator Kinerja Utama (KPI) mereka jauh di bawah standar harapan, dan pencapaian targetnya hancur lebur, namun posisi mereka tetap aman dan tak tergoyahkan.

Jika kita bertanya apa peran dan pekerjaan nyata mereka sehari-hari? Jawabannya sangat sederhana: tugas utama mereka adalah menjadi pengabdi setia dan tameng pelindung bagi atasan yang telah menganugerahkan jabatan tersebut kepada mereka.

Sisi Gelap Koridor Kantor

Namun, dari semua dinamika politik dan intrik profesional yang terjadi, ada satu hal yang jauh lebih mengejutkan dan merusak akal sehat—atau dalam istilah tren anak muda zaman sekarang, hal yang paling "membagongkan".

Di setiap sudut kantor, selalu saja ada pasokan gosip segar yang bergulir setiap harinya. Hal yang ironis adalah para pelaku di dalam gosip tersebut sering kali hidup dalam ilusi dan merasa sangat yakin bahwa tindakan domestik mereka tersimpan dengan rapi tanpa diketahui oleh siapa pun.

Padahal, kenyataan di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya: hampir semua orang di kantor sebenarnya tahu, namun memilih untuk pura-pura tidak tahu karena merasa risih dan malu untuk ikut campur. Kasus yang paling sering menjadi topik utama tidak lain dan tidak bukan adalah skandal perselingkuhan antar karyawan.

Sungguh, menyaksikan pemandangan semacam itu menimbulkan rasa muak yang mendalam di dalam hati. Ada kalanya terbersit keinginan yang kuat untuk bertindak nekat, melaporkan pelanggaran etika ini kepada pihak manajemen, bagian HRD, atau pihak-pihak berwenang lainnya yang sekiranya memiliki kuasa untuk menyudahi drama-drama percintaan terselubung yang penh dengan kebusukan moral tersebut.

Hati nurani saya merasa sangat miris karena menyadari bahwa skandal ini tidak melibatkan anak remaja yang labil, melainkan dua orang dewasa yang matang, yang sama-sama telah mengikat janji suci pernikahan dan memiliki keluarga serta anak-anak yang menanti di rumah.

Fenomena ini mencerminkan sebuah pergeseran motivasi yang sangat menyedihkan. Bagi segelintir orang, esensi datang ke kantor setiap pagi tampaknya telah mengalami distorsi yang parah. Kantor tidak lagi dipandang sebagai tempat yang terhormat untuk memeras keringat, mencari nafkah yang halal demi menghidupi keluarga, atau membangun karier profesional yang membanggakan.

 Sebaliknya, area kantor telah dialihfungsikan menjadi arena bermain kucing-kucingan, sebuah tempat perlindungan yang dianggap aman untuk memadu kasih terlarang dan berselingkuh dari pasangan sah, dengan tameng pembenaran yang klise: "Kami hanyalah rekan kerja yang kebetulan dekat karena tuntutan pekerjaan."

Dua puluh tahun adalah waktu yang sangat panjang, waktu yang cukup untuk melihat warna-warni watak manusia dalam ekosistem korporat di pusat Jakarta ini. Dari manisnya persahabatan, pahitnya dikhianati politik kantor, hingga muaknya melihat degradasi moral di lingkungan sekitar.

 Namun, terlepas dari segala kebusukan dan keindahan yang saling berkelindan, di sinilah saya memilih untuk tetap berdiri. Saya belajar bahwa menjadi pekerja yang bertahan bukan berarti kita harus ikut larut dalam arus yang kotor, melainkan bagaimana kita bisa tetap menjaga profesionalisme, integritas, dan kewarasan berpikir di tengah kepungan realitas dunia kerja yang penuh dengan kepalsuan.

"Bertahan di satu tempat bukan berarti kehilangan arah atau kesempatan, melainkan sebuah keberanian untuk berakar ditengah badai yang melanda lingkungan sekitar"



Komentar

Formulir Kontak