Selamat Jalan Penghilang Penat

April 10, 2021

Minggu ini tantangan menulis bersama komunitas 1 Minggu 1 Cerita (1M1C) bertemakan PENAT. Sebenarnya saya ingin menuliskan cerita dari kantor tentang kepenatan yang datang silih berganti selama 10 tahun bekerja. 

Namun minggu ini saya justru kehilangan sosok yang menjadi obat untuk penghilang penat yang menemani selama dua bulan terakhir dirumah.




Semalam (9/4/21) tak lama setelah pak suami pulang sekitar jam 8-an, ia mengangetkan saya dan anak-anak yang tengah asiek berkumpul dikamar.

"meng lemes banget, sepertinya mau mati"

Kami memandanginya seakan tak percaya mendengarnya, segera saja kami pun beramai-ramai ke dapur menghampiri tempat biasa Meng tiduran.

Ternyata benar yang dikatakan pak suami, Meng tertidur tapi tak seperti biasanya ia terlihat sangat lemah. Ketika Zaidan membelai bulunya yang lebat, saya melihat matanya yang sedih sekali.

Saya pun berinisiatif mengajak pak suami untuk membawa Meng ke pet shop langganan kami yang tak jauh dari rumah, Setelah memasukkan Meng ke dalam box khususnya kami pun berangkat menggunakan sepeda motor.

Namun karena hari sudah malam juga pet shop pun sudah tutup. Dalam perjalanan mencari pet shop lainnya, saya sambil googling dokter hewan yang dapat kami datangi.

Kami menemukan beberapa pet shop lainnya yang sayangnya semua sudah tutup, begitu juga dengan klinik dengan dokter hewannya, karena hari sudah malam dokternya sudah pulang dan baru akan buka praktek lagi keesokan paginya. 

Kami pun pulang  kerumah membawa Meng tanpa hasil apapun.

Meng adalah kucing pertama bagi keluarga kami, setelah beberapa tahun terakhir ini Zaidan berkali-kali memaksa untuk memelihara seekor kucing dirumah, akhirnya sekitar dua bulan lalu kami pun memutuskan untuk mempunyai peliharaan seekor kucing.

Meng adalah kucing persia, warna bulunya perpaduan kuning dengan coklat. Menggemaskan sekali. Meng berkelamin jantan dan baru berusia 4 bulan ketika datang.

Terjadi kejadian lucu ketika ia datang. Waktu itu ia datang malam hari dibawa oleh adik saya dan suaminya. Kami pun menaruhnya dalam kadang yang telah saya belikan sebelum kedatanganya, kami berikan juga makanan dan minuman di dalam kadang tersebut.

Esok paginya Meng hilang.

Ia tidak ada dikandang. Pintu kadangnya agak terbuka sedikit. Kadangnya memang tidak kami berikan kunci, karena pikir kami ia tak mungkin kabur, namun ternyata ia bisa membuka pintu kandangnya.

Kami berkeliling mencari di dalam rumah tapi tak menemukannya dan menyesal sekali kami belum memasangkan kalung yang memiliki lonceng di lehernya, karena tidak ada suara mengeong sama sekali ketika kami mencarinya didalam rumah.

Pencarian pun berlanjut di lingkungan sekitar luar rumah, kami pun menanyakan kepada tetangga-tetangga kami, namun tak ada yang melihatnya lalu kami minta untuk di beri tahu bila ada kucing berkeliaran seperti ciri-ciri Meng. Hasilnya pun nihil.

Hingga di malam hari, saya tengah dikamar mandi membersihkan Zeanissa yang baru saja pup. Tiba-tiba saya mendengar suara kucing yang mengeong, ibu saya pun mendengarnya dan sekelebat melihat ada kucing di ruang tamu. 

Namun begitu lampu ruang tamu di nyalakan, tidak ada kucing. Jadi merasa seperti halusinasi, tapi saya dan ibu saya yakin sekali kami tidak salah dengar, apalagi ibu saya juga melihat ada kucing tengah berjalan diruang tamu rumah.

Ternyata selama seharian Meng bersembunyi di samping lemari besar. Ia bersembunyi dalam celah kecil antara lemari dengan tembok. Akhirnya ia keluar mungkin karena ia kelaparan dan kehausan.

Lega sekali ternyata Meng tidak hilang dan masih ada dirumah.

Dirumah yang menyukai kucing selain Zaidan adalah ayahnya dan Zeanissa, anak bungsu kami. Nama Meng pun diberikan oleh Zeanissa karena ia selalu memanggil demikian dari pertama kali Meng datang kerumah.




Untuk saya sendiri bila dibilang tidak suka yah kenyataanya selama Meng ada dirumah saya yang membelikan semua perlengkapannya mulai dari kandang hingga boxnya, saya juga yang membawanya setiap 2 minggu sekali untuk dimandikan ke salon khusus kucing.

Tiap pagi saya bersihkan beleknya yang banyak sekali lalu saya sisir bulu-bulunya yang tebal sampai rapi dan tidak ada gumpalang-gumpalan lagi.

Namun untuk mengurus makanan, minuman serta pasirnya, saya serahkan tugas tersebut kepada pak suami, karena pernah sekali saya mengurusnya juga tapi saya nggak kuat dengan baunya. Terutama dengan makanannya yang basah dan pupnya, ya ampun baunya, uek banget ternyata, bikin pengen muntah.

Meng termasuk kucing yang mudah diatur, walaupun wajahnya menunjukkan kebandelan. Ia hanya pernah sekali pipis dan pup sembarangan di dalam rumah, tepatnya di kamar ibu saya. Setelah itu ia tak pernah lagi melakukan hal tersebut. 

Ia malah selalu buang air kecil di kamar mandi. Namun untuk pup ia melakukannya di bak pasir yang kami sediakan dan kami taruh dibawah tempat area cuci piring.

Hal lain yang menyebalkan dari Meng adalah ia senang sekali main ke dalam kamar mandi, ia akan duduk diam disamping bak air, sehingga badannya pun menjadi basah kuyup dan bulunya jadi nggak bagus kalau sudah basah seperti itu. 

Mungkin karena di dalam kamar mandi terasa sejuk dan segar yah jadi ia senang berada disana, karena selain di kamar mandi ia senang rebahan di keset depan pintu menuju dapur, di depan pintu ini memang terasa sekali angin yang keluar masuk.

Meng akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya sekitar jam 7 pagi, kata ibu saya, tidak ada suara sesak nafas darinya ketika sakratul maut, tenang sekali.

Saya tidak berani menemani di waktu terakhirnya karena terlalu sedih. Hingga berani melihat Meng sudah tak bernyawa karena adik saya yang membawa Meng ke rumah penasaran ingin melihat jadi ia melakukan video call ke saya.

Air mata saya tidak bisa berhenti mengucur, saya menangis terisak-isak melihat tubuhnya yang lemas, Meng seperti tertidur pulas di atas bantal hitam tempat ia biasa tidur. Zaidan dan ayahnya tidak menangis seperti saya, Zaidan hanya mengatakan "aku nggak punya teman main lagi"

Namun itulah kesedihan terdalam dari Zaidan dan sementara pak suami yang tak sanggup untuk segera mengubur Meng seketika itu juga dan lebih memilih sore hari setelah ia pulang kerja untuk mengubur Meng, menurut saya ia pun belum sanggup mengikhlaskan kepergian Meng yang mendadak.

Akhirnya karena takut Meng mengeluarkan bau tak sedap bila menunggu hingga sore hari, ibu sayalah yang menguburnya di tanah kosong milik tetangga.



Hari ini rasanya masih tak percaya Meng sudah tak ada lagi dirumah kami, ibu saya bilang tadi pagi masih mencium bau Meng di dapur, bau khas Meng. Padahal kami sudah membersihkan kandang dan boxnya. Begitu pula dengan bak pasirnya, bantal tidurnya pun sudah dibawa oleh tukang sampah tadi pagi.

Zeanissa yang belum mengerti bila Meng sudah mati, masih memanggil-manggil Meng seharian ini, mungkin ia pikir Meng tengah bersembunyi disuatu tempat, karena ia tak melihatnya seharian dirumah.

Ingatan saya kembali di kamis sore ketika akan memandikan Zaidan dan Zeanissa, sambil membuka pakaian mereka secara bergantian, mereka berdua pun bergantian bermain,menggendong hingga membelai Meng dengan sayang.

"nanti setelah mandi kita foto-foto sama Meng" ajak saya kepada mereka berdua.
"yuk bunnn, kan aku udah lama bilang begitu sama bunda, kita belum ada foto-foto sama Meng" Zaidan mengingatkan saya lagi tentang ajakannya beberapa waktu lalu.

Namun ternyata kami memang tidak pernah punya foto bersama dengan Meng, hanya mempunyai kenangan-kenangan indah yang banyak sekali walau hanya dua bulan ia bersama kami.

Selamat jalan Meng, terima  kasih pernah ada di hidup kami dan terutama karena menjadi obat penghilang penat kami sekeluarga.

You Might Also Like

18 comments

  1. Waktu yang cukup singkat tapi tiap harinya pasti penuh kenangan, aku bacanya aja kerasa sedihnya. Jadi inget di rumah adikku suka banget sama kucing, beberapa kali pernah memelihara kucing kampung yang terlantar. Tapi dulu karena adikku masih kecil sekali, masih PAUD jadi asal dalam memelihara kucing. Tiap kucing yang datang gak bertahan lama, mungkin tak tahan dengan intensitas bermain dengan adikku yang brutal.

    Tapi sekarang untuk pertama kalinya memelihara kucing yang "niat", dibelikan kandang dan juga ada kalung leher. Gak bisa ngebayangin mungkin adikku kalau melihat kucing ini meninggal bakal sedih seperti kehilangan Meng

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas aku pun baru merasakan ternyata kehilangan peliharaan itu begitu menyedihkan yah

      Hapus
  2. Aku ikut sedih bacanya. Aku memang nggak peliharan hewan apa pun termasuk kucing. Tapi ngelihat orang-orang yang penuh cinta terhadap sesama makhluk itu membahagiakan hati.

    Di markas ada juga yang melihara kucing, dan saya sering mencoba berinteraksi dengan mereka. Seru juga ternyata.

    Dan untuk Meng selamat jalan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mas aku pun dulu selalu senang lihat orang lain yang punya peliharaan yah tenyata memang semenyenangkan itu

      Hapus
  3. Kehilangan binatang peliharaan, apalagi sampai dia mati itu rasanya mengiris pilu. Jadi teringat dulu adik saya juga punya kucing, waktu kucingnya gak pulang karena mungkin dia nyasar sama temen-temen kucing lainnya, adik saya sampai beberapa hari sedih terus. Alhamdulillah kucingnya pulang, dan dia bisa tertawa lagi. Pas moment kepulangan kucingnya itu, saya ikut nangis harus, karena adik saya ngejar itu kucing sambil nangis. Huhuhu, aslii deh.. ngena banget di hati.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya yah mba kucing hilang karena kesasar juga bikin sedih karena kepikiran gimana dia makan atau tidur diluar

      Hapus
  4. Turut berduka cita ya bun...semoga Meng beristirahat dengan tenang di sana. Semoga kakakk zaidan bisa ikhlas dengan kepergian Meng.

    It's never easy, apalagi setelah semua memori yang terukir bersama.

    BalasHapus
  5. innalillahi.. aku selalu sedih baca kabar kucing meninggal. beberapa kali ngurus kucing sendiri sampai ajal selalu merasa kehilangan setelahnya, keinget kenangan saat masih bareng-bareng. sekarang ada kucing lagi di rumah dan bawaannya ga pengen menyia-nyiakan kehadiran mereka, harus bisa ngasih waktu dan perhatian kita ke mereka sebaik-baiknya :")

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya bener mba ternyata gak hanya ke manusia yah kita harus perhatian ke kucing pun demikain, aku pun sempat merasa kurang perhatian dengan MENG jadi ada menyesal juga

      Hapus
  6. kehilangan kucing peliharaan itu sedih banget karena mereka sudah seperti keluarga sendiri. Saya beberapa kali kehilangan kucing peliharaan dan untuk move on-nya butuh waktu yang lumayan lama, hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah iya bener mba, takutnya peliharaan kita yang baru umurnya juga gak lebih panjang yah mba

      Hapus
  7. Selamat jalan untuk Meng :) Hampir ga kuat bacanya, meskipun saya bukan pemelihara kucing tapi saya tahu betul rasanya kehilangan hewan kesayangan. Semoga ada Meng Part II yang bisa menemani anak-anak bermain dan ceria lagi ya mba, beberapa teman saya yang punya kucing juga sering bercerita kalau kucingnya punya sikap lucu dan kadang aneh tapi disitulah istimewanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini aku pun nulisnya juga sambil sedih-sedih mba, aamiin semoga ada rejeki bisa punya kucing persia lagi seperti MENG

      Hapus
  8. Memang kehilangan kucing yang sudah dirawat dan hidup bareng kita dalam jangka waktu yang lama itu sakit banget. Aku juga merawat kucigg soalnya, jadi memang berasa sih sedihnya itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kucingnya mba mutia sehat selalu yah

      Hapus
  9. Aku baca ini sambil nangis huhuhuhu karena aku juga punya anabul di rumah. Waktu mereka sakit aja sedihnya bukan main, apalagi sampai kehilangan. Selamat jalan, Meng. Semoga Mbak dan sekeluarga diberikan keikhlasan ya.:(((((

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mba yun, semoga bisa ikhlas dan gak sedih lagi karena kehilangan MENG

      Hapus

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik, semua komentar akan di moderasi terlebih dahulu oleh penulis.