Rabu, 06 April 2022

Cerita Bocah Lelaki Berusia 7 Tahun

Dari teman-teman yang telah terlebih dahulu mempunyai anak lelaki kerap kali saya mendengar cerita pengalaman mereka bilamana mempunyai anak lelaki itu lebih menantang daripada mempunyai anak perempuan, terutama karena sikap ataupun tingkah laku mereka.

Tahu hal demikian terlebih dahulu membuat saya tidak lagi terlalu terkejut dengan hal-hal yang terjadi dengan Zaidan, ada beberapa hal yang menurut saya lumrah bila anak lelaki lebih nakal, lebih berani atau lebih malas dan susah diatur daripada anak perumpuan.

Sampai pada 2 bulan lalu secara berturut-turut yang terjadi pada Zaidan bukan hanya membuat saya geleng-geleng kepala namun juga membuat saya sedih sekali. 

Bermula dari keisengan berakhir di rumah sakit

Terjadi dibulan februari lalu, saya lupa hari dan tanggalnya yang saya ingat itu hari kerja karena hari itu saya sedang wfh. Siang itu saya sedang memasak untuk makan siang, telur goreng dengan sambal bawang, ketika Zaidan menghampiri saya dan mengatakan 

"bun, korekin kuping aku dong ?" 
"nanti setelah bunda selesai makan yah" 

Ternyata, Zaidan sudah tidak sabar sehingga ia pun meminta bantu oleh tantenya yang kemudian mengejutkan saya karena teriakan mama yang memanggil nama saya untuk segera menghampiri.

Ketika saya datang muka Zaidan nampak kesakitan, matanya menahan tangis, kedua tangannya mengepal menahan rasa sakitnya, badannya sedikit gemetar,

"aduh,, aduh,, sakit tante" keluhnya tak henti-henti
"kenapa sih ?" tanya saya dengan panik

Ternyata.. Zaidan memasukkan kertas yang ia bulatkan menjadi kecil-kecil kedalam kedua telinganya, untuk telinga kanan kertasnya bisa saya keluarkan karena kertasnya belum terlalu dalam namun untuk telinga kiri saya menyerah karena telinga Zaidan ada mengeluarkan sedikit darah karena lecet sepertnya.

Akhirnya tak jadi makan siang, saya pun segera membawa Zaidan kerumah sakit terdekat dari lokasi rumah. Untungnya mama ingat bila adiknya beberapa waktu lalu pernah bercerita membersihkan kupingnya di salah satu rumah sakit dekat rumah.

Rumah sakit ketika kami datang tampak sepi dan di plangnya saya lihat tidak ada melihat informasi adanya dokter praktek untuk tht, namun saya masuk saja dan langsung bertanya dengan resepsionis yang berjaga.

"ibu, ini kita coba lihat dulu yah telinga anaknya, bila tidak memungkinkan ibu harus kerumah sakit khusus dengan dokter tht yah"

Untungnya dengan peralatan medis yang ada telinga zaidan sebelah kiri yang tersumbat kertas bisa teratasi, lega sekali rasanya dan memang telingan sedikit lecet saja, sehingga dokter pun meresepkan obat agar luka tersebut tidak membuat telinganya menjadi bengkak.

Hingga hari ini tidak ada efek samping dari keisengan memasukkan kertas tersebut namun menjadi pembelajaran sekali untuk Zaidan dan juga saya bahwa anak-anak memang harus selalu dalam pantauan karena keisengannya untuk mencoba-coba bisa menjadi marabahaya.

Selokan rest area yang bikin shock

Sekitar pertengahan maret lalu , saat akhir pekan kami sekeluarga staycation di salah satu hotel yang ada di Pantai Anyer. Sudah setahun tak ke pantai akhirnya bisa kepantai lagi rasanya senang sekali, kami benar-benar menikmati hari liburan ini.

Selama ini tak pernah ada masalah sama sekali ketika kami liburan kemana pun, sampai hari itu. Kami pulang setelah check out dari hotel sekitar jam 12.30 siang, karena tidak ingin makan siang di daerah anyer kami pun terus melanjutkan perjalanan dan berencana makan siang di rest area sekaligus membeli oleh-oleh.

Setelah memarkir kendaraan di rest area kami pun berkeliling untuk mencari tempat makan, namun ternyata tidak terlalu banyak pilihan, akhirnya kami pun membeli oleh-oleh saja dan beberapa cemilan-cemilan untuk dimakan didekat kami parkir kendaraan.

Liburan ini tidak hanya saya dan keluarga saja, tapi ikut juga mama dan adik-adik saya dengan keluarganya dan kami pun membawa 2 kendaraan. Saat tengah asik makan cemilan, Zaidan yang tengah memakan sosis tengah bercanda dengan sepupunya di belakang kendaraan kami yang terparkir dekat selokan.

Ketika saya akan menikmati cemilan yang baru saja saya beli, terdengar salah satu adik saya berteriak histeris dan kencang sekali.

"Zaidannnnnn"

Saya dan pak suami segera bangkit dan menghampiri, betapa terkejutnya saya mendapati Zaidan telah berada di dalam selokan sedalam 1 meter lebih dengan kedua tangan yang terangkat ke atas meminta pertolongan.

Segera saja ayahnya mengambil posisi tiduran dan menjulurkan kedua tangannya untuk dapat mengangkat Zaidan. Untungnya Zaidan dapat segera ditarik keluar dari selokan, namun ia terlihat sangat shock dan menangis karena ketakutan.

 Saya sudah ingin memeluknya namun mendapati seluruh tubuhnya yang mengluarkan bau selokan yang sangat menusuk hidung saya urungkan niat saya tersebut, saya segera meminta zaidan untuk duduk dengan meluruskan kakinya, lalu meminta juga adik saya yang lain untuk mengambilkan minum untuknya.

Setelah Zaidan lebih tenang, saya segera mengeluarkan pakaian-pakain bersih milik Zaidan dari koper yang memang saya bawa lebih, tak lupa handuk dan juga perlengkapan mandi sabun dan shampo.

Ditemani oleh ayahnya, Zaidan pun dibawa ke toilet umum yang tersedia di rest area untuk mandi dan membersihkan badannya.

Setelah mandi dan tak lagi bau, saya baru memeluknya. Zaidan sepertinya masih shock sekali, berulang kali saya katakan padanya tidak apa-apa, bunda tidak marah dan ia hanya tersenyum lemah. Ia pun saya tawarkan lagi untuk kembali makan sosis bakar tapi ia menolaknya. 

Dari cerita tantenya, ia melihat Zaidan tengah berjalan mundur menjauh dari mobilnya karena tengah meledek sepupunya yang ada di dalam mobil, namun tiba-tiba Zaidan hilang dari pandangannya itulah yang menyebabkan tantenya berteriak kencang dan histeris. 

Zaidan tak mengetahui bila ada selokan dan penutup selokan tidak tertutup semuanya, pada bagian ujungnya ada celah yang memang cukup besar sehingga Zaidan pun bisa terceblos disana.

Untungnya tidak ada luka sama sekali dibadan Zaidan, namun malamnya Zaidan mengeluhkan sakit dibagian pinggangnya dan keesokan paginya dengan ditemani nenek dan ayahnya Zaidan dibawa ketukang pijat khusus anak untuk menghindari ada otot yang tertarik karena Zaidan tidak bisa menceritakan dengan jelas apakah ia jatuh terduduk atau tidak.


Dari dua cerita selama dua bulan berturut-turut tersebut, gimana bunda-bunda ada lawan untuk cerita anaknya yang lelaki yang tidak hanya bikin geleng-geleng kepala karena tidak terpikirkan sebelumnya akan terjadi tapi juga bikin sedih, nggak bisa lagi marah dan cuma berharap tidak akan ada lagi kejadian yang sama untuk kedua kalinya.

Sampai saat ini saya kalau ingat dengan kedua kejadian itu jadi kepikiran ini anakku masih usia 7 tahun pengalaman hidupnya sudah seperti ini, apalagi kalau ingat waktu saya tanyakan ke Zaidan kenapa memasukkan kertas ke dalam telinga, ia cuma menjawab singkat "iseng aja bun".




Dari berbagi dan mendengar cerita dengan teman lain dikantor yang pernah mengalami hal serupa dengan Zaidan ketika kecil, yaitu masuk ke dalam selokan. Ia bilang hingga hari ini di usia dewasanya ia masih mengingat jelas peristiwa tersebut, tidak trauma tapi menjadi tahu dan sadar bila ada hal-hal yang membahayakan diri sendiri dan lebih berhati-hati agar tidak mengalami hal serupa.

Sebagai orang tua pun saya merasa harus lebih menjaga dengan baik, bukan menjadi over protective dengan banyak membatasi aktivitas anak. Namun lebih kepada mengajarkan ke anak bersikap waspada atau hati-hati, sehingga anak pun dapat mengetahui mana hal-hal  yang masih boleh dilakukan dan tidak boleh sama sekali.

Semoga bermanfaat yah bun cerita random ku kali ini dari bocah lelaki berusia 7 tahun bernama Zaidan ini dan semoga aku sebagai bundanya terus diberi kesabaran mendidik dan mengasuhnya.






1 komentar:

  1. Imutnya anak satu ini, hemm gemes pen cubit wajahnya. Memang di usianya kayak gini gesit-gesitnya bermain apalagi kalau bocah laki. Ya allah semoga cepat sembuh, Nak.

    BalasHapus

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik, semua komentar akan di moderasi terlebih dahulu oleh penulis.