Inspirasi Kebaya Untuk Hijabers

Agustus 09, 2018



Saya tuh suka banget pakai kebaya dan kain. Namun kalau di Jakarta mengenakan kebaya dan kain bukan menjadi pakaian yang sering dikenakan.

Umumnya perempuan di Jakarta memakai kebaya itu hanya bila ada acara tertentu saja, seperti untuk acara pernikahan atau yah paling seringnya sih pakai kebaya untuk datang ke kondangan atau wisudaan.

Kecuali kita bekerja sebagai pns di Jakarta, para pns ini setiap hari jumat ada keharusan pakai kebaya encim dan kain, tapi saya kan bukan pns juga.

Makanya saya tuh selalu iri deh sama teman-teman perempuan di Bali yang sering banget pakai kebaya. Mereka tuh sering banget pakai kebaya karena banyaknya upacara adat di sana, salah seorang teman akrab saya di bali bahkan punya koleksi kebaya yang lumayan banyak.

Sudah beberapa kali saya ke Bali dan bertepatan dengan upacara adat yang mengharuskan masyarakatnya sembahyang dan menggunakan kebaya.

Untuk mereka berkebaya itu nggak harus ketika datang kondangan atau wisudaan saja tapi untuk sembahyang bahkan untuk bekerja juga, karena biasanya setelah selesai sembahyang di pagi hari mereka tetap ke kantor dengan berkebaya.

Jadi jangan kaget yah ketika kalian datang untuk liburan di Bali bukan saat acara agustusan atau kartinian, banyak perempuan Bali yang berkebaya lengkap dengan kainnya. 

Malam minggu lalu saya bisa pakai kebaya lagi, senangnya bukan kepalang lah... hahaha, seingat saya terakhir berkebaya itu di akhir tahun 2016 deh, dan sebelumnya lagi terakhir berkebaya adalah ketika nikah di tahun 2011. Lama banget kan jedanya, sampai beberapa tahun.

Bisa berkebaya kali ini, karena ada teman kantor yang menggelar resepsi pernikahan di sebuah gedung di daerah Jakarta Pusat. Jadi saya sudah persiapan deh buat beli kebaya, iya saya beli baju kebaya cuma buat kondangan yang nggak sampai dua jam itu. Niat sekali lah pokoknya.

Katanya suka pakai kebaya tapi kok absen pakenya lama bener ?

Setelah saya pikir-pikir dan ingat-ingat lagi, baru deh saya ngeh, saya bukannya nggak ingin pakai kebaya apalagi bila ada acara kondangan, namun lebih kepada alasan saya nggak bisa lagi pakai kebaya setelah berhijab karena setelah saya berhijab saya menemukan kesulitan memilih model kebaya yang tepat.

Pilihan Kebaya yang tepat untuk saya adalah : 
1. Tidak tipis, menerawang atau transparan
2. Tidak ketat dibadan dan di bokong
3. Tangan Panjang
4. Panjang kebaya sebetis
5. Tidak ada tambahan penggunaan manset dibagian badan dan tangan.

Dahulu sebelum berhijab cari kebaya mah gampang banget di Tanah Abang Blok A, Mau beli bahan atau beli kebaya jadi bisa langsung ke lantai paling bawah yang dikenal dengan Basement 2 (B2), satu lantai itu memang dikhususkan untuk penjualan bahan tekstil tidak hanya untuk pakaian seperti kebaya tetapi juga untuk bahan untuk sprei, hijab dan lain sebagainya.

Jadi kita yang bingung mau cari bahan untuk kebaya dijamin..... makin bingung karena terlalu banyak pilihan, hahaha. Berbagai motif dari bahan yang sering dijadikan untuk kebaya seperti brokat, organza dan tule banyak tersedia, warnanya pun banyak pilihan. Yang paling penting untuk di ingat adalah jangan datang ke pasar Tanah Abang di hari minggu dimana pada hari tersebut banyak toko yang tutup jadi pilihannya pun berkurang.

Kalau nggak mau repot membawa ke penjahit, mau murah dan waktunya mepet membeli kebaya yang sudah jadi adalah pilihan yang paling tepat. Berdasarkan pengalaman untuk menjahit satu set kebaya dengan kain paling tidak butuh waktu seminggu sampai dua minggu, setidaknya bila membeli kebaya jadi yang ukurannya tidak pas, waktu untuk mengecilkan tidak selama menjahit.

3 Hal yang menyulitkan Hijaber membeli kebaya jadi, adalah :

1. Penggunaan puring terbatas
Karena biasanya kebaya yang dijual itu dari bahan brukat, tule atau organza dengan tambahan lapisan puring, namun puring pada kebaya ini lebih banyak hanya di bagian badan saja, dari bagian dada hingga perut sementara di bagian lengan atau tangan tidak ada puringnya.

2. Ukuran badan tidak pas
Ukuran kebaya-nya yang hanya ada 2 pilihan, kalau tidak pas badan atau lekat di tubuh yah ukuran kebayanya besar sekali karena ukuran all size. Namun lebih banyaknya kebaya jadi yang dijual itu ukurannya besar, jadi mau tidak mau kita harus ke penjahit lagi untuk mengepaskan dengan ukuran badan kita.

3. Panjang kebaya kurang sesuai
Masih soal ukuran, kebanyakan panjang kebaya itu hanya sampai menutupi bokong saja, sementara saya lebih senang yang kebaya panjang hingga ke betis.

4. Pilihan panjang bagian tangan tidak cocok
Dan yang terakhir adalah panjang tangan kebaya lebih banyak yang saya temui panjangnya itu 7/8 atau 3/4. Nah kalau begitu kan harus pakai manset, kebetulan saya tipe hijaber yang nggak suka pakai manset.



Kebaya yang saya pakai ini beli sudah jadi, baru ditemukan setelah berkeliling hampir sejam di pasar Tanah Abang Blok A, karena seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, pembelian kebaya harus sesuai dengan persyaratan yang telah saya jabarkan sebelumnya.

Kebaya berwarna biru elektrik dengan model kutu baru ini dibuat dari bahan balotelli yang di bagian pinggir dan tengahnya di jahitkan potongan brukat dengan warna serupa. Saya benar-benar tidak menyangka akan ada kebaya dengan bahan balotelli.

Umumnya bahan balotelli di gunakan untuk bahan pembuatan gamis, bahkan ini menjadi bahan favorit untuk pembuatan gamis. Bahan balotelli ini tidak transparan namun juga tidak terlalu tebal tapi ringan dan adem saat digunakan dengan ciri khas yang mudah sekali dikenali adalah adanya tekstur kotak-kotak kecil yang membentuk garis, memiliki sedikit efek kilau dan tidak membentuk tubuh si pengguna.

Untuk kainnya saya mengenakan motif parang dengan warna biru dongker perpaduan dengan putih, kain ini bukan dari bahan katun yah tapi bahan paris, tekstur lebih lembut dan jatuh, tidak mudah kusut dan mudah saat disetrika (cepat licin). Kain ini saya kenakan hanya dengan lilit saja dengan model draperi, jadi kainnya tidak saya jahit lagi untuk dibuat menjadi rok, sehingga ketika kain di lilit hasil akhirnya lebih cantik kalau menurut saya.

Sebenarnya saya nggak pandai sih melilit kain menjadi rok, tapi saya bisa, cuma karena jarang sekali penggunaanya jadi suka lupa, untuk itu biasanya sebelum hari H saya beberapa kali mencoba pakai agar tahu harus dililit seperti apa. Bisa juga sih mencari referensi lilit kain untuk menjadi rok di youtube.

Namun saran saya sih sebaiknya kain itu dijahit untuk dibuat rok, selain mudah dikenakan juga menghemat waktu pemakaian, tidak perlu berulang kali coba dan pastinya tidak khawatir dengan ikatan yang mungkin lepas.

Tips 5 langkah mudah melilit kain bentuk draperi :

1. Kain di bentangkan di pinggang, salah satu sisinya (kanan atau kiri) di tarik lebih panjang.
2. Sisi kain yang lebih panjang di lilit ke bagian belakang, di bagian ujung atas harus di usahakan bisa ditarik sampai depan, kita bisa menyesuaikan dengan tarik lalu ulur dengan kaki kanan dilangkahkan ke depan sampai kita rasa pas, ini adalah bagian yang paling penting diperhatikan agar kain kebaya tidak kabet/ketat hingga membuat kita kesulitan melangkah.
3. Sisi kain yang lebih pendek di serut membentuk draperi.
4. Serutan kain ini lalu di kaitkan dengan ujung dari kain yang lebih panjang
5. Kecangkan ikatan atau bisa juga menggunakan sabuk dan rapikan kain agar tidak terlihat menggembung di bagian perut

Sementara untuk hijab saya memakai hijab berukuran 140cm x 140cm, berwarna biru serupa dengan bajunya, berbahan katun voal merk umama type syar'i, untuk hijab ini saya tidak membuat model apapun yah, hanya menyematkan bros kecil saja berwarna biru juga dibagian pundak.

Buat saya pribadi sebagai perempuan bisa berkebaya adalah salah satu bentuk menunjukkan nasionalisme, karena budaya Indonesia memang lekat sekali dengan kebaya. Namun dengan pilihan berhijab saat ini saya tidak ingin menjadikan hal tersebut membatasi atau menyulitkan, toh ternyata akhirnya saya tetap bisa berkebaya sesuai dengan keinginan.

Baiklah saya cukupkan cerita ini semoga cerita kebaya untuk hijaber dari saya bisa membantu teman-teman yang berhijab dalam mencari inspirasi model kebaya, dapat menjadi referensi untuk mengenakan kebaya lagi walau sudah berhijab dan dapat tampil cantik serta anggun namun tidak mengurangi tampilan berhijab kita.

Untuk teman-teman hijaber yang suka atau ingin pakai kebaya dan menemui kesulitan yang serupa dengan saya, saya tunggu komentarnya yah... 





loph,
Maya Rumi 

You Might Also Like

8 comments

  1. Saya paling suka dengan baju yang panjang, kalaupun pendek kesayangan paling pakai rok

    BalasHapus
  2. Aku lumayan sering pakai kebaya karena keponakan banyak & satu per satu menikah. Otomatis jadi panitia. Biasanya kami beli kain seragam & dijahitkan karena seperti ulasan diatas, kebaya jadi yang di pasaran banyak yang tidak sesuai untuk muslimah berhijab.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuah enak banget sih mbak lusi, mungkin krn org jogja yah setiap ada acara masih yg hrs pakai kebaya. Kl aq krn keluarga sebagian betawi asli jd gak selalu pakai kebaya kl ada yg menikah, paling pakd seragamnya batik

      Hapus
  3. naini, kebanyakan kebaya itu ngga cocok sama bentuk tubuh aku hahahaha kecuali kebaya2 longgar kayak encim or modifikasi kebaya lainnya. Paling pusing kalau dapet baju seragam buat dibikin kebaya pas kawinan, selain jaitnya mahal, trus ntar bajunya ngga bakal dipake buat acara lain lagi hahahah XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah aq juga paling gak suka mbak dapat bahan atau kebaya buat datang ke kawinan, better gak pake seragaman deh, gak cocokk... hihihi dan abis itu gak dipake lagi.. bener banget itu

      Hapus
  4. Aih, aku suka kebaya dan kain batiknya. Bagus! Yes, kalau berjilbab emang harus perhatiin banget potongan kebayanya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes erny, selalu ada yg hrs di pertimbangakan kl pake hijab tp ingin pake kebaya

      Hapus

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik

community