Movie Review : Hindi Medium

November 06, 2017



Pertama kali saya nonton film India itu waktu SMA, ikut-ikutan nonton karena ajakan teman segank. Kuch Kuch Hota Hai judul filmnya, pasti sudah pada tahulah film box office ini, ternyata saya suka jadilah setelah itu berlanjut dengan film-film india lainnya.Yang saya tonton saat itu hanya film india dengan genre romance, jadi pengetahuan saya akan aktris dan aktor india pun terbatas, lebih banyak yang saya nggak tahu lebih tepatnya. Setelah lulus sekolah, saya nggak pernah lagi nonton film india, nggak ada yang mempengaruhi dilingkungan pertemanan saya.

Sampai akhirnya menikah mulailah saya nonton film india lagi. Ketularan sama suami, walau begitu film india yang saya tonton bukan lagi genre romance yah karena suami nggak suka sama film tema cinta-cintaan. Awalnya saya nggak tertarik sih sama film-film india yang dia tonton, bukan genre favorit saya, walaupun ada cerita percintaannya paling hanya sebagai bumbu saja. Sebenarnya mungkin karena dia lebih penasaran sama rating filmnya yang menurut reviewers itu bagus, jadi menurut saya nggak serulah pasti film indianya, walaupun tetap ada nari-nari dan nyanyi-nyanyi.

Ternyata saya salah besar.

Seperti yang terjadi semalam, suami saya ngajakin lagi nonton film india. Judulnya : Hindi Medium. Pas saya lihat yang main, nggak ada yang saya tahu, mulai malas saya nontonnya, tambah lagi durasi filmnya, Biasa yah film india itu durasinya 2 jam lebih.

Tapi yah saya tonton juga... penasaran !! 

Saat saya menonton, saya sampai nanya berkali-kali "ini beneran terjadi di India ?" Kok kayanya lebih mungkin terjadi di Indonesia deh ?!.

Suami saya hanya senyum-senyum saja, tak memberi komentar.

Jadi film ini bercerita tentang carut marutnya pendidikan yang terjadi di India. Adalah meeta, istri dari Raj Batra yang seorang pengusaha di chandi chowk yang menginginkan anaknya bersekolah di sekolah swasta favorite. Sebagai orang kaya namun kurang pendidikan, istrinya berambisi agar anaknya bisa diterima di sekolah tersebut, karena dengan begitu akan mempengaruhi lingkungan bergaul mereka juga.

Ternyata untuk menyekolahkan anak di sekolah favorit susahnya bukan main. Banyak persyaratan dan prosedur yang harus di penuhi dan di ikuti. Sekolah favoritnya ini bukan untuk anak sd, smp atau sma yah, ini baru sekolah anak tk. Saking susahnya orang tua harus ikut kelas konseling. Konselingnya pun macam-macam, nggak terpikir sama saya akan seperti itu, mungkin juga bagian ini di dramatisir sih, tapi saya suka bagian ini.



Akhirnya setelah berbagai usaha untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah favorit itu mengalami kegagalan dipakailah cara curang dengan berpura-pura menjadi miskin, sehingga mereka bisa mendapat kuota pendidikan yang diberikan pemerintah sebesar 25% untuk keluarga kurang mampu. Demi mendapat sekolah itupun mereka rela bukan hanya menjadi orang miskin tapi mereka mau bersusah payah dengan tinggal di daerah kumuh selama satu bulan, meninggalkan kehidupan mewahnya hanya untuk pembuktian ke pihak sekolah yang akan melakukan interview, bila mereka benar-benar orang miskin dan berhak mendapatkan kuota untuk anaknya dan masuk ke sekolah tersebut.

Ketika menjalani kehidupan sebagai keluarga miskin itulah mereka tahu sebenarnya seperti apa kehidupan rakyat jelata itu. Tempat tinggal yang tidak memadai, fasilitas umum yang terbatas, bantuan pemerintah yang tidak mencukupi, dll, dsb, dst. Intinya hidup miskin membuka mata mereka dan  mendapatkan pelajaran sekaligus pengalaman dari sana. Usaha mereka membuahkan hasil, anak mereka di terima bersekolah di salah satu sekolah favorit, namun tetangga mereka yang telah menjadi teman yang selama ini berjuang bersama mereka tak mendapatkan haknya.



Raj Batra kecewa, namun tak bisa berbuat apa-apa karena tidak ingin menyakiti istrinya. Untuk membayar rasa bersalahnya mereka pun memberikan donasi bagi sekolah negri tempat anak teman mereka yang gagal bersekolah di sekolah favorit. Hingga akhirnya rahasia mereka terkuak oleh temannya tersebut, namun temannya berbaik hati tidak melaporkan yang terjadi ke kepala sekolah. Dari situlah Raj Batra sadar, bila temannya sudah terlalu banyak membantu mereka dan kali ini ia ingin membalasnya lebih dari sebelumnya, yaitu mengakui perbuatan curang mereka, walau hal tersebut bertentangan dengan keingian sang istri.Tak disangka yang terjadi malah tidak sesuai harapannya, sekolah malah membeberkan bila yang ia lakukan tak akan mengubah apapun yang sudah terjadi.

Film ini rekomendasi tonton buat orang tua kalau menurut saya karena bagus banget, walaupun titik beratnya adalah tentang pendidikan namun terselip juga cerita dan pesan moral tentang hubungan suami-istri dan keluarga, yang sesuai dengan realita sekarang. Film ini juga mengkritik pemerintah India yang sepertinya lebih pro dengan dunia barat, karena diceritakan orang India yang kaya malu bila harus menggunakan bahasa hindi sebagia bahasa keseharian mereka. Situasi tersebut 11/12 dengan yang terjadi di Indonesia.

Buat yang bukan fans film India, pesan saya film ini juga sangat menghibur sesuai dengan genre-nya, jadi jangan menolak dulu kalau di ajak nonton, banyak kelucuan dan juga kebodohan yang membuat kita nggak akan bosan menontonnya walau durasinya sangat panjang tapi alurnya sangat cepat, pokoknya nggak akan nyesel deh nontonnya. Oiya saran saya sih kalau bisa nonton juga bareng suami. 

Selamat menonton.

Genre : Drama Comedy
Actor : Irrfan Khan, Saba Qamar, Amrita Singh
Director : Saket Chaudhary
IMDB Rating : 7/10




loph,
Maya Rumi

You Might Also Like

4 comments

  1. India kyknya sistem pendidikan lebih parah dr kita mbak, bukan hanya soal transportasinya yang buruk. Saya prnh edit berita, jd di india ada sejenis ujian akhir gitu di salah satu kota di India ( nama kotanya ) jd ada kebiasaan setiap ujian orang tua nya ksh contekan ke anak dr luar ruangan. Caranya unik ada yg pura2 lempar kertas sampai ksih liat kertas jawaban. Eh tapi keliatannya disana udh biasa aja tuh. Parah yaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. aq baru tahu mbak kalau separah itu untuk sistem pendidikannya. di film sih memang di perlihatkan bedanya sekolah negri dan swasta yang bagaikan langit dan bumi. pantas lah yah, kalau di buat film seperti ini. thanks udah mampir mbak turis.

      Hapus
  2. kayaknya di India semua lbh parah dr Indonesia, karena memang mereka masih masuk kategori negara miskin. Jalan2 pun ku tak mau ke India hahaha, mending ke negara lain yg lebih nyaman deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. oiya mbak, aq pikir sudah jadi negera berkembang seperti indonesia. aq mau loh jalan2 ke india, tp kotanya aja, penasaran pengen lihat taj mahal aja sih.. xixixi

      Hapus

Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca postingan ini dan meninggalkan jejak komentar yang baik

part of