daycare

Bulan November ini, bulan keempat Zaidan di daycare, bulan ini nggak ada kejadian yang luar biasa selama di daycare jadi saya mau cerita seputar daycare saja, karena banyak yang nanya-nanya pengalaman saya, mudah-mudahan di tulisan ini bisa membantu jawab pertanyaan keresahan dan kebingungan serta bisa menjadi bahan pertimbangan yang mencerahkan buat orang tua tentang daycare.

Apa itu daycare ? 
Ternyata nggak semua orang tahu dan mengerti apa itu daycare. Saya pikir zaman sekarang mah sudah sangat familiar yah daycare, karena sudah lebih mudah ditemukan di jakarta dan sekitarnya, namun ternyata saya salah deh. Teman saya yang sudah menikah namun belum mempunyai anak saja tidak tahu apa itu daycare.

Jadi kalau menurut saya daycare adalah tempat dimana orang tua bisa menitipkan anaknya karena kedua orang tua si anak sama-sama bekerja, bukan hanya ibunya saja yah yang kerja. kebanyakan orang yang tahu daycare pun hanya berpikir kalau ibunya irt (ibu rumh tangga) ngapain anak di titip di daycare.

Buat saya yah orang tua yang menitipkan anaknya ke daycare, atau lebih tepatnya ibu yang menitipkan anaknya ke daycare nggak mesti dia kerja juga, kalau dia punya kegiatan atau alasan lain yang tidak memungkingkan untuk mengasuh anaknya yah bisa juga kan untuk menitip anaknya di daycare.

Anak usia berapa yang bisa di titip di daycare ?
Di daycare zaidan, jangan kaget yah bayi usia 3 bulan pun ada yang sudah dititip sampai usia 5 tahun. Kenapa saya bilang jangan kaget ? Karena beberapa teman saya berfikir daycare itu untuk anak-anak diatas usia 1-2 tahun keatas bukan new born. Anak-anak yang di tinggal di daycare karena ibunya bekerja yah rata-rata masuk daycare usia 3 bulan, berbarengan dengan cuti melahirkan si ibu yang telah selesai.

Kemudian untuk informasi saja, untuk pertanyaan yang agak mengganggu buat ibu-ibu yang menitipkan anak di daycare, mohon diabaikan saja tidak perlu diambil hati dan jadi sensitive seperti yang teman saya tanyakan : "tega banget ibunya masih bayi sudah dititip di daycare ?". Saya tidak bisa bilang tidak tega yah, namun setiap orang tua punya alasan tersendiri, jadi plis jangan menghakimi atau mengecilkan hati orang tua yang menitipkan anak di daycare dari bayi, karena berat sekali beban perasaan yang harus di tanggung apalagi ditambah komentar yang tidak menyenangkan, lebih baik support untuk menguatkan keputusan mereka.

Berapa lama anak berada di daycare selama sehari dan kegiatannya apa saja ? 
Di tempat zaidan anak-anak boleh datang dari jam 7 pagi dan pulang jam 5 sore, jadi sekitar 10 jam, namun waktu itu tidak mengikat, zaidan biasanya baru datang jam 8.30 dan sudah saya jemput jam 4.30. Namun kalau terlambat dari jam 5 sore, kita akan kena biaya ekstra dan masing-masing daycare berbeda nominal untuk biaya keterlambatan penjemputan tersebut.

Untuk kegiatan daycare pun berbeda, ada yang daycare sekaligus preschool namun ada juga yang hanya daycare saja. Untuk yang hanya daycare saja kegiatan tidak terlalu banyak tidak terlalu lama juga, seperti menggambar, mewarnai, berolahraga atau menyanyi, dikeseharian lebih banyak main dengan teman-temannya. Namun kalau daycare sekaligus preschool ada jam belajar selama 3 jam perhari, mulai dari jam 8 pagi hingga jam 11 siang.



Kondisi daycare seperti apa ?
Sebagai orang tua yang akan menitipkan anak, kita harus punya kriteria dulu untuk daycare-nya buat nemuin yang sesuai yah kita harus rajin survey untuk menemukan daycare tersebut, setelah itu bawa anak kita agar kita tahu daycare itu cocok dan nyaman untuk anak atau nggak, tapi hal ini berlaku kalau anaknya sudah ngerti saja sih yah, misal seperti zaidan sudah 3 tahun saat masuk daycare, jadi keputusan saya di pengaruhi oleh zaidan juga untuk pemilihan daycare-nya.

Kalau saya kemarin mencari daycare yang ada ruang terbuka untuk bermainnya, kebetulan malah menemukan yang taman bermainnya itu ada pasir, makanya langsung sreg karena itu tempat bermain favoritnya zaidan.

Kemudian saya mencari daycare yang jaraknya dekat dari rumah atau bisa juga yang jaraknya dekat dari kantor, pokoknya jangan yang memilih daycare yang letaknya ditengah-tengah antara rumah dan kantor. Karena bila terjadi sesuatu, misal anak tiba-tiba sakit, kalau dekat rumah kita bisa minta tolong orangtua atau saudara untuk segera melihat anak kita, kalau dekat kantor yah kita sendiri yang bisa segera datang.



Pengasuh di daycare ?
Ditempat zaidan mbak/ibu yang menjaga dipanggil dengan miss. Ada 3 orang yang menjaga untuk 10 orang anak, karena tidak semua anak full daycare dari pagi sampai sore, beberapa hanya setengah hari ada di daycare. Oiya untuk penjaga daycare ini, kalau saya sih minta kontak WA mereka karena di daycare zaidan kebetulan tidak ada cctv jadi kalau mengecek kegiatan zaidan saya wa ke mereka dan mereka bisa kirimkan foto zaidan atau video. 

Berapa biayanya ? 
Nah ini juga macam-macam, tidak sama antara daycare satu dan yang lain, ada yang mahal ada juga yang murah yah tergantung dengan fasilitasnya. Jadi jangan berekspetasi tinggi tapi maunya daycare harga murah. Untuk pemilihan daycare sebisa mungkin sesuaikanlah denga budget yang kita punya, kalau budget nggak sesuai jangan maksain dengan daycare mahal.

Apa saja yang harus di persiapkan ketika masuk daycare ? 
Ketika awal masuk zaidan membawa membawa perlengkapan untuk tidur, yaitu : bantal, guling dan selimut sendiri yang kemudian di tinggal di daycare. lalu perlengkapan untuk mandi, seperti : handuk (dibawa pulang seminggu sekali untuk penggantian), shampo, sabun, dan lainnya.  Untuk bawaan setiap hari yaitu : sarapan, karena makan hanya dapat untuk siang dan sore hari dan cemilan. Oiya zaidan juga bawa mainan dari rumah tiap kali datang, agar dia betah selama seharian di daycare, ketika pulang mainan juga dibawa pulang tidak ditinggal.

Kelebihan dan kekurangan daycare ? 
Plusnya buat saya banyak banget, salah satunya berhasil toilet training karena terbantu oleh miss dari daycare, terus zaidan juga sudah bisa melakukan hal-hal tertentu sendiri dan menolak untuk dibantu. kalau kata orang-orang rumah sih, zaidan sekarang lebih cerewet, lebih kepo kalau buat saya sih kosa katanya memang bertambah banyak. 

Kekurangannya apa yah ? Saya nggak bisa jawab nih. Hahaha. Selama ini belum ada masalah yang akhirnya menjadi kekurangan dari daycare tersebut sih. kalau nggak enaknya sih ada, saya baru menemukan di bulan ke empat ini, karena kebetulan lagi musim hujan agak ribet dan males yah kalau pas hujan di pagi hari saat mengantar zaidan ke daycare atau saat pulang pas menjemputnya. 

Apalagi yah, oh ya siapkan mental kali yah. Meninggalkan anak seharian dengan penjagaan orang lain, ktia sebagai orang tua pasti khawatir di awal-awal. Tapi sebisa mungkin kurangi khawatir terutama yang ibu-ibu, karena sepengalaman saya, perasaan khawatir itu berpengaruh ke anak kalau kita sering cemas, terus kepikiran anak melulu selama kita tinggal, anak jadi tidak betah juga di daycare jadi harus berfikir positif anak betah, aman dan nyaman di daycare dan kalau kita ibu yang bekerja begitu melepas anak di daycare, fokus aja ke kerjaan agar segera selesai dan cepat bisa ketemu anak lagi.

Kalau ada yang kurang informasinya silahkan yah kontak saya di email : mayarumi@gmail.com dengan senang hati deh kasih info-info terkait daycare, terutama daycare zaidan yang ada di daerah Jakarta Barat.






loph,
Maya Rumi

Beberapa tahun lalu saya pernah bekerja untuk posisi front liner dimana keseharian saya bekerja harus bertemu dan berinteraksi dengan customer, karena pekerjaan tersebutlah, saya mengikuti beauty class yang diadakan kantor. Sebenarnya bukan hanya front liner sih yang dapat mengikuti kelas ini, tapi untuk karyawan back office juga diterapkan hal yang serupa, karena perusahaan sangat concern dengan pembentukan image perusahaan, jadi pembelajarannya tidak hanya make up saja tapi juga grooming yaitu memperhatikan dan menjaga penampilan selama bekerja mulai dari tatanan rambut, pakaian dan sepatu yang kita pakai, pokoknya ujung rambut sampai ujung kaki bahkan hingga sikap kita pun harus mengikuti SOP (Standar Operasional Prosedur) yang telah di atur oleh perusahaan.

Ribet banget kan ?! Padahal belum mulai kerja.. hahahaha

Dari sanalah saya belajar untuk selalu rapi selama dikantor, baik itu dandanan maupun pakaian. Walaupun saya tidak bekerja lama dikantor tersebut, namun pelajaran beauty class-nya begitu berkesan pada diri saya. Terutama untuk urusan poles memoles wajah, saya dahulu tidak suka berdandan, karena saya tidak bisa dan ditambah tidak biasa jadinya nggak pedelah, ternyata setelah mengikuti kelas tersebut dengan diharuskan menerapkannya setiap hari, dari pagi hari hingga sore hari. Itulah yang merubah saya seperti saat ini, lebih percaya diri dengan memakai make up.

Dari banyaknya cara penggunaan make up yang di ajarkan yang paling berkesan buat saya itu cara memakai eyeliner, walaupun sampai sekarang masih nggak bisa melukis alis yang benar, tapi bisa melukis mata dengan eyeliner menurut saya sih prestasi karena eyeliner pensil, eyeliner tinta atau eyeliner spidol kan nggak sama cara penggunaanya tapi ketika kita bisa membuat garis membentuk mata kucing yang sama kan kemampuan karena terlatih, yah sama halnya dengan melukis alis.cmiiw.

Lain kantor lain peraturan, lain lingkungan lain kebiasaan. Inilah yang saya rasakan dan temukan kemudian, begitu resign dari kantor lama pindah ke kantor baru. Yang terlihat dan yang terjadi adalah perbedaan yang sungguh signifikan. Kalau kantor lama sangat mendisiplinkan pekerjanya untuk urusan tampilan dan dandanan, kantor baru malah sebaliknya, nggak ada aturan apalagi tuntutan untuk itu, penampilan adalah urusan masing-masing selama itu sopan, begitu juga dandanan, tidak dandan pun yah tidak menjadi masalah.

As simple as that !?

Namun karena sebelumnya mindset saya sudah terbentuk harus seperti apa di kantor itu jadinya saya terkaget-kaget dong melihat perbedaan kantor baru ini, dimulai saat saya pertama kali datang untuk interview, saya melihat karyawati di kantor kok bisa-bisanya pakai sepatu crocs saat bekerja. Pada masanya sepatu crocs sempat booming dan menjadi favorit, dikantor saya yang lama memakai sepatu crocs dikantor adalah BIG NO NO.

Yang terlihat disini adalah sebaliknya, hampir semua orang memakai sepatu crocs dengan berbagai macam warna dan model, bukan hanya mereka yang tak punya jabatan bahkan mereka yang punya jabatan pun nyaman saja memakainya. Memang sih ada model sepatu crocs yang lebih formal namun peraturan kantor lama tetap tidak mengizinkan untuk penggunaannya selama di kantor, alasannya karena bahan karet dari sepatu crocs itu mengurangi tampilan profesionalisme pekerja.

Yang membuat saya kaget kemudian, ketika saya sudah diterima bekerja adalah teman-teman perempuan yang dandan dengan make up seadanya. Bisa di katakan mungkin hanya lipstik dan bedak saja, default make up perempuan kalau istilah saya. Itupun tipis banget, yang hanya terlihat ada di wajah pada pagi hari saja, kalau sudang siang, sudah luntur itu make up berganti dengan muka berminyak apalagi sore hari sudah tidak ada sisanya di wajah.

Belum lagi ada yang berdandan hanya kalau ada meeting saja dengan rekan kerja dari kantor lain, kalau nggak, ya sudah bukan hanya mukanya yang lusuh tapi juga penampilannya bukan seperti ada dikantor tapi seperti ada dirumah dan baru bangun tidur, masa yang karyawan dikalahkan sama OG yang lebih rapi dengan seragam dan tetap dandan walaupun kerjanya justru untuk bersih-bersih seperti dirumah. Saya sampai mikir, itu selama di jalan nggak risih yah dilihatin orang, pede banget kan kalau naik kendaraan umum mau kerja tapi tampilan seperti nggak mandi.

Duh, rasanya pingin daftarin orang begini untuk di make over atau ikutan beauty class aja.

Saya pun jadi teringat masa-masa dimana ketika saya berada di kantor sudah harus paripurna dandanan dan tampilan, jadi di kantor itu hanya untuk touch up saja. Bayangkan dahulu touch up itu harus 15 menit sekali, saya kerja kira-kira 7 jam sehari, silahkan hitung sendiri berapa kali saya ngaca dalam sehari. Hahaha. Jadi yah merasakan muka berat karena make up yang tebal mah sudah jadi makanan sehari-hari.

Namun anehnya saya menikmati masa-masa singkat tersebut loh, nggak pernah ngeluh karena harus dandan, biasa saja. Mungkin karena semua orang dikantor pun melakukan hal yang sama, bahkan kita diharuskan saling mengingatkan sesama teman untuk dandanan dan penampilan kita jadinya malah aneh kalau kita tidak dandan dan bisa kena tegur sama atasan kita. Yang saya keluhkan adalah setelah pulang kerumah, sudah lelah pengen buru-buru istirahat namun masih harus bersih-bersih muka dari make up yang ekstra. Sementara kalau nggak full make up, cukup cuci muka dengan facial wash langsung kinclong mukanya.

Jadi kalau saya pikir-pikir lagi kebiasaan dandan dan memperhatikan penampilan ini juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar kita, kalau kebetulan kita berada di kantor yang tidak concern sama kedua hal tersebut. Teman-teman yang tidak berdandan dikantor ini karena sudah menjadi kebiasaan,  jadi menularkan ke yang lain, untuk kebiasaan yang sama, membiasakan dikantor tanpa dandan atau rapi-rapi dengan penampilan hingga akhirnya kalau ada yang dandan full make up justru malah terlihat aneh.

Yang ada Malah bisa jadi bahan ledekan atau mungkin jadi pertanyaan diantara temen kerja, kok tumben dandan ? Kok rapi amat, ada interview yah ?. Padahal full make up ini bukan yang seperti mbak BA di counter kosmetik, tapi full make up yang seperti mbak teller atau cs bank (semoga yang baca ngerti maksud saya). Jadinya terbalik mereka yang nggak perduli, yang cuek dengan dandanan dan tampilan malah seperti di maklumi, padahal berantakan dari datang kekantor sampai pulang.

Saya nemuin alasan lainnya, kantor lama dan kantor baru ini bidangnya sama, bukan kantor yang bergerak dibidang dimana pekerja bisa cuek dengan dandanan atau berpenampilan santai, seperti penyiar radio atau pekerja industri kreatif lainnya. Namun mungkin karena ini adalah kantor yang dimana, kita tidak bertemu dengan customer, seperti kantor sebelumnya. Disini paling sering saya meeting dengan teman-teman sendiri atau paling kadang-kadang saja harus bertemu dan meeting dengan rekan kerja dari kantor lain, sehingga rapi penampilan yang kadang-kadang saja sudah cukup juga tidak perlu make up apalagi full make up. Intinya kita tidak bertemu dengan orang-orang yang harus kita buat terkesan dengan tampilan luar kita.

Buat saya pribadi sih, dandan selama berada dikantor itu bukan hanya untuk mempercantik diri, penampilan rapi bukan hanya untuk menjaga citra diri. Namun lebih dari itu, bila kita kerja di perusahaan kita akan mempresentasikan kantor kita secara tidak langsung kepada orang-orang diluar kantor, kita yang akan membuat orang-orang tersebut memberi nilai positif bagi kantor kita. Apakah mungkin orang akan percaya kalau kantor kita adalah kantor besar yang berpengaruh di negeri ini kalau melihat karyawannya saja sudah tidak meyakinkan hal tersebut.

Butuh waktu sih memang untuk merubah diri kita yang tidak biasa dengan dandan dan rapi penampilan, namun pasti bisa kok kalau kita mau merubah cara berpikir kita untuk hal tersebut. Kan dandan cantik dan rapi penampilan bisa kita dapat dari teman kita yang bisa kita jadikan contoh, minta sarannya, minta ajarin dandannya.

Setidaknya kalau kita dandan dan tampil rapi kan enak di lihat sama rekan kerja maupun bos kita, terus dandanan juga bisa jadi mood booster kalau lagi pusing sama kerjaan, ngaca-ngaca di meja kerja terus pake lipstik aja, cuma buat mengalihkan pikiran sementara dari kerjaan. Hahahaha.

Kalau kalian gimana ? yang ke kantor suka bermake up atau nggak ? Yang kantornya rempong sama dandanan dan tampilan atau yang woles aja ? ...  let met know yaaa




loph,
Maya Rumi

Awal bulan ini, saya bersama adik-adik dan ibu mengajak Zaidan ke IKEA buat jalan-jalan dan jajan saja, Kok nggak belanja ? karena buat saya tidak memungkinkan pilih-pilih belanjaan bareng sama anak 3 tahun yang lagi demen banget jalan, lari-larian kemana-mana dan lompat-lompat dimanapun. Walau saat itu saya datang ramai-ramai, tapi kalau nggak sama ayahnya, kewalahan saya menjaga Zaidan sambil belanja.

Dari pada stress kalau nggak bisa pilih-pilih barang yang mau di beli di tambah zaidan nggak sabar nungguin bundanya yang kalau belanja suka galau kan mendingan nikmatin suasananya saja, santai keliling-keliling sambil lihat-lihat terus pas lapar tinggal melipir makan-makan di restoran yang isinya makanan berat di lantai 2 atau bistro yang banyak jajanan di lantai 1 yang menurut saya makanannya enak-enak banget dan murah-murah harganya. Perpect combination.

Saat kita sampai sudah lewat jam makan siang, jadi kita pikir lebih baik makan dulu baru keliling untuk jalan-jalan. Tepat juga ternyata datangnya setelah jam makan siang, nggak susah cari tempat duduknya karena ada 2 anak kecil dan 1 bayi, pas banget kita datang langsung dapat meja dan kursi yang cukup plus dapat baby chair. Eh ternyata pas ke tempat makanan masih antri panjang, mulai dari order makanan sampai ke bayar makanan di kasirnya juga harus antri. Untuk hari ini saja demi makan enak dan murah butuh waktu 20 menit mengantri tapi perut saya masih bisa toleransi. Jadi kalau ke IKEA jangan dalam keadaan perut kosong dan lapar akut, bisa semaput nanti gara-gara ngantri, hehehe. 

Kita pesen banyak banget, dan nggak mau menu yang sama, jadi tiap orang harus beda, biar bisa saling nyobain makanannya. Di restoran semua pilihan makanannya western food, seperti Fish & Chips (35 ribu), Salmon Panggang dengan Nasi Goreng (65 ribu), Ayam Panggang dengan kentang Tumbuk (35 ribu),  ada juga menu spesial negara Swedia asalnya IKEA, yaitu Bola Daging dengan Kentang Tumbuk (40 ribu). Hanya ada satu makanan khas Indonesia, yaitu Ayam Bakar Taliwang dengan Nasih Putih (35 ribu). Oiya ada menu anak-anak juga yaitu : Bola daging dengan kentang tumbuk yang sama dengan porsi dewasa hanya dikurangi saja bola dagingnya hanya setengah dari 8, lalu ada ayam goreng tepung dengan kentang goreng dan spaghetti saos tomat, menu anak-anak tersebut semua harganya 20 ribu. Untuk minuman Kopi dan soft drink bisa refill, tinggal ambil gelasnya saja di kasir setelah membayar. Tersedia juga desert aneka buah dan salad, dan hari itu  pesanan makanan kita sebanyak itu cuma habis 300 ribu-an, susah percaya.

makanan IKEA

jajanan IKEA

makanan IKEA
Perut kenyang hati senang, mari kita jalan-jalan keliling showroom yang banyak berisi display barang yang didesain seperti dirumah yang bikin gemes pengen borong. Enaknya di IKEA barang-barang yang di display tidak hanya boleh di lihat saja, tapi boleh di pegang dan di cobain juga. Misal tempat tidur, ya kita boleh cobain buat tidur-tiduran tapi jangan lompat-lompat di atas tempat tidurnya yah.




Setelah dua jam keliling baru deh saya merasa lelah sekali, karena harus ngikutin dan jagain Zaidan yang nggak bisa diam. Dia semangat dan penasaran banget, semua barang yang bisa dia pegang pengen di pegang, dicoba-cobain deh terus ditanyain namanya apa. Sudahlah capek ngikutin dia, capek jawab pertanyaannya.

Tapi... hati senang deh kalau dari IKEA walau kaki pegel banget terobati dengan ice cream 4 ribu perak yang enakkk banget terus jangan lupa beli jajanan enak depan kasir di lantai satu untuk di makan saat perjalanan pulang seperti cheese hot dog (10 ribu), egg tart (7 ribu) dan aneka kue (5 ribu).

Siapa disini yang juga suka jalan-jalan dan jajan di IKEA, tapi nggak belanja ? kalau belum pernah yuk akh cobain jalan-jalan dan jajan di IKEA, tenang saja lama-lama disana pun nggak akan masalah sama parkiran, luas dan gratis tis tis... 

IKEA Alam Sutera
Jl. Jalur Sutera Boulevard Kav 45
Kuncirang, Pinang, Kota Tangerang
Banten Indonesia
Jam Buka :
Weekday (10.00 - 22.00)
Weekend (09.00 - 23.00)
http://www.ikea.com/id/in



loph,
Maya Rumi

cfd jakarta

Setelah lama sekali absen datang ke Car Free Day (CFD) Sudirman-Thamrin. Akhirnya kemarin minggu saya sekeluarga olahraga dan jalan-jalan lagi menikmati pagi Jakarta disana. Seingat saya untuk tahun 2017 ini pertama kalinya deh kami datang ke CFD, mungkin karena sudah terlalu lama nggak kesana yah, banyak sekali perubahan yang terjadi yang saya lihat dan temui.

Pertama, harga parkir mobil-nya bikin kesel. Biasaya suami saya akan memarkir mobil dipinggir jalan depan Grand Indonesia, yang disamping sungai ituloh. kemarin pun begitu. Namun begitu melihat tiket parkir yang nopolnya di tulis tangan sama tukang parkirnya yang kebetulan ibu-ibu bukan bapak-bapak itu saya kaget. 

Kita di suruh bayar 20 ribu. Saya nggak tanya sih itu untuk berapa lama. Sudah kesel duluan, Lah parkir resmi saja hanya 4 ribu per jam dan di CFD paling lama banget juga sekitar 3 jam. Jadi kalau di hitung-hitung paling habis 12 ribu untuk parkir. Nggak mau saya parkir disitu, saya minta ke suami untuk pindah parkir, mending parkir di Sarinah saja, parkir resmi, lebih murah, mobil pun aman. Ibu tukang parkirnya marah-marah, bodo amat deh, Lagian harga parkir liarnya ngegetok banget sih, bikin saya nggak ikhlas bayarnya.

Kalau parkir di dalam Mall Grand Indonesia, lebih jauh jalan keluarnya dari mall, lagian saya bawa sepeda, kalau parkir di Sarinah, lebih dekat ke jalur CFD dan mudah aksesnya. Jadi lebih baik puter balik buat parkir di Sarinah.

cfd jakarta

Kedua, Kemarin itu saya mau bersepeda dengan membonceng zaidan sementara suami mau lari. Dulu itu ada jalur pemisah antara yang bersepeda dan yang mau lari. Saya lupa sih yang bersepeda di sebelah kanan apa kiri. Pokoknya dulu itu rapi. Jalur sepeda isinya mereka yang naik sepeda, pakai rollerblade atau yang pakai skateboard sementara di jalur lari yah isinya mereka yang lari ataupun jalan santai.

Sekarang pemisah itu cuma simbol doang, acak-acakan banget kalau menurut saya. Belum lagi ada yang melawan arah. padahal kan ada jalurnya masing-masing dan setiap jalur itu luas banget loh. Saya yang bonceng zaidan harus sering-sering membunyikan bel sepeda agar orang-orang minggir dan kasih kita jalan, ini yang terjadi malah berhenti melulu karena terhalang jalannya. Banyak yang naik sepeda itu masuk jalur busway biar lebih lancar goes sepedanya, tapi saya nggak berani apalagi bawa zaidan, busway gede banget kan dan jalurnya itu pas-pasan, cuma ada tersisa celah sedikit saja. Kalau kebetulan lewat buswaynya dan bersisian dengan kita, otomatis kita akan terpepet, kalau nggak mau terpepet yah kita harus naikin sepeda ke atas taman yang ada di sebelah kanan kita. Ribet dan nggak aman.

Buat yang belum tahu, selama CFD di Jakarta berlangsung dari jam 6 sampai 11 pagi, di sepanjang jalan Senayan-Sudirman-Thamrin dan berakhir di Monas jalanan tersebut di tutup untuk kendaraan umum maupun pribadi roda empat dan dua. Hanya Busway yang tetap beroperasi karena mempunyai jalur sendiri dan dapat membantu masyarakat menuju ke CFD.

Ketiga, Ini yang paling parah kalau menurut saya, CFD sudah macam pasar tumpah. Lebih banyak orang yang datang untuk jalan, jajan dan belanja daripada orang yang mau olahraga, hal tersebut juga terlihat dari pakaian mereka. Kemarin saya goes sepeda dari depan Starbucks Sarinah sampai Patung Sudirman, sejauh mata memandang di pinggir kanan dan kiri pasti ada yang jualan. Jualannya macam-macamlah. Kalau dulu sih paling banyak yang jualan itu yang di Bundaran HI sama depan sarinah. Itupun lebih banyak yang jualan makanan dan minuman.

cfd jakarta

Keempat, ini saya nggak tahu kenapa bisa terjadi yah, Banyak banget yang jualan dadakan, bukan yang jualan diam di satu tempat, tapi mereka jualan sambil jalan-jalan seperti pedagang asongan, namun kebanyakan yang jualan adalah remaja, mungkin anak sma dan kuliahan. Mereka umumnya jualan air minum kemasan dan makanan. Kreatif sih, ada Jiwa enterpreneur-nya tapi buat saya ini tempat olahraga loh, bukan tempat jualan. Lebih baik sih kita olahraga saja disini bukan untuk jualan.

Empat hal itu saja sih yang kemarin buat saya ganggu banget di CFD yang sekarang, ada yang merasakan hal yang serupa juga gak sih ?! Saya sih pengennya lari atau main sepeda lagi di Stadion GBK tapi saat ini lagi renovasi untuk menyambut SEA GAMES, jadi GBK di tutup untuk umum. Sekarang saya hanya bisa berharap CFD bisa kembali sesuai dengan fungsinya. Mungkin nggak yah ?! 

cfd jakarta





loph,
Maya Rumi


Pertama kali saya nonton film India itu waktu SMA, ikut-ikutan nonton karena ajakan teman segank. Kuch Kuch Hota Hai judul filmnya, pasti sudah pada tahulah film box office ini, ternyata saya suka jadilah setelah itu berlanjut dengan film-film india lainnya.Yang saya tonton saat itu hanya film india dengan genre romance, jadi pengetahuan saya akan aktris dan aktor india pun terbatas, lebih banyak yang saya nggak tahu lebih tepatnya. Setelah lulus sekolah, saya nggak pernah lagi nonton film india, nggak ada yang mempengaruhi dilingkungan pertemanan saya.

Sampai akhirnya menikah mulailah saya nonton film india lagi. Ketularan sama suami, walau begitu film india yang saya tonton bukan lagi genre romance yah karena suami nggak suka sama film tema cinta-cintaan. Awalnya saya nggak tertarik sih sama film-film india yang dia tonton, bukan genre favorit saya, walaupun ada cerita percintaannya paling hanya sebagai bumbu saja. Sebenarnya mungkin karena dia lebih penasaran sama rating filmnya yang menurut reviewers itu bagus, jadi menurut saya nggak serulah pasti film indianya, walaupun tetap ada nari-nari dan nyanyi-nyanyi.

Ternyata saya salah besar.

Seperti yang terjadi semalam, suami saya ngajakin lagi nonton film india. Judulnya : Hindi Medium. Pas saya lihat yang main, nggak ada yang saya tahu, mulai malas saya nontonnya, tambah lagi durasi filmnya, Biasa yah film india itu durasinya 2 jam lebih.

Tapi yah saya tonton juga... penasaran !! 

Saat saya menonton, saya sampai nanya berkali-kali "ini beneran terjadi di India ?" Kok kayanya lebih mungkin terjadi di Indonesia deh ?!.

Suami saya hanya senyum-senyum saja, tak memberi komentar.

Jadi film ini bercerita tentang carut marutnya pendidikan yang terjadi di India. Adalah meeta, istri dari Raj Batra yang seorang pengusaha di chandi chowk yang menginginkan anaknya bersekolah di sekolah swasta favorite. Sebagai orang kaya namun kurang pendidikan, istrinya berambisi agar anaknya bisa diterima di sekolah tersebut, karena dengan begitu akan mempengaruhi lingkungan bergaul mereka juga.

Ternyata untuk menyekolahkan anak di sekolah favorit susahnya bukan main. Banyak persyaratan dan prosedur yang harus di penuhi dan di ikuti. Sekolah favoritnya ini bukan untuk anak sd, smp atau sma yah, ini baru sekolah anak tk. Saking susahnya orang tua harus ikut kelas konseling. Konselingnya pun macam-macam, nggak terpikir sama saya akan seperti itu, mungkin juga bagian ini di dramatisir sih, tapi saya suka bagian ini.



Akhirnya setelah berbagai usaha untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah favorit itu mengalami kegagalan dipakailah cara curang dengan berpura-pura menjadi miskin, sehingga mereka bisa mendapat kuota pendidikan yang diberikan pemerintah sebesar 25% untuk keluarga kurang mampu. Demi mendapat sekolah itupun mereka rela bukan hanya menjadi orang miskin tapi mereka mau bersusah payah dengan tinggal di daerah kumuh selama satu bulan, meninggalkan kehidupan mewahnya hanya untuk pembuktian ke pihak sekolah yang akan melakukan interview, bila mereka benar-benar orang miskin dan berhak mendapatkan kuota untuk anaknya dan masuk ke sekolah tersebut.

Ketika menjalani kehidupan sebagai keluarga miskin itulah mereka tahu sebenarnya seperti apa kehidupan rakyat jelata itu. Tempat tinggal yang tidak memadai, fasilitas umum yang terbatas, bantuan pemerintah yang tidak mencukupi, dll, dsb, dst. Intinya hidup miskin membuka mata mereka dan  mendapatkan pelajaran sekaligus pengalaman dari sana. Usaha mereka membuahkan hasil, anak mereka di terima bersekolah di salah satu sekolah favorit, namun tetangga mereka yang telah menjadi teman yang selama ini berjuang bersama mereka tak mendapatkan haknya.



Raj Batra kecewa, namun tak bisa berbuat apa-apa karena tidak ingin menyakiti istrinya. Untuk membayar rasa bersalahnya mereka pun memberikan donasi bagi sekolah negri tempat anak teman mereka yang gagal bersekolah di sekolah favorit. Hingga akhirnya rahasia mereka terkuak oleh temannya tersebut, namun temannya berbaik hati tidak melaporkan yang terjadi ke kepala sekolah. Dari situlah Raj Batra sadar, bila temannya sudah terlalu banyak membantu mereka dan kali ini ia ingin membalasnya lebih dari sebelumnya, yaitu mengakui perbuatan curang mereka, walau hal tersebut bertentangan dengan keingian sang istri.Tak disangka yang terjadi malah tidak sesuai harapannya, sekolah malah membeberkan bila yang ia lakukan tak akan mengubah apapun yang sudah terjadi.

Film ini rekomendasi tonton buat orang tua kalau menurut saya karena bagus banget, walaupun titik beratnya adalah tentang pendidikan namun terselip juga cerita dan pesan moral tentang hubungan suami-istri dan keluarga, yang sesuai dengan realita sekarang. Film ini juga mengkritik pemerintah India yang sepertinya lebih pro dengan dunia barat, karena diceritakan orang India yang kaya malu bila harus menggunakan bahasa hindi sebagia bahasa keseharian mereka. Situasi tersebut 11/12 dengan yang terjadi di Indonesia.

Buat yang bukan fans film India, pesan saya film ini juga sangat menghibur sesuai dengan genre-nya, jadi jangan menolak dulu kalau di ajak nonton, banyak kelucuan dan juga kebodohan yang membuat kita nggak akan bosan menontonnya walau durasinya sangat panjang tapi alurnya sangat cepat, pokoknya nggak akan nyesel deh nontonnya. Oiya saran saya sih kalau bisa nonton juga bareng suami. 

Selamat menonton.

Genre : Drama Comedy
Actor : Irrfan Khan, Saba Qamar, Amrita Singh
Director : Saket Chaudhary
IMDB Rating : 7/10




loph,
Maya Rumi